TEKNIK DAN CARA BUDIDAYA JAMUR TIRAM

Usaha budidaya jamur tiram seringkali mengalami kegagalan karena teknik dan cara budidaya yang kurang benar. Meskipun gampang, perlu diperhatikan faktor-faktor seperti lingkungan, kebersihan, serta konsistensi selama perawatan. Jika faktor-faktor tersebut tidak bisa dipenuhi dengan baik maka hasilnya pun kurang optimal bahkan besar kemungkinan berpotensi mendatangkan kegagalan budidaya.

JAMUR TIRAM

Jamur tiram putih berwarna putih agak krem dengan diameter tubuh 3-14 cm. Jamur ini memiliki miselium. Tubuh buah jamur inilah yang bernilai ekonomis tinggi serta menjadi tujuan dari budidaya. Teknik budidaya jamur tiram mulai dari persiapan hingga pasca panen sangat perlu diperhatikan agar pelaku usaha budidaya benar-benar memahami sehingga lebih menguasai dalam pemeliharaan maupun pengendalian hama jamur tiram.

PERSIAPAN PENANAMAN BUDIDAYA JAMUR TIRAM

Hal-hal yang menunjang budidaya jamur tiram harus diperhatikan sebelum melakukan penanaman. Persiapan matang membantu menciptakan suasana kondusif bagi pertumbuhan jamur tiram sehingga menunjang keberhasilan budidaya. Langkah-langkah yang harus dilakukan diantaranya membuat rumah kumbung baglog, rak baglog, menyediakan bibit, serta menyediakan peralatan budidaya. (Bisa Anda lihat di artikel Persiapan Usaha Budidaya Jamur Tiram).

Usahakan selama budidaya menggunakan bibit bersertifikat yang dapat dibeli dari petani lain atau dinas pertanian setempat. Peralatan budidaya untuk jamur tiram cukup sederhana, harga terjangkau, bahkan kita bisa memanfaatkan peralatan dapur.

Pada dataran rendah, modifikasi bahan media jamur tiram serta takarannya dapat mengoptimalkan hasil, caranya yakni mengurangi atau menambah takaran tiap-tiap bahan dari standar umumnya. Pada usaha budidaya skala kecil, perlu juga dilakukan eksperimen atau percobaan dalam menentukan takaran bahan media agar takarannya tepat. Hal ini perlu dilakukan mengingat jamur tiram yang dibudidayakan di lingkungan tumbuh yang berbeda tentu membutuhkan nutrisi maupun media yang berbeda pula tergantung kondisi lingkungan setempat. Hingga saat ini belum ada standar komposisi media untuk budidaya jamur tiram di dataran rendah, sehingga petani memodifikasi media serta lingkungan berdasarkan pengalaman dan kondisi masing-masing.

NUTRISI DAN MEDIA TANAM JAMUR TIRAM

Nutrisi sangat dibutuhkan oleh setiap makhluk hidup untuk melangsungkan setiap proses kehidupannya, tak terkecuali jamur tiram. Pada budidaya jamur tiram, jamur memperoleh nutrisi dari serbuk gergaji, dimana serbuk gergaji ini berfungsi sebagai media tempat tumbuh. Bahan serbuk gergaji yang baik dapat diperoleh dari bahan kayu keras karena serbuk gergaji kayu jenis tersebut sangat berpotensi dalam meningkatkan hasil panen. Dalam kayu keras mengandung selulose dalam jumlah banyak dimana solusose ini sangat dibutuhkan oleh jamur tiram. Beberapa jenis kayu keras yang bisa dimanfaatkan sebagai media tanam antara lain dari kayu sengon, kayu kampung, atau kayu mahoni. Serbuk gergaji sebagai media tumbuh jamur tiram dapat diperoleh dari tempat penggergajian kayu. Sebelum digunakan sebagai media, perlu dilakukan pengomposan terlebih dahulu pada serbuk gergaji agar dapat terurai menjadi senyawa yang lebih sederhana sehingga tersedia serta mudah dicerna oleh jamur tiram. Proses pengomposan serbuk gergaji kayu ini dapat dilakukan dengan cara menutup serbuk gergaji kayu menggunakan plastik atau terpal selama kurang lebih 1 sampai 2 hari. Jika terjadi kenaikan suhu sekitar 50°C berarti pengomposan telah berlangsung baik.

Media tanam jamur tiram sebenarnya tidak hanya berasal dari serbuk gergaji kayu saja, melainkan ada berbagai alternatif pilihan bahan sebagai pengganti serbuk kayu, antara lainnya dapat berasal dari berbagai macam ampas, seperti misalnya ampas kopi, ampas kertas, ampas tebu, atau ampas teh. Meskipun demikian, media yang baik untuk budidaya jamur tiram adalah serbuk gergaji kayu.

Selain serbuk gergaji kayu, media tempat tumbuh juga terdiri dari bekatul (dedak) halus, tepung jagung, kompos, kapur dan air. Media berupa dedak/bekatul dan tepung jagung berfungsi sebagai substrat serta penghasil kalori untuk pertumbuhan jamur. Pastikan bekatul atau dedak maupun tepung jagung masih baru agar media dalam keadaan steril. Penggunaan bahan media yang sudah lama dikhawatirkan pada bahan tersebut sudah terjadi fermentasi yang dapat berakibat tumbuhnya jenis jamur lain yang tidak dikehendaki (terkontaminasi). Substrat dedak/bekatul atau tepung jagung sebenarnya berfungsi sama sehingga jika bahan yang dibutuhkan sulit diperoleh dapat dipilih salah satunya saja. Berdasarkan hasil penelitian, penggunaan dedak maupun tepung jagung memberikan kualitas hasil jamur tiram yang sama karena kandungan nutrisi kedua bahan tersebut hampir sama. Akan tetapi penggunaan dedak dirasa lebih efisien. Penggunaan dedak (bekatul) dapat menekan biaya produksi, selain harganya lebih murah juga mudah didapat karena selama ini dedak masih banyak dimanfaatkan sebagai pakan ternak.

Pemberian kapur (CaCo3) pada media selain berfungsi untuk mengatur keasaman media tanam juga berfungsi sebagai sumber mineral. Keasaman yang sebabkan oleh miselium jamur ini dapat dinetralisir oleh kalsium dalam kapur, sehingga pemberian kapur pada media tanam sangat diperlukan untuk mengoptimalkan hasil panen. Adapun komposisi media semai jamur tiram terdiri dari serbuk gergaji 100 kg; tepung jagung 10 kg; dedak halus atau bekatul 10kg; kompos 0,5kg; kapur (CaCo3) 0,5kg; serta air 50-60%. Media tanam kemudian diletakkan dalam kantong plastik bening tanah panas (PE 0,002) berukuran 20cm x 30cm.

Setelah media tanam siap diisi media, langkah selanjutnya sebelum melakukan penanaman bibit jamur tiram, perlu dilakukan sterilisasi bahan maupun sterilisasi baglog. Mengingat budidaya jamur tiram sangat rentan akan serangan hama penyakit sehingga sterilisasi mutlak diperhatikan oleh pelaku usaha budidaya jamur. Hal terburuk, serangan hama penyakit yang tidak terkendali dapat menggagalkan panen.

STERILISASI BAHAN DAN BAGLOG BUDIDAYA JAMUR TIRAM

Proses sterilisasi media tanam penting dilakukan mengingat budidaya jamur disamping membutuhkan lingkungan budidaya yang selalu bersih juga media tanam yang benar-benar steril agar hasil panen dapat mencapai optimal serta proses budidaya jamur tiram menghasilkan keuntungan tinggi. Proses sterilisasi media tanam ini meliputi sterilisasi bahan dan sterilisasi baglog. Sterilisasi bahan dilakukan menggunakan oven dengan suhu 100°C. Sterilisasi ini berlangsung selama 6-8 jam untuk diperoleh hasil lebih baik, dengan melakukan pemanasan diharapkan mikroorganisme pengganggu dapat ditekan, selain itu juga bertujuan mengurangi kadar air. Bahan-bahan yang disterilisai berupa serbuk gergaji kayu dan dedak (bekatul). Sebelum dimasukkan ke dalam oven, serbuk gergaji kayu dan dedak ini di campur menjadi satu terlebih dahulu kemudian ditambahkan air bersih sekitar 50-60%, campur bahan hingga benar-benar rata serta kalis agar mudah dikepal. Penambahan air ini berfungsi membantu proses penyerapan nutrisi oleh miselium.

Kemudian bahan-bahan steril tadi dimasukkan ke dalam plastik sambil ditekan-tekan sedikit demi sedikit, perlu diperhatikan bahwa bahan-bahan yang dimasukkan harus sepadat mungkin untuk mengoptimalkan hasil. Semakin padat bahan dalam kantong plastik maka semakin banyak pula hasil produksi jamur tiram, untuk itu pastikan bahwa pemasukan bahan-bahan harus benar-benar padat. Tambahkan cincin paralon atau potongan bambu pada bagian atas kantong plastik terlebih dahulu sebelum akhirnya ditutup menggunakan sumbat kapas dan diikat dengan karet tahan panas. Cara pemasangan cincin paralon atau potongan bambu pada budidaya ini yaitu dengan memasang paralon atau potongan bambu pada bagian atas plastik, lalu masukkan seluruh bagian ujung plastik ke dalam lubang peralon atau potongan bambu, tarik kuat-kuat kemudian lipatlah ujung plastik yang telah masuk ke dalam lubang paralon atau potongan bambu ini ke arah sisi luar. Setelah itu baru ikatlah plastik dengan kuat. Sebagai gambaran, hasil akhir dari proses cara pemasangan paralon atau potongan bambu ini adalah bagian ujung baglog terdapat lubang peralon atau potongan bambu sebagai tempat munculnya jamur tiram.

Setelah dilakukan sterilisasi bahan, proses sterilisasi media tanam selanjutnya adalah sterilisasi baglog. Sterilisasi baglog pada budidaya ini dapat dilakukan dengan dua metode yaitu sterilisasi baglog menggunakan autoclave atau pemanas/Steamer dan sterilisasi menggunakan drum minyak. Cara sterilisasi dapat disesuaikan kondisi masing-masing, masing-masing metode memiliki kelebihan maupun kelemahan sendiri-sendiri. Secara prinsip, kedua cara ini dapat menciptakan lingkungan kondusif untuk pertumbuhan jamur tiram.

Sterilisasi Baglog Menggunakan Autoclave atau Pemanas/Steamer
Sterilisasi baglog menggunakan autoclave atau pemanas/steamer membutuhkan waktu relatif sebentar, cukup selama 15 menit saja. Pemanasan cara ini dilakukan pada suhu 121°C. Caranya pun cukup mudah, baglog yang sudah siap serta sudah disteril bahan terlebih dahulu tentunya tinggal dimasukkan saja ke dalam autoclave. Keuntungan sterilisasi baglog menggunakan cara ini adalah dapat menghemat waktu, namun membutuhkan biaya tinggi untuk investasi alat. Meskipun demikian untuk budidaya jangka panjang serta berskinambungan justru akan lebih menguntungkan.

Sterilisasi Baglog Menggunakan Drum Minyak
Sterilisasi baglog menggunakan drum memiliki keuntungan lebih murah jika dibandingkan dengan sterilisasi menggunakan autoclave atau pemanas/steamer sehingga dapat menekan biaya produksi. Namun membutuhkan waktu lama dalam proses sterilisasinya. Selain itu, drum minyak pun harus berkapasitas besar agar dapat menampung kurang lebih 50 baglog agar lebih menghemat waktu sehingga juga dapat menekan biaya produksi. Cara sterilisasi baglog menggunakan cara ini sebenarnya juga cukup mudah, yaitu cukup memanaskannya di atas kompor minyak atau api. Lamanya waktu yang dibutuhkan untuk proses pemanasan sekitar 8 jam.

PENDINGINAN

Setelah melakukan proses sterilisasi, baik sterilisasi bahan maupun sterilisasi baglog, langkah selanjutnya adalah proses pendinginan. Pada poses ini, baglog yang sudah disterilisasi tadi, yaitu selama 15 menit untuk sterilisasi menggunakan autoclave atau pemanas/steamer dan 8 jam untuk sterilisasi menggunakan drum, baglog harus didinginkan sebelum dilakukan penanaman. Pastikan baglog sudah menjadi dingin terlebih dahulu sebelum melakukan penanaman, baru setelah benar-benar dingin kemudian dilakukan penanaman bibit jamur tiram.

PERSIAPAN PENANAMAN JAMUR TIRAM

Steril merupakan kunci utama keberhasilan budidaya, untuk itu kebersihan harus tetap terus dijaga serta lebih ditingkatkan. Persiapan sebelum melakukan penanaman jamur tiram terutama sekali adalah dalam hal kebersihan ini, baik kebersihan alat, tempat, maupun tenaga kerja. Tempat penanaman jamur tiram harus disterilisasi terlebih dahulu menggunakan disinfektan untuk mengurangi terjadinya kontaminasi yang tidak diinginkan sehingga budidaya jamur tiram semakin optimal. Alat yang akan digunakan untuk menanam juga harus disterilisasi menggunakan alkohol serta dipanaskan terlebih dahulu. Selain itu, tanaga kerja juga dianjurkan untuk memakai masker penutup terutama penutup hidung dan mulut sehingga kemungkinan terkontaminasi oleh bakteri (mikroorganisme pengganggu) melalui mulut maupun hidung tenaga kerja dapat diminimalisir.

PENANAMAN JAMUR TIRAM

Penanaman jamur tiram dilakukan setelah semuanya dipastikan steril. Selama proses ini perlu diperhatikan suhu serta kelembaban udaranya. Suhu udara kondusif sangat diperlukan untuk menunjang pertumbuhan miselium jamur tiram, suhu yang dibutuhkan berkisar antara 23-28°C, dengan suhu udara optimun pada 25°C. Siram lantai menggunakan air atau semprot lokasi menggunakan tangki sprayer jika cuaca terlalu terik dan berangin. Hal ini dilakukan untuk menurunkan suhu udara pada kisaran suhu ideal. Atur juga sirkulasi udara pada tempat budidaya jamur agar jamur tiram tetap mendapatkan udara segar. Tutup sebagian lubang sirkulasi udara jika angin sedang bertiup kencang. Pastikan kondisi lingkungan tetap kondusif untuk menopang pertumbuhan jamur tiram.

PEMELIHARAAN JAMUR TIRAM

Seperti halnya dalam budidaya lain, pemeliharaan tanaman merupakan faktor penting. Dalam hal ini, pemeliharaan selama budidaya adalah mengenai pengendalian hama penyakit jamur tiram. Hal ini penting sekali mengingat hama penyakit pasti selalu menyerang pada setiap budidaya apa saja terutama di bidang pertanian. Meskipun saat pembuatan baglog sampai penanaman semua media maupun tempat sudah disterilisisai, namun hama penyakit pasti selalu datang di setiap fase. Untuk mengoptimalkan hasil produksi, meminimalisir resiko serta mengendalikan hama penyakit adalah langkah-langkah paling tepat.

PENGENDALIAN HAMA DAN PENYAKIT PADA BUDIDAYA JAMUR TIRAM

Serangan hama dan penyakit antara tempat satu dengan tempat lainnya pada budidaya jamur tiram berbeda-beda, cara pengendalian hama dan penyakit ini pun tentunya tidak sama, tergantung jenis hama maupun penyakit apa yang sedang menyerang. Hal ini disebabkan oleh kondisi lingkungan yang berbeda-beda pula antara satu tempat dengan lainnya serta kebersihan lokasi budidaya atau rumah kumbung. Selain faktor lingkungan, serangan hama penyakit dapat bersumber dari jamur tiram itu sendiri terutama saat melakukan proses sterilisasi baik saat melakukan sterilisasi bahan media tanam maupun sterilisasi baglog. Dimungkinkan terjadi kesalahan saat melakukan sterilisasi ini sehingga mudah terkontaminasi oleh kondisi lingkungan setempat.

HAMA JAMUR TIRAM

Hama pengganggu selama proses budidaya jamur tiram meliputi hama ulat, kleket, semut, serta laba-laba. Pengamatan setiap hari di lapangan perlu dilakukan agar serangan hama dapat terdeteksi lebih dini sehingga mengurangi resiko kegagalam panen. Berikut ini deskripsi singkat mengenai hama pengganggu berikut cara pengendaliannya:

Ulat

Hama utama jamur tiram adalah hama ulat. Hama ini muncul ketika kelembaban udara tinggi, kebersihan lingkungan tidak terjaga, serta akibat kotoran dari sisa pangkal/bonggol atau tangkai jamur maupun jamur yang tidak terpanen. Pencegahan hama ulat dilakukan dengan mengatur sirkulasi udara untuk mengatur kelembaban, pemanenan lebih hati-hati sehingga tidak banyak pangkal atau batang maupun jamur tiram yang tidak terpanen, serta menjaga kebersihan lokasi kumbung. Pengendalian secara kimiawi dengan melakukan penyemprotan formalin di sekitar lokasi rumah kumbung.

Kleket (sejenis moluska), Semut dan Laba-laba

Pengendalian hama kleket, semut dan laba-laba dapat dilakukan dengan dua cara, baik secara mekanis maupun kimiawi. Secara mekanis, pengendalian hama semut dan laba-laba dapat dengan melakukan pembongkaran pada sarangnya, kemudian disiram menggunakan minyak tanah. Sedangkan hama kleket seringkali dijumpai pada mulut baglog cukup diambing menggunakan tangan. Secara kimiawi, hama tersebut dapat dikendalikan dengan penyemprotan insektisida untuk semut dan laba-laba serta pemberian molustisida untuk hama kleket. Namun, pengendalian kimiawi hendaknya dijadikan alternatif terakhir karena produk jamur tiram merupakan produk organik. Selain ramah lingkungan, pengendalian hama kleket, semut maupun laba-laba secara mekanis juga menekan biaya produksi.

PENYAKIT JAMUR TIRAM

Penyakit pengganggu selama budidaya jamur tiram meliputi jamur parasit dan tangkai jamur memanjang. Seperti halnya pada cara pengendaian hama, pengamatan setiap hari di lapangan juga perlu dilakukan agar hasil panen optimal. Berikut ini deskripsi singkat mengenai penyakit beserta cara pengendaliannya:

Jamur Parasit

Seperti telah berulangkali dibahas sebelumnya, bahwa kebersihan merupakan kunci utama keberhasilan budidaya. Rumah kumbung maupun peralatan yang digunakan selama proses produksi harus selalu dalam keadaan steril untuk mengurangi kontaminasi mikroorganisme pengganggu yang tidak diinginkan, bahkan dapat menggagalkan budidaya jamur. Jika kebersihan maupun faktor lingkungan (suhu, kelembaban, dll) kurang mendukung, biasanya sering terjadi pada baglog banyak ditumbuhi penyakit cendawan maupun jamur lain yang tumbuh seiring pertumbuhannya. Missellium cendawan atau jamur parasit tersebut saling berebut untuk melakukan pertumbuhan sehingga sering mengakibatkan pertumbuhan menjadi terhambat, bahkan terkadang menyebabkan tidak tumbuh. Jamur parasit ini berisifat patogen, gejalanya ditandai munculnya miselium berwarna kuning, hijau, hitam, disertai lendir pada substrat. Jamur parasit yang biasa menyerang selama proses budidaya adalah Penicillium sp., Rhizopus sp., Aspergillus sp., serta Mucor sp.. Jamur ini menyerang substrat atau baglog dengan cara tumbuh bersaing dengan tanaman pokok. Penyakit ini menyerang baglog tertutup maupun terbuka. Pengendalian jamur penganggu dapat dilakukan dengan menjaga kebersihan yang berhubungan dengan proses budidaya (baik kumbung, baglog, peralatan, maupun tenaga kerja), musnahkan baglog terserang jamur parasit dengan cara dibakar, serta mengatur kelembanan udara di sekitar lokasi kumbung.

Tangkai Jamur Memanjang

Penyakit tangkai jamur memanjang merupakan penyakit fisiologis yang sering dijumpai selama prses budidaya, ditandai tangkai jamur tiram memanjang dengan tubuh jamur kecil tidak dapat berkembang maksimal. Penyakit tangkai memanjang disebabkan karena kelebihan CO2 akibat ventilasi udara kurang sempurna. Pencegahan penyakit tangkai memanjang adalah mengatur ventilasi seoptimal mungkin pada rumah kumbung sehingga sirkulasi udara berjalan sempurna sesuai kebutuhan pertumbuhannya.

PANEN JAMUR TIRAM

Kegiatan ini merupakan hasil akhir dari proses budidaya yang sangat dinanti-nantikan oleh para petani. Mereka bisa tersenyum senang manakala hasil budidayanya menuai keberhasilan, sebaliknya bahkan bisa menangis penuh kesedihan manakala hasil panen tak sesuai harapan. Pemanenan jamur tiram ini dilakukan secara bertahap. Pada prinsipnya, jamur tiram siap panen sudah berukuran cukup besar dengan tepi meruncing tetapi belum mekar penuh (belum pecah). Namun, dapat juga disesuaikan dengan permintaan pasar. Panen biasanya dilakukan saat berumur 40 hari setelah pembibitan. Pada kondisi ini, tubuh jamur tiram sudah berkembang maksimal, berkisar antara 3 mingguan dari saat buah jamur terbentuk.

PENANGANAN PASCA PANEN JAMUR TIRAM

Setelah pemanenan selesai dilakukan, masih memerlukan proses penangan lebih lanjut untuk meningkatkan keuntungan. Penanganan ini disesuaikan dengan permintaan pasar tujuan. Upaya penanganan pascapanen biasanya meningkatkan hasil antara 25%-100% tergantung kesepakatan maupun pasar tujuan. Untuk mendapatkan produk berkualitas baik serta memenuhi kriteria permintaan pasar modern, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan, seperti di bawah ini:

Pencucian

Penggunaan pestisida dalam budidaya jamur tiram mungkin belum bisa dihindari oleh para petani baik petani hortikultura maupun petani jamur tiram. Hal ini sangat dimaklumi karena kesadaran masyarakat kita masih sangat rendah baik di tingkat konsumen maupun petani, ditambah perekonomian masyarakat juga masih sangat rendah. Mayoritas konsumen di Indonesia menginginkan produksi pertanian berkualitas super bahkan organik tetapi dengan harga murah, sedangkan para petani menginginkan produktivitas tinggi dengan sedikit resiko karena harga jualnya juga rendah sehingga mereka tetap berorientasi mencari laba atau keuntungan. Suatu masalah yang sangat bertolak belakang, dan perlu dicarikan titik temu. Namun, bagi para petani jamur tiram, ada cara untuk meminimalisir hasil panen dari residu pestisida, yaitu melakukan pencucian menggunakan air bersih sehabis panen, kemudian pangkal jamur dipisahkan dari tubuhnya. Biasanya residu pestisida mengendap pada pangkal batang ini, sedangkan pada tubuh buah jamur tiram residu pestisida diminimalisir oleh pencucian tersebut.

Sortasi Hasil Panen

Setelah dilakukan pencucian, langkah selanjutnya pada proses pascapanen adalah penyortiran atau sortasi. Keseragaman hasil merupakan syarat utama untuk pemasaran agribisnis modern, baik keperluan ekspor maupun supermarket. Sortasi atau penyortiran dilakukan dengan memisahkan bentuk maupun ukuran tertentu. Biasanya masing-masing pasar menentukan standar ukuran berbeda-beda, disesuaikan tingkat kebutuhan konsumen setempat.

Pengemasan dan Transportasi

Masalah penting dalam penangan pascapanen adalah pengemasan (packing) maupun transportasi, karena model pengemasan merupakan salah satu bagian penting untuk mendongkrak keuntungan. Pada pasar modern masalah pengemasan bahkan mampu meningkatkan harga jual hingga 100% tergantung permintaan konsumen. Untuk keperluan ini, jamur tiram segar dikemas menggunakan plastik kedap udara. Pengemasan semacam ini bertujuan meminimalisir resiko kerusakan, semakin sedikit udara di dalam plastik, maka semakin tahan lama untuk disimpan. Tidak hanya itu, penggunaan plastik kedap udara bahkan dapat mempertahankan kesegaran jamur tiram selama 2 sampai 4 hari. Sedangkan untuk pengangkutan jarak jauh, alat transportasi sebaiknya menggunakan ruangan pendingin agar kestabilan kesegarannya tetap terjaga sehingga meminimalisir resiko.

Demikian artikel mengenai teknik dan cara budidaya jamur tiram, semoga dapat membantu menyelesaikan masalah-masalah para petani atau pelaku usaha budidaya jamur. Dapatkan dukungan teknis dari partner kami, semoga bermanfaat. Salam Tanijogonegoro!

Dukungan Teknis: Rois Efendi - 0852 3875 5088 - PIN BB 76339A3D

50 comments:

  1. Kunjungan malam buat sahabat blogger, dan tidak lupa Join, kalau ada waktu luang sempatkan singgah di blog saya, dan jangan lupa Join balik, Terimakasih.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Terima kasih atas kunjungannya, salam untuk sahabat blogger. semoga sukses

      Delete
    2. terima kasih mbak novik, anda telah berinvestasi akhirat dengan berbagi ilmu,semoga Allah senantiasa ridho dengan karya2 anda. mohon info saya tinggal di bangko jambi, bagaimana cara memperoleh bibit jamur tersebut, dan dimana toko atau penjualnya. mohon jawaban, t kasih

      Delete
    3. Kalau di Jawa sudah banyak yang mengusahakan bibit jamur tiram. Tapi kalau di Jambi saya tidak tahu. Atau barang kali jarak tempuhnya tidak terlalu jauh nanti saya hubungkan dengan penyedia bibit. Terima kasih atas kunjungannya.

      Delete
  2. Replies
    1. terima kasih, semoga Anda terinspirasi untuk budidaya jamur

      Delete
  3. mau tanya....
    saya coba budidaya jamur tapi kok kuncup ya???da yg bisa mekar,tpi bnyak yg kuncup.apa penyebabnya?gimana cara mengatasinya?
    setelah panen lebih baik sebelum dipasarkan diperlakukan gimana?karena punyaku kok cepat kering ya?
    makasih sebelumnya..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Pertumbuhan jamur yang terhambat disebabkan oleh suhu udara yang terlalu tinggi, kelembaban udara rendah, atau sirkulasi udara kurang. Untuk itu, perlu dilakkukan penyemprotan secara rutin.

      Pengemasan jamur pasca panen harus menggunakan plastik kedap udara. jika tidak demikian, maka jamur akan mudah rusak. Hasil panen yang terlalu cepat kering juga bisa disebabkan karena kelembaban udara yang terlalu rendah selama masa pertumbuhannya. Semoga bisa membantu.

      Delete
  4. bagus nih,, pemasarannya gimana ya biar gampang???

    ReplyDelete
    Replies
    1. Pemasaran Jamur tiram masih terbuka lebar, di pasar tradisional saja selalu habis.

      Delete
  5. gimana cara mendapatkan bibitnya sedangkan di tempat saya tidak ada dijual bibit jamurnya ????

    ReplyDelete
    Replies
    1. Di daerah kami banyak yang mengusahakan pembibitan, Anda bisa berkunjung ke Wonosobo, Jawa Tengah.

      Delete
    2. berapa harga per log/bibit.? 1 log kira2 bisa mengahsilkan berapa ons jamu atau ada perkiraan lain. saya pemula dan tertarik dengan budidaya jamur ini. namun saya harus mempertimbangkan untung ruginya. terimaksih.

      Delete
    3. saya tertarik dengan budidaya jamur ini,apakah ada perkiraan antara 1 bibit dengan hasil yang dihasilkan (misal 1 media rata2 menghasilkan 2ons/ 2 hari). trus harga 1 media itu berapa.?

      Delete
    4. Harga baglog sangat bervariasi tergantung ukuran dan jumlah spora yang masukkan. Sebagai gambaran, di daerah kami, Wonosobo, Jateng, harga baglog berkisar Rp1.800 - Rp2.200 dengan produksi potensial 600-700 gram/baglog.

      Delete
  6. salam kenal, saya berada diwilayah jogja. saya mau menanyakan beberapa hal tentang bududaya jamur:
    1. harga baglog dari bapak berapa/@nya?
    2. idealnya /baglog bisa berapa kali bisa diambil hasilnya/panen?
    3. idealnya /baglog bisa menghasilkan berapa kg /penen?
    4. waktu yang di perlukan antara pemanenan 1st ke 2nd dan seterusnya membutuhkan rentang waktu berapa lama?
    5. bentuk perawatannya seperti apa selain disirami secara rutin, supaya baglog tetap bisa produkti?
    6. kalau boleh tau analisisnya, jika saya beli 1000 baglog berapa yang harus saya keluarkan biayanya dan berapa yang saya bisa dapatkan? (kumbung sudah tersedia)
    atas jawabannya saya ucapkan terimakasih,,

    ReplyDelete
    Replies
    1. 1. Kami tidak menjual baglog.
      2. Jika budidaya yang dilakukan sudah benar, baglog dapat berproduksi selama 6 bulan, tidak ada data yang menyebutkan berapa kali di ambil hasil panennya.
      3. potensi produksi kurang lebih 800 gram/baglog
      4. Waktu panen sesuai dengan pertumbuhan, karena tidak semua baglog mengalami pertumbuhan yang seragan. Bisa tiap hari, bisa 2 hari sekali, dan bisa 3 hari sekali.
      5. Bentuk perawatan seperti yang kami sebutkan di atas sudah mampu digunakan sebagai pedoman budidaya jamur tiram secara intensif.
      6. Analisa usaha tani akan kami posting berikutnya, karena harus melakukan penyesuaian harga dengan kondisi terakhir.

      Delete
    2. terima kasih mbak novik atas jawabannya, anda telah berinvestasi akhirat dengan berbagi ilmu,1 pertanyaan lagi dari saya,, di atas disebutkan "bibit yang bersertifikat".seperti apa ya?? kalau saya berawal dari beli baglog, supaya saya bisa memastikan bibitnya bersertifikat/bibit yang bagus caranya bagaimana? atau sekedar menanyakan saja? atau ada ciri2nya yang bisa saya identifikasi sendiri dan langsung. terimakasih,,,

      Delete
    3. Sertifikasi dikeluarkan oleh lembaga sertifikasi yang berwenang, misalnya dari instansi pertanian atau dari scufindo. Sertifikasi dikeluarkan untuk diberikan kepada petani atau produsen baglog yang telah memenuhi kriteria yang telah ditetapkan oleh lembaga dimaksud. Jadi, untuk memastikan apakah baglog tersebut bersertifikat atau tidak, tinggal menanyakan pada penjualnya dalam hal ini menanyakan langsung pada produsennya.

      Delete
  7. Membaca artikel dari Anda saya sangat tertarik untuk budidaya jamur tiram di rumah, kebetulan ada rumah kosong. Sekarang saya lagi di Solo kira-kira ada tempat terdekat tidak buat belajar?? Klo boleh tau berapa lama dari masa tanam sampai ke panen dan dapat dipanen berapa kali dalam satu media tanam??
    Terima Kasih

    ReplyDelete
    Replies
    1. Tentang panen sudah kami sebutkan di atas. Sedangkan produktivitas potensial dapat mencapai 800 gram/baglog.

      Delete
  8. mba Novi
    Kl kami ingin membudidayakan jamur tiram apakah anda bs menjadi konsultan kami?

    Kl tidak keberatan, mhn sms kepada saya di 0888 300 6060
    Trims
    Samuel

    ReplyDelete
    Replies
    1. Mungkin terlalu berlebihan jika kami menjadi konsultan karena profesi kami sebagai petani. Mungkin sekedar berbagi informasi tentang budidaya jamur tiram bisa kami lakukan dan bisa lewat email.

      Delete
  9. alhamdulilah ........mudah mudahan ber manfaat............
    mba novi saya mau nanya ni ...!!
    kalau misalnya plastik yg bwt membungkus bibit jamur qt sobek/ di beri lubang entah d bawah,d samping kana ,kiri,berpengaruh apa tdk.?dan pengaruh nya apa...?
    masalah sinar matahari apakah perlu pengukuran yang pas untuk budi daya jamur.?..

    terima kasih.....?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Secara prinsip pembuatan lubang di sisa lain baglog bisa dilakukan. Tetapi pada budidaya jamur tiram secara intensif hal tersebut akan mempersulit pemeliharaan, mempermudah terjadinya serangan hama dan patogen karena posisi yang tidak beraturan lebih mempersulit dalam manjaga kebersihan areal budidaya, jika jamur terlalu berjejal, maka kualitas yang dihasilkan jugan tidak akan sebaik jamur yang tumbuh secara teratur dengan ruang yang cukup. Selain itu, media tempat tumbuhnya jamur juga akan terlalu cepat habis.

      Pengukuran intensitas sinar matahari tidak perlu dilakukan, jangan terlalu banyak atau berlebihan, dengan parameter bahwa pembudidaya dapat menciptakan kondisi yang bisa memenuhi syarat tumbuh optimal.

      Delete
  10. Artikel yang sangat menarik...Saya masih sangat awam tentang jamur tiram ini,apakah bisa lebih dibedah secara spesifik...Kalo bole saya tanya,apakah yang dimaksud dengan baglog??Dan kira2 berapa dana yang dibutuhkan untuk budidaya jamur tiram ini..


    Thanks
    Subhan

    ReplyDelete
    Replies
    1. Baglog adalah media tempat tumbuhnya jamur yang akan dipelihara. Di dalamnya sudah termasuk benih jamur. Untuk analisa usaha, akan segera kami susulkan.

      Delete
  11. mbak novik artikel anda sangat bermanfaat untuk saya yang sedang mencari informasi, kalo boleh saya tau, berapa perkiraan estimasi untuk modal awalnya.

    Terima Kasih

    ReplyDelete
    Replies
    1. Untuk kapasitas 7.500 sekitar Rp 30.000.000,- sudah termasuk pembuatan kumbung dan sewa lokasi selama 5 th.

      Delete
  12. saya tertarik dgn usaha ini ibu .. tpi saya masih awam dgn budidaya jamur .. modalnya cukup besar 30 juta .. tolong info yg lebih jelas bu
    makasih

    ReplyDelete
    Replies
    1. Info yang lebih jelas harus dibuat dalam bentuk analisa usaha. Sedang dalam konsep pembuatan, tapi belum sempat saya selesaikan.

      Delete
  13. saia sudah satu thun ini menekuni budi daya jamur tiram, kgagalan membuat saia pusing, klo hasil saia udd menyaksikan sendiri. saat ini saia msih bertahan hnya dengamn seribu baglog siap panen... usaha ini sangat bergantung pada modal.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Setiap usaha selalu mengalami pasang surut. Kendala biasanya muncul pada tahun-tahun awal. Saran saya, tetap bertahan dan terus menjaga konsistensi usaha, sekalipun dalam harus dilakukan dalam skala kecil, tetapi tetap harus dilakukan terus. Kondisi serupa saya alami 3 tahun pertama saat merintis usaha di sektor pertanian. Dan saya bertahan keadaan minus, sampai pada akhirnya saya menemukan suatu kondisi dimana saya bisa menikmati hasil, bagi saya sangat besar dan luar biasa, dari pengalaman-pengalaman lapangan saya. Jangan menyerah, tetap jaga konsistensi,modal hanya sebagai faktor pendukung dan bukan faktor mutlak yang menentukan keberhsilan seseorang. Salam Tani Indonesia, MERDEKA!

      Delete
  14. bu novik kok disaya panennya 6bln panen ya ada masa berhentinya sich setlah panen jd 1thn itu saya 2x panen. kok bisa cepat 40hr itu gmn caranya?

    ReplyDelete
  15. 1. apabila baglog dibeli dari daerah wonosobo, bisakah dianter ke perjalanan misalkan ke daerah bandung ? apakah baglog tidak mati di jalan alias menjadi tidak produktif

    2. adakah jaminan dari penjual baglog bahwa baglog yang dijual pasti menghasilkan jamur atau mereka hanya menjual putus begitu saja ?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Silahkan anda menghubungi Rois sebagai penyedia baglog di nomor 085238755088

      Delete
  16. Artikelnya sangat menarik bu, saya memang sudah lama terinspirasi untuk budidaya jamur tiram. Mohon dukungannya agar kegiatan budidaya yang saya lakukan bisa berhasil.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ya, mudah-mudahan kegiatan budidaya yang Anda lakukan bisa berhasil dengan baik. Yang terpenting dalam usaha bisnis ini adalah kedisiplinan, baik dalam menjaga kebersihan areal budidaya, kontrol kelembaban dan suhu udara, serta pemantauan terhadap penyakit. Sukses pak Dhoet.

      Delete
  17. Saya pernah budidaya jamur tiram, sekitar setahun yang lalu. Tetapi saat ini berhenti, karena temen saya yang biasa mengirim baglog sudah tidak produksi lagi. Sebetulnya saya ingin sekali mencoba lagi untuk budidaya jamur tiram. Apakah ada informasi tempat pembelian baglog? Lokasi saya di Lampung.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Coba menghubungi mas Rois, partner kami yang kebetulan memang terjun langsung dalam usaha pembuatan baglog. Contact person sudah tertera di atas. Barangkali yang bersangkutan bisa membantu. Mudah-mudahan Anda bisa menemukan solusi untuk memulai kembali usaha budidaya jamur. Terima kasih telah berkunjung ke tanijogonegoro.com

      Delete
  18. untuk kapasitas 7500 baglog diperlukan luas lahan berapa ya bu
    trimakasih

    ReplyDelete
    Replies
    1. Agar memudahkan pemeliharaan, ukuran rak sebaiknya tidak terlalu besar. Sebagai gambaran, Untuk 1 lapis rak berukuran panjang 300 cm, lebar 40 cm, dan tinggi 40 cm, mampu menampung kurang lebih 60 baglog ukuran sedang. Seandainya 1 unit rak terdiri dari 5 lapis, maka rak tersebut mampu menampung kurang lebih 300 baglog. Jadi, kalau 7500 baglog dibutuhkan sekitar 25 unit rak dengan panjang 300 cm dan lebar 40 cm. Untuk informasi lebih lengkapnya, silahkan baca artikel kami "PERSIAPAN USAHA BUDIDAYA JAMUR TIRAM"

      Delete
  19. Terima kasih ibu novi atas artikelnya klo untuk permulaan apakah ada tempat pelatihan/kursus budidaya jamur? Apa aja kendala dlm usaha ini? Terima kasih

    ReplyDelete
    Replies
    1. Pelatihan budidaya jamur tiram sepertinya ada. Rekan saya katanya pernah menerima pelatihan tersebut di Jogja. Silahkan hubungi mas Rois Efendi - 0852 3875 5088 - PIN BB 76339A3D untuk informasi lebih lanjut. Untuk kendala dalam budidaya jamur tiram sudah saya bahas dalam artikel, seperti suhu, kelembaban, kualitas media (baglog), kebersihan, penanganan hama/penyakit, dan pemasaran. Terima kasih atas kunjungannya.

      Delete
  20. bismillah, sy msh mahasiswa Bu, tapi tertarik usaha ini karena di samping rumah, ada lahan yang kosong. di kabupaten Bantaeng (sul-sel), yg sy tahu hanya 1 orang yangmembudidayakannya.katanya, permintaan konsumen tinggi, tapi produksinya rendah. klw ingin membeli baglog n bibit, apakah ada d makassar? dan brp harga bibitnya bu? krn yg sempat sy dengar d tv, sangat mahal katanya.

    terima kasih
    CR

    ReplyDelete
  21. maaf Bu,apakah di makassar ada yang menjual baglog dan bibitnya? dan berapa harganya Bu? krn ya sy dengar d tv, sangat mahal. karena di KabupatenBantaeng (sul-sel ) hanya 1 yang membudidayakannya dan permintaan pasar sangat tinggi.

    terima kasih
    CR

    ReplyDelete
    Replies
    1. Terima kasih mbak Charisma Rahayu. Saya berikan apresiasi atas semangat Anda untuk memulai usaha meskipun masih berstatus mahasiswa. Untuk di daerah makasar saya tidak ada informasi mengenai penjualan baglog. Kalau untuk membeli baglog (bibit F4) di Makasar sulit, barangkali Anda bisa mencoba dengan membuat bibit F4 sendiri dengan membeli bibit F3 dari luar Makasar, sehinga biaya produksi untuk pengadaan baglog bisa ditekan. Untuk memulainya bisa dengan skala kecit terlebih dahulu sehingga biaya yang dikeluarkan untuk proses belajar tidak terlalu tinggi.

      Delete
  22. klw di makassar, ada tidak dijual baglog atau bibitnya bu?

    terima kasih
    CR

    ReplyDelete
    Replies
    1. Tadi sudah saya sampaikan di atas, saya tidak tahu ada atau tidak. Kalau memang tidak ada atau kesulitan, maka solusinya bisa membuat bibit F4 sendiri, dengan mendatangkan bibit F3 dari luar Makasar, sehingga biayanya bisa ditekan. Untuk mencari bibit F3, silahkan hubungi rekan kami, Rois Efendi - 0852 3875 5088 - PIN BB 76339A3D, barangkali bisa membantu.

      Delete

Tanijogonegoro.com: Menyajikan Informasi Terbaik
Tanijogonegoro.com: Menyajikan Informasi Terbaik

LOGO TANIJOGONEGORO
TERIMA KASIH ATAS KUNJUNGANNYA
Tanijogonegoro On Google Plus