BUDIDAYA MELON

Budidaya Melon - Melon (Cucumis melo) merupakan salah satu komoditas hortikultura bernilai ekonomis tinggi. Keberhasilan selama proses budidaya melon menjadi faktor penentu dalam mendatangkan keuntungan tinggi bagi petani atau pelaku usaha yang membidik peluang usaha budidaya tanaman melon. Budidaya pertanian ini banyak dilirik petani karena harganya relatif stabil atau bisa dikatakan fluktuasi harganya masih dalam batas kewajaran.

CARA MENANAM MELON MENGGUNAKAN TEKNOLOGI BUDIDAYA YANG SANGAT APLIKATIF

Cara menanam melon yang akan kami uraikan disini sangat aplikastif sehingga mudah diterapkan oleh para petani. Teknik budidaya tanaman melon disesuaikan dengan kondisi lingkungan saat ini terutama dalam mengantisipasi serangan hama penyakit tanaman. Seperti kita ketahui bahwa serangan hama penyakit yang tak terkendali dapat menggagalkan panen hingga 80% pada budidaya tanaman melon, untuk itu dalam mengantisipasinya diperlukan teknik dan cara budidaya yang benar.

Tanaman melon memerlukan curah hujan antara 2000-3000 mm/th dengan ketinggian tempat optimal 200-900 mdpl. Intensitas sinar matahari berkisar antara 10-12 jam per hari. Suhu optimal untuk perkecambahan benih berkisar 28°-30°C, untuk pertumbuhan vegetatif 20-25°C serta untuk pembungaan >25°C. Rasa buah melon yang manis akan tercapai apabila selisih suhu antara siang malam cukup tinggi. Suhu siang hari untuk pembesaran 26°C sehingga dapat meningkatkan fotosintesis. Sedangkan suhu malam harinya <20°C untuk menekan proses respirasi cadangan makanan. Air sangat dibutuhkan oleh tanaman ini karena 90% kandungan buah melon terdiri dari air. Lokasi penanaman melon sebaiknya bukan bekas lahan budidaya tanaman melon atau tanaman sefamili. Minimal sudah diberakan selama 2 tahun untuk memutus siklus hidup hama penyakit tanaman.

PERSIAPAN TEKNIS

Sebelum pelaksanaan budidaya tanaman melon, perlu dilakukan persiapan teknis agar hasil panen optimal. Dalam hal ini kita perlu mengetahui tingkat keasaman tanah tempat budidaya tanaman melon atau derajat keasaman tanahnya. Dengan mengetahui tingkat keasaman tanah diharapkan dapat memanipulasi kondisi tanah agar kondusif untuk pertumbuhan tanaman. Nilai keasaman tanah (pH tanah) dapat kita ketahui dengan cara melakukan pengukuran pH tanah. Pengukuran pH tanah diperlukan untuk menentukan jumlah pemberian kapur pertanian terutama untuk tanah masam (pH rendah khususnya pH di bawah 6,5) karena mayoritas tanah di Indonesia tergolong berjenis tanah asam. Pengukuran pH tanah bisa dilakukan menggunakan kertas lakmus, pH meter, atau cairan pH tester. Pengambilan titik sampel bisa dilakukan secara zigzag. Penambahan kapur pertanian untuk tanah asam bertujuan menetralkan nilai pH tanah yaitu menjadi 7 atau setidaknya mendekati 7. Tanah bernilai pH ini, unsur hara dalam tanah dalam kondisi tersedia serta mudah diserap olah akar tanaman, tentunya memerlukan bantuan air.

PELAKSANAAN

Pelaksanaan budidaya tanaman melon meliputi persiapan lahan, persiapan benih, penanaman, pemeliharaan tanaman (meliputi penyulaman tanaman, pengikatan, pemangkasan, sanitasi lahan, pengairan, pemupukan susulan), serta pengendalian hama penyakit melon. Agar budidaya tanaman sesuai harapan petani melon, pemahaman mengenai hal ini menjadi sangat penting. Berikut ini akan kami uraikan inti dari setiap jenis kegiatan di atas:

Persiapan Lahan

Pada kegiatan budidaya tanaman melon, persiapan lahan yang harus dilakukan meliputi pembajakan dan penggaruan tanah, pembuatan bedengan kasar, lebar 110-120 cm, tinggi 40-70 cm, lebar parit 50-70 cm, pengapuran 200 kg/rol mulsa untuk tanah di bawah 6,5, pemberian pupuk kandang yang sudah difermentasi 40 ton/ha dan pupuk NPK 15-15-15 sebanyak 150 kg/rol mulsa PHP, pengadukan bedengan agar tersebar merata, persiapan selanjutnya adalah pemasangan plastik mulsa, pembuatan lubang tanam untuk musim kemarau jarak ideal 60 cm x 60 cm sedangkan untuk musim hujan jarak ideal adalah 70 cm x 70 cm, lanjutkan dengan pemasangan ajir. Untuk menjaga kelembaban, sebaiknya menggunakan sistem ajir tegak. Setiap ajir dihubungkan dengan gelagar. Gelagar ini disamping menghubungkan ajir satu dengan lainnya juga berfungsi sebagai tempat penggantungan buah melon. Sebagai penguat, pada ajir paling pinggir dipasang ajir miring sebagai kuda-kuda membentuk sudut ±45°.

Pembibitan dan Penanaman Melon

Persiapan pembibitan membutuhkan rumah (sungkup) pembibitan untuk melindungi bibit melon muda. Kemudian menyediakan media semai dengan komposisi 20 liter tanah, 10 liter pupuk kandang, dan 150 g NPK halus. Media campuran dimasukkan ke dalam polibag semai. Sebelum disemai, lakukan perendaman benih melon dalam larutan fungisida (sistemik) dengan bahan aktif simokanil, atau bisa juga metalaksil. Perendaman dilakukan selama ± 6 jam (½ dari dosis terendah pada kemasan). Untuk mempercepat perkecambahan melon, lakukan penutupan pada permukaan media, bisa menggunakan kain goni atau bagor, atau mulsa. Media harus tetap dijaga agar tetap dalam keadaan lembab. Saat benih melon telah berkecambah, penutup permukaan media semai bisa dibuka, kemudian gunakan plastik transparan sebagai sungkup.
Pembukaan sungkup dimulai saat jam 07.00 - 09.00, dibuka lagi jam 15.00-17.00. Umur 5 hari menjelang tanam sungkup harus dibuka secara penuh untuk penguatan tanaman. Penyiraman jangan terlalu basah, dilakukan setiap pagi. Penyemprotan menggunakan fungisida berbahan aktif simoksanil dan insektisida berbahan aktif imidakloprid saat umur 8 hss (hari setelah semai), dosis ½ dari dosis terendah. Bibit melon berdaun sejati 4 helai siap untuk pindah tanam ke lahan.

PEMELIHARAAN TANAMAN MELON

Pemeliharaan pada budidaya tanaman melon meliputi penyulaman tanaman, pengikatan tanaman pada ajir atau lanjaran, pemangkasan cabang melon, sanitasi lahan, pengairan atau irigasi, serta pemupukan susulan baik melalui akar maupun daun. Perawatan rutin selama budidaya tanaman melon sangat menentukan hasil produk buah melon karena budidaya tanaman ini termasuk salah satu budidaya tanaman hortikultura bernilai ekonomis tinggi sehingga memerlukan perawatan intensif, disamping itu juga termasuk budidaya pertanian yang membutuhkan biaya tinggi selama proses budidayanya.

Penyulaman Tanaman

Penyulaman pada budidaya tanaman melon dilakukan sampai umur tanaman 2 minggu. Tanaman berumur terlalu tua apabila masih terus disulam mengakibatkan pertumbuhan tidak seragam. Kondisi ini akan berpengaruh terhadap pengendalian hama penyakit selama budidaya tanaman melon.

Pengikatan dan Pemangkasan

Pada budidaya tanaman melon, untuk menjaga kelembaban serta mengatur sirkulasi udara di seputar tanaman perlu dilakukan pengikatan maupun pemangkasan tanaman. Melon termasuk tanaman merambat dengan pertumbuhan cepat, untuk itu sedini mungkin harus sudah segera diikatkan pada ajir, pengikatan dilakukan setiap jarak 40 cm.
Pemangkasan cabang pada budidaya tanaman melon bertujuan untuk memelihara cabang sesuai yang dikehendaki. Agar sirkulasi udara di sekitar arel budidaya lancar maka dianjurkan memelihara satu cabang utama. Pemangkasan cabang lateral dimulai dari ruas ke-1 sampai ke-6. Cabang lateral pada ruas ke-7 sampai ke-10 dipelihara sebagai tempat bakal buah melon. Bakal buah diseleksi saat ukuran buah melon minimal sebesar telur, dipilih 2 buah melon yang sempurna. Setelah dilakukan seleksi buah, cabang lateral yang buahnya dipelihara dipangkas dengan menyisakan 3 helai daun diatasnya. Sedangkan cabang lateral yang buahnya tidak dipelihara, yang satu dipangkas di ruas ke-2 dan yang satunya lagi dipelihara sebagai cadangan daun untuk mengantisipasi kekurangan daun akibat serangan hama penyakit tanaman. Pemangkasan cabang lateral dilanjutkan pada ruas ke-12 sampai ke-33. Ujung cabang utama diatas ruas ke-33 kemudian dipangkas.
Buah melon perlu diikat pada gelagar untuk membantu batang tanaman menyangga beban buah melon. Pengikatan dilakukan pada cabang lateral yang berhubungan dengan tangkai buah melon membentuk huruf T.

Sanitasi Lahan dan Pengairan

Sanitasi lahan pada budidaya tanaman melon meliputi : pengendalian gulma/rumput, pengendalian air saat musim hujan sehingga tidak muncul genangan, pemangkasan daun melon serta pencabutan tanaman terserang hama penyakit tanaman.
Pengairan diberikan secara terukur, dengan penggenangan atau pengeleban seminggu sekali jika tidak turun hujan. Penggenangan jangan terlalu tinggi, batas penggenangan hanya 1/3 dari tinggi bedengan.

Pemupukan Susulan

Pemupukan susulan pada budidaya tanaman melon diberikan baik melalui akar maupun daun. Pupuk akar diberikan melalui pengocoran saat umur melon 15 hst, 25 hst, 35 hst (dosis 3kg NPK 15-15-15 dan 1kg ZK dilarutkan dalam 200lt air, untuk 1000 tanaman, tiap tanaman diberikan 200ml).
Pupuk daun kandungan nitrogen tinggi diberikan saat umur melon 7 hst dan 24 hst, sedangkan kandungan phospat, kalium dan mikro tinggi diberikan umur 20 hst, 30 hst serta 45 hst.

Defisiensi Unsur Hara

Defifiensi atau kahat unsur hara adalan kondisi dimana tanaman kekurangan makanan dalam hal ini adalah unsur hara yang dibutuhkan tanaman untuk melangsungkan proses hidupnya. Defisiensi atau kekurangan unsur hara pada budidaya tanaman melon tervital adalah saat tanaman kekurangan unsur kalium dan magnesium, karena kedua unsur ini mempengaruhi hasil panen buah melon. Deteksi dini adanya kahat kedua unsur ini perlu diketahui agar hasil peroduksi buah melon semakin optimal.

Kalium

Tanaman melon memerlukan unsur hara kalium dalam jumlah sangat banyak. Unsur ini berperan penting baik dalam penyusunan protein maupun karbohidrat. Selain itu pemberian unsur kalium yang cukup juga akan meningkatkan kualitas buah melon serta meningkatkan ketahanan tanaman baik terhadap serangan hama penyakit maupun kekeringan. Kekurangan kalium ditandai adanya gejala tepi daun melon menjadi kuning muda, kemudian berubah menjadi kecoklatan, akhirnya robek seolah bergerigi. Untuk mengatasi kekurangan unsur hara kalium dapat dilakukan pengocoran menggunakan pupuk KNO3, dapat pula dilakukan penyemprotan pupuk daun berkandungan kalium tinggi, misalnya pupuk MKP (Mono Kalium Phospat).

Magnesium

Selama proses budidaya, tanaman juga membutuhkan unsur magnesium dalam jumlah relatif banyak. Unsur ini berfungsi membentuk klorofil (zat hijau daun) serta mengaktifkan enzim-enzim dalam proses metabolisme. Kekurangan unsur magnesium ditandai terjadinya klorosis diantara tulang daun melon, warna daun menguning, terdapat bercak merah kecoklatan sedangkan tulang daun tetap berwarna hijau. Untuk mengatasi kekurangan unsur ini dapat dilakukan pengapuran dan penyemprotan pupuk daun berkandungan unsur magnesiun tinggi, misal magnesium sulfat.

PENGENDALIAN HAMA DAN PENYAKIT TANAMAN MELON

Masalah vital yang menjadi momok para petani melon tak lain adalah ketika melihat tanaman budidaya hancur terserang hama penyakit. Bayangan kegagalan melintasi benak mereka, menjadi sangat menyedihkan manakala kerugian juga menyertainya. Teknik dan cara budidaya tanaman melon perlu dikuasai untuk menghindari hal ini atau setidaknya menimimalkan resiko kegagalan selama proses budidaya, terutama cara pengendalian hama penyakit pada budidaya tanaman melon.

HAMA MELON

Hama Gangsir

Hama gangsir menyerang batang melon muda terutama pada tanaman baru saja pindah tanam. Serangannya dilakukan malam hari, hama gangsir memotong batang tanaman tetapi tidak memakannya. Hama ini bersembunyi di dalam tanah (membuat liang pada tanah), keberadaan gangsir dapat dicirikan adanya onggokan tanah di muka liang. Cara pengendaliannya adalah dengan pemberian insektisida berbahan aktif karbofuran sebanyak 1 gram per lubang tanam.

Hama Ulat Tanah

Hama jenis ini menyerang tanaman saat malam hari, sedangkan siang harinya bersembunyi di dalam tanah, terkadang juga bersembunyi di balik mulsa PHP. Hama ulat tanah menyerang batang tanaman muda, sama seperti hama gangsir, ulat tanah menyerang tanaman melon dengan cara memotongnya, sehingga sering dinamakan juga ulat pemotong. Cara pengendalia pada budidaya tanaman melon adalah dengan pemberian insektisida berbahan aktif karbofuran sebanyak 1 gram per lubang tanam.

Hama Ulat Grayak

Hama ulat grayak menyerang daun tanaman bersama-sama dalam jumlah sangat banyak, hama ulat ini biasanya menyerang di malam hari. Pengendalian serangan hama ulat grayak pada budidaya tanaman melon dilakukan penyemprotan insektisida berbahan aktif sipermetrin, deltametrin, profenofos, klorpirifos, metomil, kartophidroklorida, atau dimehipo. Dosis/konsentasi sesuai petunjuk di kemasan.

Hama Ulat Jengkal

Gejala serangan hama ulat ini ditandai tepi daun melon muda terdapat bekas gigitan serangga, makin lama makin ke tengah hingga tersisa tulang daunnya. Pengendalian serangan hama ulat jengkal dilakukan penyemprotan insektisida berbahan aktif sipermetrin, deltametrin, profenofos, klorpirifos, metomil, kartophidroklorida, atau dimehipo. Dosis/konsentasi sesuai petunjuk di kemasan.

Hama Thrips

Serangan hama thrips ditandai adanya bercak-bercak keperakan pada daun tanaman terserang. Hama ini lebih suka mengisap cairan daun melon muda sehingga menyebabkan daun terserang mengeriting, akhirnya tanaman menjadi kerdil. Pengendalian pada budidaya tanaman ini adalah dengan melakukan penyemprotan insektisida berbahan aktif abamektin, tiametoksam, imidakloprid, asetamiprid, klorfenapir, sipermetrin, atau lamdasihalotrin. Dosis/konsentasi sesuai petunjuk di kemasan.

Hama Kutu Daun

Hama kutu daun mengisap cairan tanaman terutama daun melon muda, kotoran dari hama kutu ini berasa manis sehingga mengundang semut. Daun melon terserang mengalami klorosis(kuning), menggulung lalu mengeriting, akhirnya tanaman menjadi kerdil. Pengendalian pada budidaya tanaman melon adalah melakukan penyemprotan insektisida berbahan aktif abamektin, tiametoksam, imidakloprid, asetamiprid, klorfenapir, sipermetrin, atau lamdasihalotrin. Dosis/konsentasi sesuai petunjuk di kemasan.

Hama Kutu Kebul

Hama ini berwarna putih, bersayap, tubuhnya diselimuti serbuk putih seperti lilin. Hama kutu kebul menyerang serta menghisap cairan sel daun melon sehingga sel-sel dan jaringan daun rusak. Pengendalian hama ini dengan cara penyemprotan insektisida berbahan aktif abamektin, tiametoksam, imidakloprid, asetamiprid, klorfenapir, sipermetrin, atau lamdasihalotrin. Dosis/konsentasi sesuai petunjuk di kemasan.

Hama Tungau

Hama tungau bersembunyi di balik daun melon serta menghisap cairan daun. Daun melon terserang berwarna kecoklatan, terpelintir, serta permukaan bawah daunnya terdapat benang-benang halus berwarna merah atau kuning. Pengendalian hama tungau pada budidaya tanaman melon dapat dilakukan penyemprotan menggunakan insektisida akarisida berbahan aktif propargit, dikofol, tetradifon, piridaben, klofentezin, amitraz, abamektin, atau fenpropatrin. Dosis/konsentasi sesuai petunjuk di kemasan.

Hama Kumbang Daun

Hama kumbang daun dinamakan juga oteng-oteng. Serangannya ditandai adanya bekas gigitan serangga membentuk guratan-guratan konsentris pada daun melon. Selain merusak daun, hama kumbang ini juga merusak bunga melon. Pengendaliannya dengan cara penyemprotan insektisida berbahan aktif sipermetrin, deltametrin, profenofos, klorpirifos, metomil, kartophidroklorida, atau dimehipo. Dosis/konsentasi sesuai petunjuk di kemasan.

Hama Lalat Buah

Lalat betina dewasa menyerang buah melon dengan cara menyuntikkan telurnya ke dalam buah, kemudian telur berubah menjadi larva, larva-larva ini akhirnya menggerogoti buah melon sehingga buah menjadi busuk. Pengendalian hama lalat buah pada budidaya tanaman melon dapat menggunakan perangkap lalat (sexpheromone), caranya : metil eugenol dimasukkan dalam botol aqua, lalu diikatkan pada bambu (posisi horisontal), atau dapat pula menggunakan buah-buahan yang aromanya disukai lalat (misal nangka, timun) kemudian dicampur insektisida berbahan aktif metomil. Selain itu juga dapat dilakukan penyemprotan menggunakan insektisida berbahan aktif sipermetrin, deltametrin, profenofos, klorpirifos, metomil, kartophidroklorida, atau dimehipo. Dosis/konsentasi sesuai petunjuk di kemasan.

Hama Tikus

Hama tikus menyerang buah melon saat malam hari, sedangkan siang hari biasanya hama ini bersembunyi dalam sarang. Cara pengendalian tikus pada budidaya tanaman melon adalah memberikan umpan yang telah dicampur rodentisida, campuran ini ditaruh di depan lubang tikus yang masih aktif, ditandai adanya sisa-sisa makanan baru pada lubang (terlihat jalan tikus, bekas dilalui tikus). Selain itu bisa juga dengan cara, pada lubang sarang aktif diberi karbit, lalu disiram air, kemudian lubang ditutup dengan tanah agar gas yang ditimbulkan oleh karbit tidak keluar.

Hama Nematoda

Serangan hama nematoda ditandai adanya bintil-bintil pada akar. Hama nematoda merupakan cacing tanah berukuran sangat kecil, hama ini merupakan cacing parasit menyerang bagian akar tanaman. Bekas gigitan cacing nematoda akhirnya menyebabkan serangan sekunder, seperti layu bakteri, layu fusarium, busuk phytopthora atau cendawan lain penyerang akar. Cara pengendalian nematoda adalah dengan pemberian insektisida berbahan aktif karbofuran sebanyak 1 gram per lubang tanam.

PENYAKIT MELON

Penyakit Rebah Semai

Penyakit Rebah semai biasa menyerang tanaman saat fase pembibitan. Cara pengendalian pada budidaya tanaman melon adalah melakukan penyemprotan menggunakan fungisida sistemik berbahan aktif propamokarb hidroklorida, simoksanil, kasugamisin, asam fosfit, atau dimetomorf (dosis ½ dari dosis terendah tertera di kemasan).

Penyakit Layu Bakteri

Penyakit ini sering menggagalkan tanaman, serangannya disebabkan oleh bakteri. Upaya pengendalian penyakit layu bakteri antara lain meningkatkan pH tanah, memusnahkan tanaman terserang, melakukan penggiliran tanaman serta penyemprotan secara kimiawi menggunakan bakterisida dari golongan antibiotik berbahan aktif kasugamisin, streptomisin sulfat, asam oksolinik, validamisin, atau oksitetrasiklin (dosis sesuai di kemasan). Sebagai pencegahan, secara biologi dapat diberikan trichoderma saat persiapan lahan, saat melon umur 20 hst dan 35 hst dilakukan pengocoran menggunakan pestisida organik pada tanah, contoh super glio, wonderfat. Dosis/konsentasi sesuai petunjuk di kemasan.

Penyakit Layu Fusarium

Gejala akibat serangan penyakit layu fusarium hampir sama dengan layu bakteri, yang membedakan hanyalah penyebabnya. Penyakit layu fusarium disebabkan oleh serangan jamur. Upaya pengendalian penyakit layu fusarium pada budidaya tanaman melon antara lain meningkatkan pH tanah, memusnahkan tanaman terserang, melakukan penggiliran tanaman serta penyemprotan secara kimiawi menggunakan fungisida berbahan aktif benomil, metalaksil atau propamokarb hidroklorida (dosis sesuai di kemasan). Sebagai pencegahan, secara biologi dapat diberikan trichoderma saat persiapan lahan, saat melon umur 20hst dan 35 hst dilakukan pengocoran menggunakan pestisida organik pada tanah, contoh super glio, wonderfat. Dosis/konsentasi sesuai petunjuk di kemasan.

Penyakit Busuk Phytopthora

Penyakit ini menyerang semua bagian tanaman. Batang melon terserang ditandai adanya bercak coklat kehitaman serta kebasah-basahan. Serangan serius menyebabkan tanaman layu. Daun melon terserang seperti tersiram air panas. Buah melon terserang ditandai bercak kebasah-basahan, lalu menjadi coklat kehitaman dan lunak. Pengendalian secara kimiawi pada budidaya tanaman melon menggunakan fungisida sistemik, gunakan bahan aktif seperti metalaksil, propamokarb hidrokloroda, simoksanil atau dimetomorf dan fungisida kontak, gunakan bahan aktif seperti tembaga, mankozeb, propineb, ziram, atau tiram. Dosis/konsentasi sesuai petunjuk di kemasan.

Penyakit Gummy Stem Blight

Penyakit ini bermula dari bagian bawah batang melon yang nampak seperti tercelup minyak, selanjutnya mengeluarkan cairan berwarna merah cokelat, akhirnya tanaman mati. Daun melon terserang ditandai adanya bercak bundar melekuk ke dalam berwarna cokelat kehitaman lama kelamaan daun melon akan mengering. Pengendalian secara kimiawi menggunakan fungisida sistemik, contoh bahan aktif yang bisa digunakan adalah benomil, metil tiofanat, karbendazim, tridemorf, difenokonazol, atau tebukonazol dan fungisida kontak berbahan aktif klorotalonil, azoksistrobin, atau mankozeb. Dosis/konsentasi sesuai petunjuk di kemasan.

Penyakit Powdery Mildew

Gejala diawali adanya bercak bulat kecil berwarna keputihan pada permukaan bagian bawah daun melon. Kemudian bercak akan menyatu, berkembang ke permukaan daun melon bagian atas sehingga daun seperti diselimuti tepung. Pengendalian secara kimiawi menggunakan fungisida sistemik, gunakan bahan aktif seperti benomil, metil tiofanat, karbendazim, difenokonazol, atau tebukonazol, dan fungisida kontak berbahan aktif klorotalonil, azoksistrobin, atau mankozeb. Dosis/konsentasi sesuai petunjuk di kemasan.

Penyakit Downy Midew

Terdapat bercak berwana kuning muda pada permukaan daun melon yang dibatasi oleh tulang daun, sedangkan pada permukaan daun bagian bawahnya terdapat massa spora berwarna kehitaman. Ketika terjadi serangan parah tulang daun melon membusuk, akhirnya menyebabkan tanaman mati. Pengendalian secara kimiawi pada budidaya tanaman melon menggunakan fungisida sistemik, gunakan bahan aktif seperti benomil, metil tiofanat, karbendazim, difenokonazol, atau tebukonazol, dan fungisida kontak berbahan aktif klorotalonil, azoksistrobin, atau mankozeb. Dosis/konsentasi sesuai petunjuk di kemasan.

Penyakit Antraknosa

Penyakit antraknosa sering juga diistilahkan dengan nama patek. Penyakit ini menyerang semua bagian tanaman, ditandai adanya bercak agak bulat berwarna cokelat muda, lalu berubah menjadi cokelat tua sampai kehitaman. Semakin lama bercak melebar, lalu menyatu akhirnya daun melon mengering. Gejala lain adalah bercak bulat memanjang berwarna kuning sampai cokelat. Buah melon terserang akan nampak bercak agak bulat, berlekuk berwarna cokelat tua, disini cendawan akan membentuk massa spora berwarna merah jambu. Pengendalian secara kimiawi pada budidaya tanaman melon menggunakan fungisida sistemik, contoh bahan aktif yang bisa digunakan adalah benomil, metil tiofanat, karbendazim, difenokonazol, atau tebukonazol, dan fungisida kontak berbahan aktif klorotalonil, azoksistrobin, atau mankozeb. Dosis/konsentasi sesuai petunjuk di kemasan.

Penyakit Kudis (scab)

Serangan pada buah melon muda akan tampak bercak berwarna hijau-cokelatan melekuk ke dalam, bagian pinggirnya mengeluarkan cairan yang akan mengering seperti karet. Pada buah melon tua serangan penyakit ini akan membentuk kudis bergabus, berwarna cokelat, tetapi proses pematangan buah melon tidak mengalami hambatan. Namun setelah dipanen, cendawan akan aktif serta buah melon mudah membusuk. Daun melon terserang akan terlihat bercak cokelat kebasah-basahan, serta mengeluarkan lendir. Pengendalian secara kimiawi pada budidaya tanaman melon menggunakan fungisida sistemik, contoh bahan aktif yang bisa digunakan adalah metalaksil, propamokarb hidrokloroda, simoksanil, atau dimetomorf dan fungisida kontak berbahan aktif tembaga, mankozeb, propineb, ziram, atau tiram. Dosis/konsentasi sesuai petunjuk di kemasan.

Penyakit Bercak Daun

Penyakit ini disebabkan oleh serangan bakteri, berkembang pesat terutama saat musim hujan. Serangan ditandai adanya bercak putih bersudut karena dibatasi tulang daun. Kemudian bercak berubah menjadi cokelat kelabu serta bagian bawah daun melon mengeluarkan cairan, akhirnya daun melon mengering. Pengendalian pada budidaya tanaman ini menggunakan bakterisida dari golongan antibiotik berbahan aktif kasugamisin, streptomisin sulfat, asam oksolinik, validamisin, atau oksitetrasiklin, atau dari golongan anorganik seperti tembaga. Dosis/konsentasi sesuai petunjuk di kemasan.

Penyakit Virus

Virus merupakan penyakit yang sangat berpotensi menimbulkan kegagalan terutama saat musim kemarau. Gejala serangan umumnya ditandai pertumbuhan tanaman mengerdil, daun melon mengeriting serta terdapat bercak kuning kebasah-basahan. Penyakit virus sampai saat ini belum ditemukan penangkalnya. Penyakit ini ditularkan dari satu tanaman ke tanaman lain melalui vektor (penular). Beberapa hama yang sangat berpotensi menjadi penular virus diantaranya adalah thrips, kutu daun, kutu kebul, maupun tungau. Manusia dapat juga berperan sebagai penular virus, baik melalui alat-alat pertanian maupun tangan terutama saat melakukan pemangkasan. Beberapa upaya penanganan virus antara lain : membersihkan gulma (karena gulma berpotensi menjadi inang virus), mengendalikan hama/serangga penular virus, memusnahkan tanaman terserang virus, kebersihan alat serta memberi pemahaman kepada tenaga kerja agar tidak ceroboh saat melakukan penanganan terhadap tanaman.

Strategi Pengendalian Hama dan Penyakit Tanaman Pada Budidaya Melon

Pengendalian hama gangsir, ulat tanah dan nematoda dilakukan secara bersamaan cukup satu kali pemberian insektisida, yaitu 1gram per lubang tanam.
Pengendalian hama ulat grayak, ulat jengkal, thrips, kutu daun, kutu kebul, tungau, kumbang daun serta lalat buah dan penyakit pada budidaya tanaman melon menggunakan pestisida harus dilakukan berseling atau penggantian bahan aktif yang tertera di atas setiap melakukan penyemprotan (jangan menggunakan bahan aktif yang sama secara berturut-turut).

PANEN MELON

Umur panen buah melon sangat bervariasi, yaitu antara 55-85 hst (hari setelah tanam). Faktor paling berpengaruh terhadap umur panen melon adalah genetik dan lingkungan. Buah melon dengan varietas yang berbeda akan memiliki umur panen berbeda pula sekalipun ditanam pada kondisi lingkungan sama. Demikian juga sebaliknya, varietas melon sama akan memiliki umur panen berbeda andaikata ditanam pada kondisi lingkungan berbeda, terutama ketinggian tempat.


LOGO TANIJOGONEGORO
TERIMA KASIH ATAS KUNJUNGANNYA
Tanijogonegoro On Google Plus