PETUNJUK APLIKASI PESTISIDA

Pestisida adalah suatu bahan yang digunakan untuk mengendalikan organisme pengganggu. Dalam dunia pertanian, pestisida memegang peranan penting demi terwujudnya pencapaian sasaran yang telah ditetapkan. Hampir semua sektor pertanian, terutama sektor budidaya tanaman, baik hortikultura maupun tanaman panggan, menggunakan pestisida sebagai salah satu sarana pengendalian organisme pengganggu tanaman atau OPT, bahkan banyak para petani yang bergantung pada peran pestisida. Namun, penggunaan secara tidak terukur dan tidak memahami cara kerja pestisida yang digunakan justru dapat membahayakan lingkungan dan kesehatan, baik pengguna maupun konsumen dari produk pertanian yang bersangkutan. Oleh karena itulah, artikel ini sengaja kami buat dengan harapan dapat memberikan kontribusi yang bermanfaat dalam dunia pertanian.

Klik untuk melihat DAFTAR BAHAN AKTIF PESTISIDA

CARA KERJA PESTISIDA

Racun Kontak

Pestisida jenis ini akan bekerja dengan baik jika terkena atau kontak langsung dengan OPT sasaran. Untuk jenis insektisida, penggunaan racun kontak sangat efektif untuk mengendalikan serangga yang menetap, seperti ulat, kutu daun, dan semut. Racun ini kurang bekerja baik terhadap serangga-serangga yang mempunyai mobilitas tinggi, seperti lalat buah, kutu kebul, dan belalang.

Racun Pernapasan

Cara kerja racun pernapasan hanya ada pada insektisida dan akan bekerja jika terhisap melalui organ pernafasan. Waktu penyemprotan paling efektif adalah ketika hama sasaran sedang berada pada puncak aktifitasnya, sehingga dengan pernapasan yang semakin cepat maka semakin banyak pula racun yang dihisap.

Racun Perut atau Racun Lambung

Racun dalam pestisida jenis ini akan bekerja jika bagian tanaman yang sudah disemprot termakan oleh hama/serangga sasaran. Beberapa rodentisida dan insektisida bekerja dengan cara ini.

Racun Sistemik

Pestisida jenis ini akan bekerja jika racun yang disemprotkan ke bagian tanaman sudah terserap masuk ke dalam jaringan tanaman baik melalui akar maupun daun sehingga dapat membunuh OPT yang berada di dalam jaringan tanaman, seperti bakteri/fungi. Pada insektisida sistemik, serangga akan mati kalau sudah memakan atau menghisap cairan tanaman yang sudah menyerap racun. Cairan atau bagian tanaman yang dimakan akan menjadi racun lambung bagi serangga. Racun sistemik sangat cocok untuk mengendalikan serangga penghisap atau serangga yang sulit dikendalikan menggunakan racun kontak.

Herbisida Purnatumbuh dan Pratumbuh

Pada herbisida purna tumbuh hanya akan bekerja pada bagian tanaman yang sudah memiliki organ sempurna, seperti akar, batang, dan daun. Sedangkan herbisida pra tumbuh akan mematikan biji gulma yang belum berkecambah.

FORMULASI PESTISIDA

Water Dispersable Granule (WDG)

Bentuk butiran halus, merupakan formulasi kering yang mudah dilarutkan dalam air. Tetapi formulasi ini dalam air agak kurang stabil sehingga mudah mengendap.

Emulsifiable Concentrate (EC)

Dibentuk dengan mencampurkan bahan aktif pestisida yang hanya larut dalam minyak dengan penambahan emulsi. Dengan demikian bahan aktif yang hanya larut dalam minyak dapat larut dalam air dan membentuk cairan seperti susu. Formulasi ini sangat stabil sehingga tidak dibutuhkan pengadukan berulang-ulang.

Salt Concentrate (SC)

Dibentuk dengan menggabungkan bahan aktif dari turunan (derifatif) garam dengan air. Bersifat cepat larut dan menyebar merata dalam air.

Wettable Powder (WP)

Dibentuk dari bahan aktif dengan daya larut rendah dan mengandung bahan tambahan (filler). Bahan aktif direkatkan pada bahan tambahan dengan bahan perekat.

Granule (G)

Berbentuk butiran padat dengan ukuran bervariasi sehingga formulasi ini mudah ditebarkan. Merupakan campuran antara bahan aktif dengan butiran yang mampu mengikat ion, seperti butiran liat atau vermikulit, atau dengan cara melapisi bahan aktif dengan polimer seperti kapsul.

Ultra Low Volume (ULV)

Formulasi ini berbentuk cair dengan kandungan bahan aktif sangat tinggi. Dirancang untuk disemprotkan dengan alat khusus, yaitu ULV.

KARAKTERISTIK PESTISIDA

Efektifitas Pestisida

Merupakan daya bunuh pestisida terhadap OPT. Pestisida yang baik memiliki daya bunuh yang cukup untuk mengendalikan OPT dengan dosis rendah sehingga memperkecil dampat buruk terhadap lingkungan.

Selektifitas

Merupakan kemampuan pestisida membunuh beberapa jenis organisme. Disarankan untuk menggunakan pestisida yang bersifat selektif atau berspektrum sempit. Dimana pestisida tersebut hanya membunuh OPT sasaran tanpa membahayakan organisme lain termasuk musuh alami OPT.

Fototoksisitas

Merupakan suatu efek samping aplikasi pestisida yang dapat menimbulkan keracunan bagi tanaman, ditandai dengan pertumbuhan abnormal setelah aplikasi pestisida. Oleh karena itu tidak boleh menggunakan pestisida secara tidak terukur atau berlebihan.

Residu Pestisida

Adalah kemampuan pestisida bertahan dalam bentuk racun setelah penyemprotan. Residu terlalu lama akan berbahaya bagi manusia dan lingkungan, sedangkan residu yang terlalu pendek akan mengurangi efektifitas pestisida dalam pengendalian OPT.

Persistensi

Kemampuan pestisida bertahan dalam bentuk racun di dalam tanah. Pestisida yang memiliki persistensi tinggi akan sangat berbahaya bagi lingkungan.

Resistensi

Merupakan kekebalan OPT terhadap pestisida. Pestisida yang memiliki potensi resistensi tinggi sebaiknya tidak digunakan. Untuk mencegah resistensi pada hama/penyakit terhadap salah satu jenis pestisida, sebaiknya dilakukan penggantian bahan aktif setiap kali aplikasi pestisida.

LD 50 atau Lethal Dosage 50%

Besarnya dosis yang dapat mematikan 50% dari jumlah mamalia percobaan. Pestisida yang memiliki LD 50 tinggi berarti hanya dengan dosis yang sangat tinggi pestisida tersebut dapat mematikan mamalia. Dalam penerapan PHT disarankan untuk memilih pestisida dengan LD 50 tinggi.

Kompatibilitas

Adalah kesesusaian antara satu jenis pestisida untuk dicampur dengan pestisida lain tanpa menimbulkan dampak negatif dari pencampuran itu.

PERJALANAN PESTISIDA SETELAH PENYEMPROTAN

Setelah melakukan penyemprotan, maka pestisida akan terkena pengaruh lingkungan. Dengan mengetahui pengaruh yang akan terjadi setelah pestisida disemprotkan, maka akan sangat membantu untuk membuat program penyemprotan sehingga pemakaian pestisida bisa mengikuti prinsip 4 tepat.

Setelah penyemprotan, kemungkinan pertama yang akan terjadi adalah tiupan angin terhadap kabut semprot, sehingga pestisida akan jatuh di tempat yang tidak diharapkan. Walaupun kabut semprot dapat mengenai sasaran, tetapi sebarannya sudah tidak merata, atau terlalu banyak kabut semprot yang terbuang, sehingga terjadi pemborosan pestisida. Kalau hal ini terjadi pada herbisida, maka tanaman utama akan beresiko terkena kabut semprot. Oleh karena itu disarankan penyemprotan tidak dilakukan saat angin bertiup kencang. Kemungkinan lain yang akan terjadi adalah :
  1. Run off, sebagian kabut semprot yang membasahi daun akan mengalir dan jatuh ke tanah, tetesan pestisida yang jatuh ke tanah ini berpotensi menimbulkan pencemaran lingkungan.
  2. Penguapan, sebaiknya penyemprotan tidak dilakukan saat matahari terik.
  3. Fotodekomposisi, penguraian pestisida menjadi bentuk tidak aktif karena pengaruh cahaya, sehingga efektifitas pestisida berkurang.
  4. Penyerapan oleh partikel tanah, menyebabkan tertimbunnya sisa pestisida di dalam tanah sehingga menyebabkan pencemaran tanah. Selain itu penyerapan oleh tanah juga akan menurunkan efektifitas pestisida yang memang ditujukan untuk mengendalikan OPT yang terdapat di dalam tanah.
  5. Pencucian pestisida oleh air hujan dan terbawa ke dalam lapisan tanah bagian bawah sehingga mencemari sumber air tanah.
  6. Reaksi kimia, yaitu perubahan molekul pestisida menjadi bentuk tidak aktif atau tidak beracun.
  7. Perombakan oleh mikroorganisme, bahan pembentuk pestisida setelah jatuh ke tanah akan menjadi bagian tubuh mikroorganisme.

PETUNJUK PENCAMPURAN PESTISIDA

  1. Jangan mencampur pestisida di tempat tertutup, lakukan pencampuran di tempat terbuka.
  2. Jangan menyimpan campuran pestisida, pencampuran pestisida dengan air hanya dilakukan saat penyemprotan.
  3. Gunakan air bersih dan tidak mengandung kotoran yang dapat menyumbat nozel.
  4. Masukkan air terlebih dahulu ke dalam tangki, baru pestisida dimasukkan dan diaduk.
  5. Jangan menggunakan pestisida yang terlalu lama disimpan dan sudah mengalami perubahan fisik, seperti terbentuknya garam di sekitar tutup botol atau terjadi perubahan warna.
  6. Jangan melakukan pencampuran pestisida satu dengan lainnya jika belum yakin bahwa kedua jenis pestisida tersebut dapat dicampur. Lakukan pengetesan, jika setelah pencampuran dua jenis pestisida terbentuk endapan, atau terbentuk lapisan yang tidak menyatu, seperti minyak dengan air, atau seperti santan pecah, maka kedua jenis pestisida tersebut tidak kompatible untuk dicampur.
  7. Jangan mencampur 2 pestisida atau lebih yang mempunyai cara kerja sama, sebagai contoh: Racun pernafasan dengan racun pernafasan, kontak dengan kontak atau sistemik dengan sistemik.
  8. Jangan mencampur 2 pestisida atau lebih dalam satu golongan, sebagai contoh: piretroid dengan piretroid atau karbamat dengan karbamat.
  9. Buatlah campuran pestisida sesuai perhitungan luas areal yang akan disemprot.
  10. Jangan meningkatkan dosis atau konsentrasi lebih tinggi dari kisaran yang tertera pada label. Jika pada dosis atau konsentrasi tertinggi sesuai yang tercantum pada kemasan suatu pestisida tidak lagi efektif mengendalikan OPT sasaran, maka disarankan untuk mengganti dengan bahan aktif yang berbeda.

PENGGUNAAN SURFAKTAN ATAU LEM

Penggunaan surfaktan sangat diperlukan dalam aplikasi pestisida. Permukaan daun yang memiliki lapisan lilin atau bulu-bulu halus menyebabkan kabut semprot tidak dapat melapisi secara sempurna. Oleh karena itu pemakaian surfaktan sangat disarankan pada budidaya yang berorientasi keuntungan. Surfaktan berfungsi untuk menurunkan tegangan permukaan air, sehingga kabut semprot yang jatuh di atas permukaan daun tidak membentuk butiran, tetapi menyebar ke seluruh permukaan daun. Selain itu surfaktan juga berfungsi sebagai perekat.

87 comments:

  1. Ulasan yang sangat bagus. Bolehkah saya jadikan refrensi artikel saya?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Boleh saja mas.... silahkan.... siap posting berarti memang untuk dibagikan...... semoga bermanfaat.

      Delete
  2. ikutan ya..berkomentar , bagus mbak ulasannya ,tapi coba deh kalau ditambah informasinya mengenai dampak resistensi racun contak terhadap manusia.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Trimakasih masukannya mas..... masih banyak rencana saya mengulas tentang pestisida, budidaya, pupuk, bahkan pertanian organik nantinya, tapi bertahap. Barangkali mau menambahkan referensi juga boleh mas..

      Delete
    2. martinus tonny situmorangFebruary 8, 2013 at 10:30 PM

      terima kasih atas ulasannya semoga bermanfaat bagi kami petani

      Delete
    3. Terima kasih kembali. Kami harap artikel Petunjuk Aplikasi Pestisida bisa memberikan manfaat yang besar

      Delete
  3. Wah bagus dan sangat bermanfaat,trimakasih Bu,tak ikutan mbagi nih

    ReplyDelete
    Replies
    1. Trimakasih.... Silahkan.... Semoga bermanfaat

      Delete
  4. Replies
    1. Maksudnya sprayer???.... di toko alat pertanian sudah banyak kok mas

      Delete
  5. bu mw tanya solusi untuk pencegahan potong leher pada tanaman padi gmn ?????

    ReplyDelete
    Replies
    1. Penyakit itu disebabkan oleh infeksi cendawan Pyricularia oryzae,
      cara pengedaliannya :

      1. Pengaturan jarak tanam
      2. penggunaan pupuk berimbang
      3. Penyemprotan Pestisida organik lebih dulu
      4. apabila serangan tdk terkendadi, aplikasikan fungisida berbahan aktif simoxanil, mankozeb, difenokonazole ... lakukan penyemprotan scr berseling

      Delete
    2. ijin gabung..
      tadi yang ditanyakan potong leher... maaf itu bukanya jenis hama penghisab?? kok yang diaplikasikan jenis fungisida??
      tolong penjelasnya...
      terima kasih.

      Delete
    3. Penyakit ini disebut juga blas. Pada fase vegetatif biasanya menginfeksi bagian daun, disebut blas daun (leaf blast). Pada fase generatif selain menginfeksi daun juga menginfeksi leher malai disebut blas leher (neck blast). Para petani menyebutnya sebagai potong leher. Jadi istilah potong leher pada hama penyakit padi ditujukan untuk menyebut blas.

      Delete
  6. trimakasih artikel ibu sangat membantu untuk memajukan dunia pertanian

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sama2, semoga bermanfaat ... SEMANGAT !!

      Delete
  7. trim sangat bermamfaat bagi saya. tolong di perjelas lagi jenis serangga pada tanaman padi saat primodial cocok pakai jenis racun apa , trims

    ReplyDelete
    Replies
    1. Terima kasih atas kunjungannya, sebentar lagi saya upload budidaya padi, lengkap dengan cara pengendalian hama penyakitnya

      Delete
  8. mantap bnget postingannya, menambah ilmu saya,.. bukan ilmu kebal loh,.. hehhee

    ReplyDelete
  9. mantap bangan
    pestisida yang bagus untuk tanaman tomat,kentang apa ya pak

    ReplyDelete
    Replies
    1. itu cara aplikasi pestisida secara umum, untuk semua tanaman. Untuk kentang bisa mengadopsi cara pengendalian hama penyakit pada budidaya tomat, karena secara umum karakter serangan OPTnya sama. terima kasih, semoga bermanfaat

      Delete
  10. kbtulan nih ak sedang bertani lg nanem kentang.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Semoga berhasil dan sukses, baik dari segi budidaya maupun harga, mudah2an artikel ini bisa memberi tambahan referensi pengendalian hama penyakit.

      Delete
  11. Saya seorang arsitek, tapi sangat suka dengan tulisan2 tentang pertanian. Tulisan anda sangat bagus untuk memajukan pertanian kita. Terimakasih. :

    ReplyDelete
    Replies
    1. Terima kasih apresiasinya, semoga bermanfaat

      Delete
  12. mohon petunjuknya bu, bagaimana cara mambedakan layu fusyarium dan bakteri, pada tanaman tomat, dan bagaimana cara untuk menanggulanginya. terimakasih..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Secara fisik sangat susah untuk debedakan, salah satu cara yang bisa dilakukan untuk membedakannya adalah dengan memotong leher akar tanaman terserang, kemudian bekas potongan tadi dimasukkan kedalam air jernih, ditunggu beberapa saat, jika keluar eksudat berwarna putih menyerupai asap, maka tanaman tersebut kemungkinan besar terserang bakteri. jika tidak mengeluarkan eksudat, berarti tanaman tersebut terserang cendawan Fusarium sp. untuk cara pengendalian bisa dilihat pada artikel Budidaya Tomat. Terima kasih atas kunjungannya.

      Delete
  13. Artikelnya sangat bagus dan bermanfaat...Surfaktan itu bisa di peroleh dari bahan apa.
    Terima kasih

    ReplyDelete
    Replies
    1. Petani mengenal Surfaktan dengan sebutan lem atau perekat Pestisida. Untuk aplikasi Pestisida organik biasanya digunakan putih telur sebagai Surfaktan

      Delete
    2. Apakah hanya putih telur saja??? Bahan utamanya apa2 saja, bu??

      Delete
    3. Itu referensi yang saya dapatkan saat pelatihan pembuatan pestisida organik, jadi saya tidak mempunyai referensi lain.

      Delete
  14. Saya mau bertanya bu,
    bagai mna cara mengendlikan hama seperti ulat grayak.
    Ini sudah di lakukan penyemprotan dengan insektisida berbhan aktif TRIAZOFOS 210 g/l dan DELTAMETHRIN 15 g/l tetapi tidak mampu,
    mohon penjelasannya.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Pengendalian ulat, baik itu ulat grayak, ulat buah, ulat penggulung, dll., secara umum strategi pengendaliannya sama, antara lain :
      1). Pengamatan rutin harus dilakukan;
      2). Pengendalian jangan terlambat, usahakan pengendalian dilakukan pada saat ulat masih pada stadium larva 1 (baru menetas);
      3). Gunakan agensia hayati, seperti aplikasi bakteri BT.
      4). Apabila terpaksa harus menggunaka insektisida, gunakan bahan aktif yang tidak pernah dipakai oleh petani setempat dengan dosis sesuai yang tertera pada kemasan;
      5). Lakukan penggiliran 4-5 bahan aktif secara berturut-turut untuk memecah resistensi hama.
      Lihat cara pengendalian hama pada artikel Budidaya Cabai, Budidaya Tomat, atau Budidaya Terong


      Terima kasih atas kunjungannya di Petunjuk Aplikasi Pestisida

      Delete
  15. Mampir ya kawan2 http://maulana.iwopop.com

    ReplyDelete
  16. mantap artikelnya gan...... sngat bagus utk di jdikan pedoman bagi petani termasuk saya.........hehehehe

    ReplyDelete
    Replies
    1. Terima kasih, saya harap dengan referensi Petunjuk Aplikasi Pestisida petani bisa lebih berhati-hati dalam menggunakan Pestisida

      Delete
  17. Artikelnya sangat bermanfaat..
    This site is one of the best I have found.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Terima kasih, semoga saja demikian. Thanks for join me Petunjuk Aplikasi Pestisida

      Delete
  18. Terima Kasih,,,
    Artikel postingannya sangat bermanfaat bagi kami sebagai petani.
    saya berharap selalu ada update yang lebih aktual dengan perkembangan penyakit tanaman saat ini.
    trims mbak.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Terima kasih, akan kami usahakan untuk memperbarui informasi Petunjuk Aplikasi Pestisida

      Delete
  19. hebat ni baru prempuan indonesis asli

    ReplyDelete
    Replies
    1. Terima kasih, selamat bergabung di Petunjuk Aplikasi Pestisida

      Delete
  20. herbisida untuk golongan rumput teki yang pas apa ya bu?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Untuk rumput teki gunakan Herbisida Sistemik dengan bahan aktif isopropilamina glifosat, saya biasa menggunakan itu, 3 kali aplikasi (3 minggu sekali saat musim hujan dan 4 minggu sekali saat musim kemarau) lahan sudah bersih.

      Delete
  21. Bu saya mau bertanya lagi nih.
    Bagaimana cara mengendalikan seaput darat atau tengek yang saat ini sedang merajalela di wilayah saya dan sangat merugikan.
    Saat ini saya sudah melakukan penanggulangan dengan menggunakan SIPUTOX 5 G tetapi tidak mampu.
    Bagaimana cara yang paling epektip untuk mengendalikan hama tersebut.
    Mohon penjelasannya bu.
    Terimakasih.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Coba menggunakan dedak+kalsium+insektisida berbahan aktif metomil. taburkan di sekitar titik tanam pada sore hari. silahkan dilihat hasilnya.

      Delete
  22. Kalau yang di maksud inpeksi cendawan itu apa bu ?

    ReplyDelete
    Replies
    1. infeksi cendawan merupakan penyakit yang diakibatkan serangan cendawan/fungi/jamur

      Delete
    2. Kalau pengertian trichoderma itu apa bu ?
      Terus yang di maksud wonderfat itu nama bahan aktif pestisida bukan ?

      Delete
    3. Trichoderma adalah jenis jamur yang menguntungkan tanaman, karena trichoderma bersifat memparasit patogen(penyakit) sehingga dengan aplikasi trichoderma diharapkan perkembangan penyakit tular tanah bisa lebih ditekan.

      Wonderfat merupakan salah satu merk dagang dari pestisida organik yang aman diaplikasikan ke tanah. sehingga penanganan penyakit tanah menggunakan wonderfat tidak beresiko merusak areal budidaya.

      Delete
  23. Mantap dan sangat bermanfaat.. :) Love Indonesia

    ReplyDelete
    Replies
    1. terima kasih, selamat bergabung Mr. Freesh Jhosn

      Delete
  24. artikel yang bagus... LANJUTKAN..
    Oiya.. ada ulasan artikel tentang Bahan aktif + fungsinya gak? terima kasih

    ReplyDelete
    Replies
    1. Bahan aktif pestisida bisa dilihat di Daftar Bahan Aktif Pestisida. Fungsi pestisida yang umum digunakan di pertanian antara lain herbisida, moluskisida, rodentisida, akarisida, insektisida, fungisida, bakterisida.

      Delete
    2. kalu untuk fungsi bahan aktif tersebut apa aja?
      suatu contoh di insektisida berbahan aktif Abamectin itu fungsinya untuk apa aja?? terima kasih

      Delete
    3. Sampai saat ini saya belum menemukan fungsi masing-masing bahan aktif secara pasti. Menurut informasi yang saya ketahui, untuk menentukan fungsi bahan aktif harus melalui uji penggunaan pestisida bersangkutan yang secara sah dilaporkan kepada pemerintah. Sehingga masing-masing merk dagang sekalipun mengemas bahan aktif yang sama, akan tetapi petunjuk penggunaannya sudah berbeda. faktor lain yang mempengaruhi misalnya formulasi dan bahan pembawa. Kita ambil contoh, antara merk dagang agrimec dengan merk dagang demolish, sama-sama insektisida berbahan aktif abamektin, tetapi penggunaan pestisida tersebut sudah berbeda, baik itu hama sasaran maupun dosis atau konsentrasi penggunaan. Kalau saya sendiri untuk menentukan fungsi suatu bahan aktif pestisida dengan cara menggabungkan beberapa petunjuk yang berhubungan dengan sasaran pestisida dimaksud dari berbagai merk dagang yang berbahan aktif sama. Mohon maaf jika penjelasa saya tidak sesuai dengan jawaban yang diharapkan, karena keterbatasan referensi saya. Jika Anda memiliki referensi yang lebih mengena, mohon untuk berbagi sehingga bisa melengkapi informasi kita.

      Delete
    4. terima kasih atas penjelasanya..
      oiya bu Novik untuk masalah penggabungan 2, 3 - 5 bahan aktif berbeda di satu jenis insektisida itu bisa gak??
      dan penggabungan insektisida+fungisida+zat pengatur tumbuh??
      terima kasih ... tolong penjelasanya..

      Delete
    5. Selama pestisida tersebut kompatible untuk dicampur tidak masalah. Tetapi sampai saat ini saya belum menemukan referensi tentang kompatibilitas pencampuran pestisida. Pemerintah sendiri agaknya membatasi referensi pencampuran pestisida, agar penggunaanya tidak berlebihan. Jadi lebih aman tidak melakukan pencampuran bahan aktif. Tetapi jika sangat mendesak, sebagai petani kita hanya mengamati ciri-ciri fisik campuran pestisida tersebut. Jika campurannya terlihat seperti air santan yang sudah pecah/basi, maka pesetisida tersebut tidak kompatible untuk dicampur. Atau jika pestisida tersebut bersifat asam, maka jangan dicampur dengan pestisida lain yang bersifat basa. Usahakan untuk tidak mencampur pestisida golongan karbamat dengan organofosfat, karena dapat mengurangi daya bunuh pestisida tersebut. menurut informasi yang saya ketahui, pencampuran pestisida yang paling bersinergi adalah dari golongan piretroid dan organofosfat.

      Delete
    6. terima kasih penjelasanya..
      untuk membasmi sundep, beluk yang efektif itu gimana??
      pertanyaan ini muncul masalahnya udah pernah diaplikan bahan aktif dimohipo tapi belum terlihat hasilnya!!!!

      Delete
    7. Sundep dan beluk disebabkan karena serangan penggerek batang, kurang lebih delapan spesies hama yang menyerang. Jika salah satu dari delapan spesies dimaksud sudah resisten terhadap salah satu bahan aktif tertentu, misalnya dimehipo, maka aplikasi bahan aktif tersebut tidak akan menghentikan serangan. Untuk memecah resistensi, harus dilakukan penggantian atau penyelingan bahan aktif setiap melakukan penyemprotan. beberapa bahan aktif yang bisa digunakan antara lain, fipronil, monosultap, bisultap, bensultap, metomil, karbosulfan, karbofuran atau amitraz dengan dosis/konsentrasi sesuai petunjuk pada kemasan.

      Delete
    8. terima kasih.. semoga bisa bermanfaat untuk semuanya.

      Delete
    9. Terima kasih juga telah berkali-kali berkunjung di blog ini.

      Delete
    10. mau tanya lagi niee..
      untuk cara pengendalian dan pencegahan timbulnya penyakit kriting pada tanaman melon itu gimana bu? tolong pencerahanyaa...

      Delete
    11. Penyakit keriting yang menyerang berbagai tanaman disebabkan oleh virus. Hingga saat ini belum ada pestisida yang mampu mengendalikan. Sebagai pelaku, langkah yang paling tepat adalah melakukan pencegahan untuk mengurangi resiko kerusakan. Yang dapat dilakukan antara lain :

      1) Penerapan strip planting (tanaman perangkap). Daerah disekitar lahan dikelilingi tanaman pagar. Beberapa tanaman yang bisa digunakan sebagai tanaman antara lain jagung, buncil, kancang panjang, dan bunga matahari.

      2) Sterilisasi lahan. Memusnahkan tanaman terserang.

      3) Tenaga kerja juga bisa menjadi perantara penular virus, sehingga kontrol terhada tenaga kerja harus dilakukan, agar tidak menyentuh tanaman terserang virus.

      4) Kendalikan serangga vektor, seperti thrips, kutu kebut, kutu daun, tungau.

      5) Berikan nutrisi yang cukup bagi tanaman, terutama dengan aplikasi pupuk organik yang tinggi. Jika perlu berikan tambahan pupuk organik yang berkualitas.

      6) Aplikasi pupuk organik dari awal persiapan lahan dan dilakukan secara rutin pada fase pemeliharaan hingga panen, akan lebih menyehatkan tanaman dibanding aplikasi pupuk kimia. Tanaman yang sehat lebih mampu untuk menahan serangan virus.

      7) Gunakan varietas yang tahan terhadap serangan virus sekalipun sulit untuk mendapatkan. Secara pribadi, saya lebih memilih bibit unggul buatan petani, untuk jenis tanaman apa saja, dari pada menggunakan bibit hasil hibridasi, dengan catatan seleksi dan pengamanan induk tanaman harus benar-benar dilakukan dengan ketat.

      Delete
  25. bagaimana teknik peremajaan jeruk yang efektif

    ReplyDelete
    Replies
    1. Teknik peremajaan yang paling efektif adalah penanaman ulang atau replanting. Sehingga saat memutuskan untuk melakukan penanaman ulang, lahan betul-betul harus dipersiapkan. Upayakan sebelum melakukan peremajaan terlebih dahulu melakukan penggiliran tanaman untuk memutus siklus hidup hama penyakit.

      Delete
  26. artikel yg sangat bagus,saya mau tanya bu untuk menggeburkan tanah menjadi lebih halus (jadi lumpur),itu bagaimana caranya apakah ada semacam cairan(obat)untuk menjadikan tanah lumer?,karena saat ini tanah sawah saya keras sekali,terimakasih sebelumnya

    ReplyDelete
    Replies
    1. Memperbaiki struktur tanah agar lebih subur bisa menggunakan pupuk organik dan bisa juga ditambahkan agensia hayati misalnya EM4.

      Delete
    2. terimakasih bu,trs cara mengaplikasikan EM4 nya bagaimana bu?,apakah di kocorkan ke pupuknya atau di kocorkan pada saat sawah di olah?,maaf banyak tanya

      Delete
    3. Cara aplikasi terserah, pilih yang termudah, sehingga tidak menyulitkan proses budidaya

      Delete
    4. maaf tanya lagi,dalam pengaplikasian ini dosis yang diperlukan untuk sawah 1hektar, pupuk organiknya berapa ton dan EM4 nya berapa liter?,terima kasih

      Delete
    5. Pupuk organik semakin banyak diberikan akan semakin baik, tetapi karena biaya aplikasi pupuk organik sangat tinggi, sehingga petani mengalami kesulitan modal untuk mengaplikasikan pupuk organik dalam jumlah besar. Hal itu juga berlaku untuk aplikasi agensia hayati. Berdasarkan pengalaman pribadi, untuk lahan hortikultura saya menetapkan standar pemupukan organik sebanyak 40 ton/ha. Sedangkan untuk lahan penanam padi saya menetapkan standar pemupukan organik sebanyak 4 ton/ha. Agensia hayati, misal EM4, sudah saya aplikasikan pada saat melakukan pengomposan. Aplikasi susulan hanya saya lakukan pada budidaya hortikutura, terutama untuk tanaman cabe, tomat, melon, dan pepaya. Dosis pemberiannya hanya saya sesuaikan dengan keadaan modal.

      Delete
    6. siiiip terimakasih banyak bu,smoga blog ini terus update dan sangat di tunggu ulasan2 yang lainnya

      Delete
    7. Terima kasih juga atas kunjungannya, semoga bisa mendapatkan manfaat dari blog kami, Petunjuk Praktis Budidaya Pertanian

      Delete
  27. Replies
    1. Terima kasih, semoga produk Anda bisa berkembang pesat.

      Delete
  28. terimakasih Bu Novik,
    senang sekali menimba ilmu di laman ini
    kalau boleh tolong posting juga teknik budidaya kentang dong bu..
    sekalian mau nanya, herbisida apa yg baik utk mengendalikan gulma tanaman kentang tanpa merusak tanaman kentang itu sendiri ?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Untuk tanaman kentang dengan sistem budidaya tanpa mulsa, 5 hari sebelum tanam lahan disemprot dengan herbisida pra-tumbuh, contoh bahan aktif yang bisa digunakan adalah oksifluorfen. Untuk pengendalian gulma yang ada di parit bisa menggunakan herbisida kontak, contoh bahan aktif yang bisa digunakan adalah paraquat diklorida. Selama penyemprotan herbisida tersebut dilakukan dengan hati-hati, maka tidak akan membahayakan tanaman kentang.

      Rencana memang akan kami posting artikel tentang budidaya kentang, dan sekarang masih dalam proses editing. Terima kasih atas kunjungannya.

      Delete
  29. daftar bahan aktif dan golongan pestisidanya mana?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Mohon untuk mencermati artikelnya, link ke daftar bahan aktif pestisida sudah kami sertakan di bagian atas, atau Anda membaca daftar isi artikel di sidebar kanan.

      Delete
  30. mau tanya bu, kalau herbisida pra tumbuh sama moluskisida keduanya bentuk WP bisa di campur? ada efeknya tidak terhadap unsur kimianya bu, terimakasih

    ReplyDelete
    Replies
    1. Tergantung pada sifat bahan aktifnya, tapi kebanyakan herbisida dan moluskisida bisa dicampur.

      Delete
  31. bu mau tanya,,apakah penggunaan insektisida dan fungisida pd tanaman cabai itu harus di sesuaikan dg umur tanaman?? terimakasih

    ReplyDelete
    Replies
    1. Biasanya jenis hama penyakit menyerang pada umur atau fase tanaman tanaman tertentu. Untuk tanaman cabai muda, jenis hama penyakitnya berbeda dengan tanaman cabai yang sudah tua. Sehingga pestisida yang digunakan bisa jadi berbeda. Selain itu, pada tanaman cabai yang masih muda konsentrasi penyemprotan juga lebih rendah dibanding tanaman cabai yang sudah tua.

      Delete
  32. bu mo tanya untuk mengatasi penyakit kutu kebul dan busuk buah pada tanaman terong,,,,pestisida yg paling ampuh itu apa????terima kasih

    ReplyDelete
  33. Untuk mengendalaikan hama penyakait pada tanaman terong silahkan lihat di artikel Budidaya Terong. Pembahasan di artikel tersebut sudah lengkap, termasuk jenis hama penyakit dan bahan aktif pestisida yang digunakan. Semoga bisa membantu kegiatan budidaya yang dilakukan.

    ReplyDelete

Tanijogonegoro.com: Menyajikan Informasi Terbaik
Tanijogonegoro.com: Menyajikan Informasi Terbaik

LOGO TANIJOGONEGORO
TERIMA KASIH ATAS KUNJUNGANNYA
Tanijogonegoro On Google Plus