BUDIDAYA JAHE

Budidaya Jahe - Jahe dengan nama ilmiah Zingiberaceae merupakan keluarga temu-temuan, sama halnya dengan temu-temuan lainnya seperti temu hitam (Curcuma aeruginosa), temu lawak (Cucuma xanthorrizha), kencur (Kaempferia galanga), kunyit (Curcuma domestica), lengkuas atau laos (Languas galanga) dan lain-lain. Pada artikel pendek ini kami akan membahas beberapa hal tentang jahe, diantaranya adalah klasifikasi tanaman jahe, deskripsi jahe, jenis jahe, manfaat jahe, serta budidaya jahe.

KLASIFIKASI TANAMAN JAHE

Divisi : Spermatophyta
Sub-divisi : Angiospermae
Kelas : Monocotyledoneae
Ordo : Zingiberales
Famili : Zingiberaceae
Genus : Zingiber
Species : Zingiber officinale

DESKRIPSI TANAMAN JAHE

Tanaman Jahe merupakan salah satu jenis tanaman berbatang semu, tanaman ini memiliki bentuk daun memanjang dan berpasangan dengan panjang berkisar antara 15-25 cm, panjang tangkai daunnya antara 2-4 cm, tangkai daun tanaman jahe memiliki bulu halus, sedangkan lidah daunnya tidak berbulu, berbentuk memanjang kurang lebih 7,5-10 cm, seludang agak berbulu. Tinggi tanaman jahe dapat mencapai 30 cm, bahkan hingga 1 m jika ditanam di tempat yang subur dengan unsur hara yang memenuhi kebutuhan tanaman. Rimpang jahe berwarna coklat muda, dengan daging berwarna kuning muda atau jingga tergantung varietasnya.

Bunga jahe berupa malai berbentuk bulat telur yang sempit atau terkadang menyerupai tongkat dengan panjang 2,75–3 kali lebarnya. Malai ini keluar langsung di permukaan tanah, sangat tajam dan memiliki panjang 3,5–5 cm, lebar 1,5–1,75 cm, sedangkan tangkai bunganya memiliki panjang 25 cm sedikit berbulu, rahis berbulu jarang, pada tangkai bunga terdapat sisik dengan panjang 3–5 cm, berjumlah 5–7 buah saling berdekatan, berbentuk lanset, hampir tidak berbulu, daun pelindung memiliki panjang 2,5 cm, lebar 1–1,75 cm, berbentuk bundar telur terbalik dan bundar pada ujungnya, tidak berbulu, mahkota bunga berbentuk tabung 2-2,5 cm, berbentuk tajam, berwarna kuning kehijauan, helainya agak sempit, panjang 1,5-2,5 mm, lebar 3-3,5 mm, bibir berwarna ungu, gelap, berbintik-bintik berwarna putih kekuningan, panjang 12-15 mm, kepala sari berwarna ungu dengan panjang 9 mm, tangkai putik berjumlah 2.

JENIS JAHE




Jahe gajah atau jahe badak

Jahe gajah atau sering juga dikenal dengan naman jahe badak ini memiliki rimpang yang lebih besar dan gemuk dari jenis jahe lainnya. Tanaman ini lebih disukai para petani karena cara pemanenannya lebih mudah meskipun seringkali harga jahe gajah jauh lebih murah jika dibandingkan dengan jahe emprit atau jahe merah. Karena produktivitasnya lebih tinggi biasanya mampu menutup selisih harga dari keduanya. Jahe gajah dapat dikonsumsi baik saat berumur muda maupun berumur tua, baik sebagai jahe segar maupun jahe olahan.

Jahe putih atau jahe emprit

Jenis jahe putih atau jahe emprit biasanya memiliki harga yang lebih baik di pasaran, namun karena ruas rimpangnya kecil menjadi kurang disukai oleh para pengusaha pertanian, apalagi jahe putih atau jahe emprit ini selalu dipanen setelah berumur tua sehingga waktu pemanenannya lebih lama. Jahe emprit lebih banyak dimanfaatkan sebagai ramuan obat tradisional karena kandungan minyak atsirinya lebih besar dari pada jahe gajah, sehingga memiliki rasa lebih pedas. Selain itu, kandungan seratnya pun lebih tinggi. Jahe putih kecil atau jahe emprit ini juga sering diekstrak oleoresin dan minyak atsirinya oleh para industri jamu.

Jahe merah atau jahe wulung

Jahe merah atau lebih dikenal dengan nama jahe wulung oleh orang jawa, memiliki bentuk rimpang yang hampir sama dengan jahe putih atau jahe emprit. Namun warnanya berbeda, rimpang dan daging jahe merah berwarna merah. Sama halnya dengan jahe emprit, jahe merah pun selalu dipanen setelah tua sehingga waktu panennya lebih lama. Kandungan minyak atsiri jahe merah setara dengan jahe kecil atau jahe emprit, sehingga sangat cocok untuk ramuan obat-obatan.

MANFAAT TANAMAN JAHE

Jahe dengan berbagai varietasnya seringkali dimanfaatkan sebagai bumbu masak oleh para ibu rumah tangga, pemberi aroma dan rasa pada makanan seperti roti, kue, biskuit, kembang gula dan berbagai minuman. Selain itu, tanaman jahe juga dapat digunakan pada industri obat, minyak wangi, industri jamu tradisional, diolah menjadi jahe instan, asinan, dibuat acar, lalap, bandrek, sekoteng dan sirup. Dewasa ini para petani cabe memanfaatkan jahe sebagai pestisida alami untuk menglangsungkan budidaya pertanian, tentunya ketika harganya sedang murah di pasaran sehingga dapat menekan input yang dikeluarkan. Dalam sektor perdagangan, jahe juga dijual dalam bentuk segar, kering, jahe bubuk maupun awetan jahe. Disamping itu terdapat hasil olahan jahe seperti: minyak astiri dan koresin yang diperoleh dengan cara penyulingan yang berguna sebagai bahan pencampur dalam minuman beralkohol, es krim, campuran sosis dan lain-lain.

Manfaat lain dari jahe ini secara pharmakologi antara lain adalah sebagai karminatif (peluruh kentut), antimuntah, pereda kejang, antipengerasan pembuluh darah, peluruh keringat, antiinflamasi, antimikroba dan parasit, antipiretik, antirematik, serta merangsang pengeluaran getah lambung dan getah empedu.

SENTRA BUDIDAYA JAHE

Budidaya tanaman jahe dibudidayakan di seluruh Indonesia, ditanam di kebun dan di pekarangan. Pada saat ini jahe telah banyak dibudidayakan di Australia, Srilangka, Cina, Mesir, Yunani, India, Indonesia, Jamaika, Jepang, Meksiko, Nigeria, Pakistan. Jahe dari Jamaika mempunyai kualitas tertinggi, sedangkan India merupakan negara produsen jahe terbesar, yaitu lebih dari 50 % dari total produksi jahe dunia.

CARA BUDIDAYA JAHE

Syarat Tumbuh Tanaman Jahe

Tanaman jahe membutuhkan curah hujan relatif tinggi, yaitu antara 2.500-4.000 mm/tahun. Pada umur 2,5 sampai 7 bulan atau lebih tanaman jahe memerlukan intensitas cahaya matahari 70-100%. Dengan kata lain budidaya tanaman jahe sebaiknya dilakukan di tempat terbuka sehingga mendapat sinar matahari sepanjang hari. Suhu udara optimum budidaya jahe antara 20-35°C. Tanaman jahe paling cocok ditanam pada tanah subur, gembur dan banyak mengandung humus. Tekstur tanah yang baik adalah lempung berpasir, liat berpasir dan tanah laterik. Tanaman dapat tumbuh pada pH Tanah sekitar 4,3-7,4. Tetapi keasaman tanah (pH) optimum untuk jahe gajah adalah 6,8-7,0. Jahe tumbuh baik di daerah tropis dan subtropis dengan ketinggian 0-2.000 mdpl. Di Indonesia, pada umumnya budidaya jahe dilakukan pada ketinggian 200-600 mdpl.

Pembibitan Jahe

Persyaratan Bibit Jahe

Bibit berkualitas adalah bibit yang memenuhi syarat mutu genetik, mutu fisiologik (persentase tumbuh tinggi), dan mutu fisik. Mutu fisik adalah bibit bebas hama dan penyakit. Rimpang untuk dijadikan benih, sebaiknya mempunyai 2-3 bakal mata tunas dengan bobot sekitar 25-60 g untuk jahe putih besar, 20-40 g untuk jahe putih kecil atau jahe emprit dan jahe merah. Kebutuhan benih per ha untuk jahe putih besar (panen tua) adalah 15 ton/ha, dan 7,5 ton/ha untuk jahe putih besar panen muda. Sedangkan jahe merah dan jahe emprit 5 ton.

Teknik Penyemaian Bibit Jahe

Pada budidaya tanaman jahe, untuk mendapatkan pertumbuhan tanaman yang seragam, bibit jahe sebaiknya jangan langsung ditanam, tetapi terlebih dahulu harus dikecambahkan. Penyemaian bibit jahe dapat dilakukan dengan peti kayu atau ditaruh di atas bedengan.

Penyemaian Jahe pada Peti Kayu

Rimpang jahe yang baru dipanen dijemur sementara (tidak sampai kering), kemudian disimpan sekitar 1-1,5 bulan. Patahkan rimpang tersebut dengan tangan dimana setiap potongan memiliki 3-5 mata tunas dan dijemur ulang 1/2-1 hari. Selanjutnya potongan bakal bibit jahe tersebut dikemas ke dalam karung beranyaman jarang, lalu dicelupkan dalam larutan fungisida dan zat pengatur tumbuh sekitar 1 menit kemudian keringkan. Setelah itu bibit jahe dimasukkan kedalam peti kayu. Lakukan cara penyemaian dengan peti kayu sebagai berikut: pada bagian dasar peti kayu diletakkan bakal bibit selapis, kemudian diatasnya diberi abu gosok atau sekam padi, demikian seterusnya sehingga yang paling atas adalah abu gosok atau sekam padi. Setelah 2-4 minggu, bibit jahe siap disemai.

Penyemaian Jahe pada Bedengan

Buat rumah penyemaian sederhana ukuran 10 x 8 m untuk menanam bibit 1 ton (kebutuhan jahe gajah seluas 1 ha). Buat bedengan dari tumpukan jerami setebal 10 cm. Rimpang bakal bibit jahe disusun pada bedengan jerami lalu ditutup jerami, diatasnya diberi rimpang tutup dengan jerami, demikian seterusnya, sehingga didapatkan 4 susunan lapis rimpang dengan bagian atas berupa jerami. Perawatan bibit jahe pada bedengan dapat dilakukan dengan penyiraman setiap hari dan sesekali disemprot dengan fungisida. Setelah 2 minggu, biasanya rimpang sudah bertunas. Bila bibit bertunas dipilih agar tidak terbawa bibit jahe berkualitas rendah. Bibit hasil seleksi itu dipatah-patahkan dengan tangan dan setiap potongan memiliki 3-5 mata tunas dan beratnya 40-60 gram.

Penyiapan Bibit Jahe

Pada budidaya jahe, sebelum ditanam, bibit harus dibebaskan dari ancaman penyakit dengan cara dimasukkan ke dalam karung dan dicelupkan ke dalam larutan fungisida sekitar 8 jam. Kemudian bibit jahe dijemur 2-4 jam, barulah ditanam.

Persiapan Lahan Budidaya Jahe

Pembukaan Lahan

Pengolahan tanah diawali dengan dibajak sedalam kurang lebih dari 30 cm dengan tujuan untuk mendapatkan kondisi tanah yang gembur atau remah dan membersihkan tanaman pengganggu. Setelah itu tanah dibiarkan 2-4 minggu agar gas-gas beracun menguap serta bibit penyakit dan hama akan mati terkena sinar matahari.

Pembentukan Bedengan dan Pemupukan Dasar

Pada budidaya tanaman jahe, untuk memudahkan pemeliharan sekaligus untuk mencegah terjadinya genangan air, sebaiknya tanah diolah menjadi bedengan-bedengan dengan ukuran tinggi 20-30 cm, lebar 80-100 cm, sedangkan panjangnya disesuaikan dengan kondisi lahan. Budidaya tanaman jahe dengan sistem bedengan juga bertujuan untuk memudahkan serangan patogen, karena kelembaban tanah bisa dijaga dengan membuat pari-parit. Pemupukan dasar diberikan bersamaan dengan pembuatan bedengan menggunakan pupuk kandang yang sudah difermentasi sebanyak 40 ton/ha dan NPK 15-15-15 sebanyak 1,5 ton/ha. Akan lebih baik bila ditambahkan dengan agensia hayati seperti Trichoderma sp. dan Gliocladium sp. untuk mencegah serangan bakteri maupun cendawan patogen. Pemberian humat dan fulvat akan berfungsi sebagai pembenah tanah, sehingga serapan unsur hara oleh tanaman bisa optimal.

Pengapuran

Pengapuran dilakukan pada saat pembentukan bedengan. Pada tanah dengan pH tanah rendah, sebagian besar unsur-unsur hara didalamnya, terutama fosfor (p) dan kalsium (Ca) dalam keadaan tidak tersedia atau terikat oleh ion-ion tanah. Kondisi tanah yang masam ini dapat menjadi media perkembangan beberapa cendawan penyebab penyakit fusarium sp dan pythium sp. Pengapuran juga berfungsi menambah unsur kalium yang sangat diperlukan tanaman jahe untuk mengeraskan bagian tanaman yang berkayu, merangsang pembentukan bulu-bulu akar, mempertebal dinding sel buah dan merangsang pembentukan biji.

Teknik Budidaya Jahe

Penentuan Pola Tanam

Budidaya tanaman jahe secara monokultur pada suatu daerah tertentu memang dinilai cukup rasional, mengingat nilai ekonomis jahe yang cukup tinggi, sehingga dengan teknis budidaya jahe monokultur diharapkan mampu memberikan produksi tinggi. Namun di daerah, budidaya tanaman jahe secara monokultur kurang dapat diterima karena selalu menimbulkan kerugian. Budidaya tanaman jahe secara tumpangsari dengan tanaman lain mempunyai keuntungan-keuntungan sebagai berikut :
  • Mengurangi kerugian yang disebabkan naik turunnya harga.
  • Menekan biaya kerja, seperti: tenaga kerja pemeliharaan tanaman.
  • Meningkatkan produktivitas lahan.
  • Memperbaiki sifat fisik dan mengawetkan tanah akibat rendahnya pertumbuhan gulma (tanaman pengganggu).
Pada praktek penanaman jahe di lapangan, petani biasa menanam jahe yang ditumpangsarikan dengan sayur-sayuran, seperti timun, bawang merah, cabe rawit, buncis, dll. Ada juga yang ditumpangsarikan dengan palawija, seperti jagung, kacang tanah dan beberapa kacang-kacangan lainnya.

Pembuatan Lubang Tanam

Pada budidaya tanaman jahe, untuk menghindari pertumbuhan jahe yang jelek, karena kondisi air tanah yang buruk, maka sebaiknya tanah diolah menjadi bedengan-bedengan. Selanjutnya buat lubang-lubang kecil atau alur sedalam 3-7,5 cm untuk penanaman bibit jahe. Pembuatan bedengan memiliki tujuan utama untuk menghindari genangan air di sekitar area budidaya pada saat musim hujan. Genangan air di sekitar area budidaya dapat memicu timbulnya penyakit, baik penyakit yang disebabkan oleh infeksi bakteri maupun penyakit yang disebabkan oleh infeksi jamur atau fungi.

Cara Menanam Jahe

Cara menanam jahe dilakukan dengan cara melekatkan bibit rimpang secara rebah ke dalam lubang tanam atau alur yang sudah disiapkan. Jarak tanam yang digunakan untuk menanam jahe putih besar yang dipanen tua adalah 80 cm x 40 cm atau 60 cm x 40 cm, jahe putih kecil dan jahe merah 60 cm x 40 cm.

Perioda Tanam

Budidaya tanaman jahe sebaiknya dilakukan pada awal musim hujan sekitar bulan September dan Oktober. Hal ini dimungkinkan karena tanaman muda akan membutuhkan air cukup banyak untuk pertumbuhannya. Jahe yang ditanam pada musim kemarau akan meningkatkan biaya produksi yang besar, terutama biaya pengairan. Kalaupun lahan budidaya memiliki sumber air yang memadai, namun pertumbuhan tanaman jahe akan sedikit terhambat, karena suhu udara yang terlalu tinggi akan menghambat pertumbuhan tanaman muda.

Pemeliharaan Tanaman Jahe

Penyulaman

Penyulaman dilakukan pada umur 2–3 minggu setelah tanam. Jika penyulaman dilakukan terlalu tua, maka pertumbuhan tanaman jahe tidak akan seragam. Pertumbuhan yang tidak seragam akan menambah tingkat kesulitan dalam pemeliharaan, terutama dalam pengendalian hama penyakit tanaman.

Penyiangan

Penyiangan pertama pada budidaya tanaman jahe dilakukan ketika tanaman berumur 2-4 minggu kemudian dilanjutkan 3-6 minggu sekali. Tergantung pada kondisi tanaman pengganggu (gulma) yang tumbuh. Namun setelah jahe berumur 6-7 bulan, sebaiknya tidak perlu dilakukan penyiangan lagi, sebab pada umur tersebut rimpangnya mulai besar.

Pembubunan

Tanaman jahe memerlukan tanah yang peredaran udara dan air dapat berjalan dengan baik, maka tanah harus digemburkan. Disamping itu tujuan pembubunan untuk menimbun rimpang jahe yang kadang-kadang muncul ke atas permukaan tanah. Apabila tanaman masih muda, cukup tanah dicangkul tipis di sekeliling rumpun dengan jarak kurang lebih 30 cm. Pertama kali dilakukan pembumbunan pada waktu tanaman jahe berbentuk rumpun yang terdiri atas 3-5 anakan, umumnya pembubunan dilakukan 2-3 kali selama umur tanaman jahe. Namun tergantung pada kondisi tanah dan banyaknya curah hujan.

Pemupukan Susulan

Tanaman jahe merupakan tanaman yang berumur panjang dibandingkan dengan tanaman cabe maupun tomat. Pada dasarnya pupuk dasar yang diberikan sudah mencukupi untuk menopang pertumbuhan tanaman tersebut. Akan tetapi dalam budidaya jahe secara intensif perlu dilakukan upaya untuk meningkatkan hasil produksi yang signifikan. Oleh karena itu, pupuk susulan perlu diberikan pada saat tanaman berumur 2-3 bulan, 4-6 bulan, dan 8-10 bulan menggunakan pupuk NPK 15-15-15 dengan dosis 20 gram per tanaman ditambah dengan pembenah tanah, seperti asam humat dan asam fulvat untuk membantu serapan unsur hara oleh akar sehingga pertumbuhan tanaman jahe bisa optimal.

Pengairan dan Penyiraman

Pada budidaya tanaman jahe, tanaman tidak memerlukan air yang terlalu banyak untuk pertumbuhan, akan tetapi pada awal petumbuhannya, tanaman jahe membutuhkan air yang cukup, sehingga saat memulai budidaya tanaman jahe diusahakan penanaman pada awal musim hujan sekitar bulan September.


LOGO TANIJOGONEGORO
TERIMA KASIH ATAS KUNJUNGANNYA
Tanijogonegoro On Google Plus