BUDIDAYA TANAMAN PADI SAWAH

Budidaya Tanaman Padi Sawah - Cara menanam padi yang baik akan menentukan keberhasilan budidaya. Sekalipun cara menanam padi sawah dianggap budidaya mudah akan tetapi kegagalan panen masih sering terjadi hampir di seluruh wilayah di Indonesia, apalagi ketika tanaman padi terserang hama tikus, sudah bisa dipastikan hasil panen menurun sangat signifikan bahkan seringkali menyebabkan puso. Sekalipun mudah, jika kita menguasai teknik menanam padi dengan baik niscaya akan meningkatkan produktivitas pertanaman. Berikut ini akan dibahas mengenai bagaimana cara menanam padi sawah beserta cara pengendalian hama dan penyakit pengganggu tanaman.

BAGAIMANA CARA MENANAM PADI YANG BAIK?

Dalam budidaya ini, perlu diperhatikan faktor-faktor penentu keberhasilan, diantaranya syarat tumbuh, pH tanah, bibit tanaman, serta cara mengendalikan hama dan penyakit tanaman padi. Pemahaman mengenai hal-hal tersebut membantu para petani dalam melakukan proses budidaya padi, khususnya padi sawah.

SYARAT TUMBUH

Lokasi budidaya dan syarat tumbuh tanaman perlu diketahui untuk menentukan varietas maupun pengendalian hama dan penyakit. Tanaman padi sawah memerlukan curah hujan antara 200 mm/bulan atau 1500-2000 mm/tahun, ketinggian tempat optimal 0-1500 mdpl dengan suhu optimal sekitar 23°C. Budidaya padi sawah dapat dilakukan di segala musim. Intensitas sinar matahari penuh tanpa naungan. Air sangat dibutuhkan oleh tanaman padi. Saat musim kemarau, air harus tersedia untuk meningkatkan produksi. Tanah yang baik untuk pertumbuhan tanaman padi adalah tanah mengandung pasir, debu, maupun lempung.

PELAKSANAAN BUDIDAYA PADI SAWAH

Pengukuran pH Tanah

Meskipun tanaman padi dapat tumbuh baik pada pH rendah, pengukuran pH sebaik tetap harus dilakukan agar penyerapan akar akan unsur hara dalam tanah berjalan dengan baik. Tanah dengan pH mendekati netral atau bahkan netral (nilai 7) untuk pertumbuhan tanaman padi memungkinkan hasil panen signifikan. Untuk itu pengukuran pH tanah diperlukan agar tingkat keasaman tanah di lahan masing-masing dapat diketahui.

Persiapan Lahan

Persiapan lahan dalam budidaya tanaman padi sawah meliputi pembersihan jerami atau sisa tanaman lain, pencangkulan pematang sawah untuk memperbaiki pematang-pematang rusak, pemberian kapur pertanian disesuaikan dengan pH tanah, Pemupukan dasar menggunakan pupuk kandang sebanyak 4 ton/ha (pupuk kandang harus sudah matang/difermentasi), pembajakan serta penggaruan tanah. Saat melakukan penggaruan sebaiknya saluran pembuangan air ditutup, agar pupuk yang sudah diberikan tidak hanyut terbawa oleh air.

Persiapan Bibit Padi dan Penanaman

Membuat persemaian merupakan langkah awal dalam budidaya. Pembuatan persemaian memerlukan persiapan sebaik-baiknya, sebab benih di persemaian akan menentukan pertumbuhan tanaman, oleh karena itu persemian harus benar-benar mendapat perhatian, agar harapan untuk mendapatkan bibit padi sehat sekaligus subur dapat tercapai. Hal yang perlu diperhatikan adalah penggunaan benih padi unggul bersertifikat, dengan kebutuhan benih 25-30 kg/ha. Lokasi persemaian diusahakan pada tanah subur dengan intensitas cahaya matahari sempurna. Buat bedengan berukuran lebar 1 m, panjang 4 m, tinggi 20-30 cm. Pada lahan seluas 1 hektar dibutuhkan 4 bedengan. Untuk menghindari serangan hama tikus, sebaiknya tempat persemaian dikelilingi pagar plastik. Berikan pupuk NPK sebanyak 1 kg untuk 4 bedengan. Benih padi yang telah direndam selama 1 malam siap ditebar.
Bibit padi siap pindah tanam saat berumur 18 hari. Sebelum ditanam, rendam bibit yang telah dicabut dalam larutan insektisida berbahan aktif karbofuran selama 2 jam dengan konsentrasi 1 gr/liter air. Daun bibit dibiarkan utuh, tidak dipotong seperti kebiasaan petani. Saat melakukan penanaman, lahan dalam kondisi macak-macak, tidak perlu tergenang air. Penanaman padi dilakukan dengan jumlah satu tanaman per titik tanam, menggunakan sistem jajar legowo 2-1, jarak 15 x 25 cm, lebar barisan legowo 50 cm. Keuntungan cara menanam padi sawah menggunakan sistem ini adalah memberikan ruang cukup untuk pengaturan air, mengoptimalkan cahaya matahari, pengendalian hama dan penyakit juga lebih mudah, serta pemupukan lebih berdaya guna.

PEMELIHARAAN TANAMAN PADI SAWAH

Penyulaman

Penyulaman dilakukan sampai tanaman berumur 2 minggu. Penyulaman jangan terlalu tua karena mengakibatkan pertumbuhan tanaman padi nantinya menjadi tidak seragam, sehingga pemanenan kurang serempak.

Sanitasi Lahan dan Pengairan

Sanitasi lahan pada budidaya meliputi : penyiangan (pengendalian rumput/gulma), pencabutan tanaman padi terserang hama dan penyakit. Penyiangan dalam budidaya ini dilakukan sebanyak 2 kali, yaitu sebelum pemupukan kedua dan ketiga dengan cara mencabut gulma atau menggunakan alat gosrok/landak. Bila pertumbuhan gulma cukup cepat, maka penyiangan bisa dilakukan hingga 3 kali.
Hal utama yang perlu diperhatikan dalam pengairan adalah pengaturan air agar tetap dalam kondisi macak-macak. Tinggi air tidak lebih dari 1 cm. Pengaturan air terus dilakukan sampai 10 hari menjelang panen.

Pemupukan Susulan

Melakukan pemupukan susulan selama budidaya merupakan salah satu hal yang perlu mendapat perhatian serius, karena nutrisi tanaman padi harus tetap tersedia sepanjang masa untuk menghasilkan produksi optimal. Pupuk susulan dapat diberikan melalui daun maupun akar tanaman. Pupuk akar diberikan sebanyak 3 kali. Pemupukan pertama diberikan saat tanaman padi berumur 7 HST sebanyak 150 kg/ha NPK (15-15-15), dan 50 kg/ha pupuk urea. Pemupukan kedua dilakukan saat tanaman padi berumur 20 HST, menggunakan urea sebanyak 50 kg/ha, NPK 15-15-15 150 kg/ha. Selanjutnya, pemupukan ketiga dilakukan saat tanaman berumur 35 HST menggunakan NPK 250 kg/ha.
Pupuk daun diberikan melalui penyemprotan, agar lebih hemat waktu maupun tenaga kerja, pemberian pupuk daun dapat bersamaan saat melakukan pengendalian hama dan penyakit tanaman. Saat tanaman padi berumur 14 hst, berikan pupuk daun nitrogen tinggi dengan konsentrasi 2 gr/liter. Pupuk daun P dan K tinggi diberikan saat umur 30 dan 45 hst. Pemupukan phospat dan kalium saat umur 30 hst menggunakan pupuk MKP (2 gr/liter), sedangkan saat berumur 45 hst berikan 4 gr/liter.

PENGENDALIAN HAMA DAN PENYAKIT TANAMAN PADI SAWAH

HAMA TANAMAN PADI

Orong-Orong

Hama ini berasal dari spesies Gryllotalpa orientalis Burmeister. Sebetulnya, hama orong-orong jarang menjadi masalah serius dalam budidaya, tapi sering ditemukan di lahan pasang surut serta biasanya hanya terdapat di sawah kering tidak digenangi. Penggenangan lahan menyebabkan orong-orong pindah ke pematang. Stadia tanaman rentan terhadap serangan hama ini adalah fase pembibitan sampai anakan. Benih di pembibitan juga dapat dimakannya. Oorong-orong merusak akar muda dengan cara memotong tanaman padi di pangkal batang yang berada di bawah tanah. Gejala kerusakan demikian terkadang sering dikira petani disebabkan oleh penggerek batang (sundep). Tanaman padi muda yang diserangnya mati sehingga terlihat adanya spot-spot kosong di sawah.
Pengendalian hama orong-orong untuk budidaya ini dilakukan dengan penggenangan sawah 3-4 hari untuk membunuh telur orong-orong di tanah. Penggunaan umpan sekam dicampur insektisida berbahan aktif metomil, jika diperlukan bisa mengaplikasikan insektisida berbahan aktif fipronil atau karbofuran. Dosis/konsentrasi sesuai petunjuk di kemasannya.

Ulat Grayak

Ulat grayak yang menyerang selama budidaya adalah Spodoptera litura. Ulat menyerang daun tanaman padi secara bergerombol dalam jumlah sangat banyak, serangannya dilakukan di malam hari dengan cara memakan daun tanaman padi. Gejala serangan daun berupa bercak-bercak putih berlubang, bahkan hanya meninggalkan tulang daun. Larva hama ulat grayak menyerang tanaman padi sejak di persemaian sampai fase pengisian. Serangan parah terjadi saat musim kemarau maupun ketika tanaman padi kekurangan air.
Pengendalian hama ulat grayak adalah dengan penyemprotan insektisida dengan bahan aktif deltametrin, sipermetrin, sipermetrin, klorpirifos, sipermetrin, kartophidroklorida, metomil, atau dimehipo. Konsentrasi sesuai petunjuk di kemasan.

Penggerek Batang

Hama penggerek batang yang menyerang selama proses budidaya di Indonesia terdiri dari beberapa spesies, diantaranya:
  1. Scirpophaga incertulas
  2. Scirpophaga innotata
  3. Chilo suppressalis
  4. Chilo polychrysus Meyrick
  5. Chilo auricilius Dudgeon
  6. Sesamia inferens
  7. Tryporiza innota
  8. Tryporiza incertulas
Serangan fase vegetatif tidak terlalu mempengaruhi hasil panen karena tanaman padi masih dapat mengkompensasi dengan membentuk anakan baru. Gejala serangan berupa daun tengah atau pucuk tanaman mati karena titik tumbuh dimakan larva penggerek batang. Pucuk tanaman padi yang mati akan berwarna coklat serta mudah dicabut (gejala ini biasa disebut Sundep).
Serangan penggerek batang fase generatif ditandai adanya larva penggerek batang memakan pangkal batang tanaman padi tempat malai berada. Malai akan mati, berwarna abu-abu, serta bulirnya kosong/hampa. Malai mudah dicabut, bagian pangkal batang terdapat bekas gerekan larva hama penggerek batang (gejala ini biasa disebut Beluk).
Pengendalian kimiawi untuk mengatasi masalah ini adalah dengan aplikasi insektisida berbahan aktif fipronil, monosultap, bisultap, bensultap, dimehipo, karbosulfan, karbofuran atau amitraz. Dosis/konsentrasi sesuai petunjuk di kemasannya.

Hama Putih

Hama putih yang menyerang tanaman padi berasal dari spesies Nymphula depunctalis. Hama putih menyerang tanaman padi mulai fase vegetatif di persemaian sampai tanaman padi berumur kurang lebih satu bulan. Hama putih akan memakan jaringan permukaan bawah daun sehingga tampak garis-garis memanjang berwarna putih. Tanda adanya serangan hama ditandai adanya larva kecil maupun ngengat (larva ini menyelesaikan hidupnya selama 35 hari).
Stadia hama putih yang merusak adalah stadia larva. Serangan daun ditandai daun terpotong seperti digunting. Daun terpotong tersebut dibuat menyerupai tabung (tabung digunakan larva untuk membungkus dirinya, terbungkus oleh benang-benang sutranya).
Pengendalian kimiawi hama putih selama budidaya dapat dilakukan dengan penyemprotan insektisida berbahan aktif abamektin, imidakloprid, karbosulfan, atau dimehipo. Dosis/konsentrasi sesuai petunjuk di kemasannya.

Hama Putih Palsu

Hama ini berasal dari spesies Chanaphalocrosis medinalis. Hama putih palsu menyerang bagian daun tanaman padi, larva akan memakan jaringan hijau daun dari dalam lipatan daun, permukaan bawah daun berwarna putih. Ngengat berwarna kuning coklat, bagian sayap depannya ada tanda pita hitam sebanyak tiga buah yang garisnya lengkap atau terputus. Saat diam, ngengat berbentuk segitiga.
Pengendalian hama putih palsu untuk budidaya padi tidak diperkenankan melakukan penyemprotan insektisida sebelum tanaman padi berumur 30 hst atau 40 hari setelah sebar benih. Tanaman padi yang terserang pada fase ini, dapat pulih apabila air maupun pupuk dikelola dengan baik. Selain itu dapat juga mencegahnya melalui penggenangan lahan secara terus menerus, atau dapat juga melakukan pengeringan sawah selama beberapa hari untuk membunuh larvanya. Jika tanaman padi telah berumur lebih dari 30 hst namun serangan tidak terkendali, bisa disemprot menggunakan insektisida berbahan aktif indoksakarb, bensultap, BPMC, MIPC, tiakloprid, fipronil, atau karbofuran. Dosis/konsentrasi sesuai petunjuk di kemasannya.

Wereng Coklat

Nilaparvata lugens Stal adalah jenis hama wereng yang menyerang tanaman padi. Wereng coklat merupakan hama dari golongan insekta tergolong sangat merugikan pertanaman padi di Indonesia. Akibat serangan hama ini menyebabkan tanaman padi mati kering, tampak seperti terbakar, serta dapat menularkan beberapa jenis penyakit. Pemupukan kandungan N tinggi tanpa diimbangi P,K tinggi serta penanaman dengan jarak tanam rapat sangat rentan terserang wereng coklat. Hama wereng coklat menyerang tanaman padi mulai dari pembibitan hingga fase masak susu. Gejala serangan ditandai terdapatnya imago, menghisap cairan tanaman di pangkal batang, kemudian tanaman padi menguning, akhirnya mengering.
Pengendalian hama wereng coklat diantaranya melakukan pengaturan jarak tanam, menanam varietas tahan wereng (bisa meminta informasi ke dinas pertanian terdekat), penggunaan lampu perangkap, serta memanfaatkan musuh alami (contoh : laba-laba Ophione nigrofasciata, Paederus fuscifes, Coccinella, kepik Cyrtorhinus lividipennis). Apabila serangan di luar ambang kendali, aplikasikan insektisida berbahan aktif imidakloprid, bensultap, BPMC, betasiflutrin, buprofezin, dimehipo, tiametoksam, atau karbofuran. Dosis/konsentrasi sesuai petunjuk di kemasannya.

Wereng Hijau

Hama pengganggu tanaman padi jenis ini adalah Nephotettix virescens. Hama wereng hijau merupakan hama penyebar (vektor) virus tungro penyebab penyakit tungro. Fase persemaian sampai pembentukan anakan maksimum merupakan fase paling rentan serangan wereng hijau. Gejala kerusakan ditandai tanaman kerdil, anakan berkurang, daun berubah menjadi kuning sampai kuning oranye. Pengendalian hama wereng hijau selama budidaya ini sama seperti pengendalian hama wereng coklat.

Walang Sangit

Spesies walang sangit yang menyerang tanaman padi adalah Leptcorisa oratorius. Hama Walang sangit adalah hama tanaman padi setelah berbunga, menghisap cairan bulir padi bahkan mengakibatkan bulir menjadi hampa atau pengisiannya tidak sempurna, berubah warna serta mengapur. Fase tanaman padi mulai keluar malai sampai masak susu merupakan fase paling rentan. Walang sangit selain menurunkan produksi juga menurunkan kualitas gabah. Hama ini menyebabkan meningkatnya Grain dis-coloration.
Pengendalian kimiawi selama budidaya ini dapat dilakukan dengan mengaplikasikan insektisida berbahan aktif alfametrin, bensultap, BPMC, MIPC, tiakloprid, fipronil, atau betasiflutrin. Dosis/konsentrasi sesuai petunjuk di kemasannya.

Keong Mas

Biasanya keong mas banyak dijumpai di areal persawahan, mereka merupakan hama pengganggu tanaman padi. Hama ini merusak tanaman padi dengan cara memarut jaringan tanaman lalu memakannya, menyebabkan adanya bibit hilang per tanaman. Keong mas menyenangi tempat-tempat genangan air. Pomacea canaliculata adalah spesies yang menyerang selama proses budidaya.
Pengendalian yang dapat dilakukan diantarnya dengan melakukan pengamatan di lapangan, waktu kritis untuk mengendalikan serangan hama keong mas adalah saat tanaman berumur 10 hst atau 21 hari setelah sebar benih (benih basah). Jika di sawah ditemukan telur berwarna merah muda maupun keong mas dengan berbagai ukuran maupun warna, perlu dilakukan pengaturan air. Ketika tanaman padi berumur 15 hst, perlu dilakukan pengeringan kemudian digenangi lagi secara bergantian (flash flood=intermitten irrigation). Bila petani menanam menggunakan sistem tabela (tanam benih secara langsung), selama 21 hari setelah sebar benih sawah perlu dikeringkan kemudian digenangi secara bergantian. Apabila serangan di luar ambang kendali bisa mengaplikasikan moluskisida berbahan aktif niclosamida atau saponin. Dosis/konsentrasi lihat saja petunjuk yang ada di kemasannya.

Hama Tikus Sawah

Hama tikus sawah penyebab kegagalan budidaya berasal dari spesies Rattus argentiventer Rob Kloss. Tikus sawah merupakan hama utama budidaya padi dari golongan mamalia (binatang menyusui). Pengendalian hama tikus memerlukan pendekatan sangat spesifik.
Tikus sawah menyebabkan kerusakan tanaman padi mulai dari persemaian hingga padi siap dipanen, bahkan menyerang padi dalam gudang penyimpanan. Kerusakan akibat serangan hama tikus bisa mengakibatkan puso dengan nilai kerugian jauh lebih tinggi dibanding serangan Organisme Pengganggu Tanaman (OPT) lain.
Pengendalian Hama Tikus
Pengendalian hama tikus akan dijelaskan lebih lanjut, mengingat serangannya mampu menggagalkan panen hingga 100% (puso). Berikut cara pengendalian hama tikus:
Sanitasi Lingkungan
Sanitasi lingkungan bertujuan menjadikan lingkungan sawah menjadi tidak menguntungkan bagi kehidupan maupun perkembangbiakan tikus. Kegiatan sanitasi dengan pembersihan gulma di areal pertanaman mulai dari pematang sampai saluran irigasi, terutama pada tanggul tinggi (bertujuan agar hama tikus tidak bersarang di tempat tersebut).
Kultur Teknis
Pengaturan pola tanam bertujuan membatasi perkembangbiakan tikus sawah, karena hama tikus sawah hanya berkembangbiak saat tanaman padi pada fase generatif. Pengaturan pola tanam dapat membatasi perkembangbiakan hama ini. Pengaturan jarak tanam lebih lebar dari biasanya, seperti cara tanam legowo, bertujuan membuat lingkungan lebih terbuka sehingga kurang disukai hama tikus.
Pengendalian Fisik
Tujuan pengendalian untuk mengubah faktor lingkungan fisik menjadi tidak sesuai untuk kehidupan tikus sawah. Hama tikus mempunyai batas toleransi terhadap beberapa faktor fisik seperti suhu, cahaya, air, maupun suara. Beberapa cara pengendalian dapat menggunakan alat penyembur api (brender) yang disemprotkan ke sarang tikus, memompa air ke dalam sarang tikus, mengusir hama tikus dengan suara ultrasonik, pemerangkapan (trapping), gropyokan massal (community actions), sistem bubu perangkap linier (linier trap barrier system atau LTBS), serta Sistem bubu perangkap (trap barrier system atau TBS). Informasi LTBS maupun TBS dapat meminta menjelasan ke instansi pertanian terdekat.
Pemanfaatan Musuh Alami
Musuh alami berasal dari kelompok burung, mamalia maupun reptilia. Pemangsa dari kelompok burung antara lain Tito alba javanica (burung hantu putih), Bubo ketupu (burung hantu cokelat) dan Nyctitorac nyctitorac (burung kowak maling). Pemangsa dari kelompok mamalia antara lain Verricula malaccensis (musang bulan atau rase), Herpestes javanicus (garangan), Felis catus (kucing) atau Canis familiaris (anjing). Pemangsa dari kelompok reptilia antara lain Ptyas koros (ular tikus), Naja naja (ular kobra), Trimeresurus hagleri (ular hijau), Phyton reticulatus (ular sanca).
Pemangsa terbaik hama tikus sawah adalah burung hantu, karena burung hantu mempunyai laju fisiologis besar sehingga mampu mengkonsumsi tikus dalam jumlah banyak. Pemangsa jenis burung juga mempunyai kemampuan mencari mangsanya lebih baik dibandingkan jenis pemangsa lain. Walaupun demikian, burung hantu memerlukan habitat yang sesuai seperti daerah perkebunan, pegunungan atau perkampungan. Sedangkan di daerah sawah irigasi yang luas bahkan terbuka, burung hantu kurang cocok berdomisili di daerah tersebut. Oleh karena itu, sangat perlu menciptakan lingkungan kondusif untuk melindungi predator tikus. Tubuh hama tikus terinfeksi berbagai jenis cacing, sehingga memberikan umpan tikus menggunakan patogen seperti bakteri salmonella dapat dilakukan, tetapi umpan rodentisida tersebut juga membahayakan kesehatan manusia.
Pengendalian Kimiawi
Rodentisida. Rodentisida di pasaran umumnya dalam bentuk siap pakai, atau mencampur sendiri dengan bahan umpan. Rodentisida digolongkan menjadi racun akut maupun antikoagulan. Racun akut dapat membunuh hama tikus langsung di tempat setelah makan umpan, sehingga dapat menyebabkan hama menjadi jera. Sedangkan rodentisida antikoagulan akan menyebabkan hama mati setelah lima hari memakan umpan (dosis cukup agar tidak menyebabkan jera umpan). Namun demikian jenis rodentisida antikoagulan mempunyai efek sekunder negatif terhadap predator tikus.
Fumigasi. Fumigasi merupakan teknik yang ditujukan langsung ke sarang tikus, teknik ini merupakan teknik efektif membunuh hama tikus di dalam sarang.
Antifertilitas
Adalah cara pemandulan hama tikus baik tikus jantan maupun betina. Cara ini lebih efektif karena hama tikus sawah berkembangbiak sangat cepat. Beberapa jenis bahan kimia untuk pemandulan manusia juga dapat digunakan untuk memandulkan tikus sawah.

PENYAKIT TANAMAN PADI

Hawar Daun Bakteri

Hawar daun bakteri yang menyerang tanaman padi adalah bakteri Xanthomonas oryzae pv. oryzae. Penyakit hawar daun bakteri (bacterial leaf blight = BLB) menyerang di semua musim, baik musim kemarau maupun musim hujan serta di semua tempat baik pertanaman padi di dataran rendah maupun dataran tinggi. Ketika musim hujan penyakit ini biasanya berkembang lebih baik. Kerugian hasil akibat serangan penyakit hawar daun bakteri dapat mencapai 60%.
Pengendalian dilakukan dengan rotasi tanaman, pengaturan jarak tanam, penggunaan varietas tahan serangan BLB, serta pemupukan berimbang. Pengendalian secara kimiawi dapat menggunakan bakterisida dari golongan antibiotik, bahan aktif yang bisa digunakan antara lain streptomisin sulfat, oksitetrasiklin, asam oksolinik, atau kasugamisin hidroklorida. Dosis/konsentrasi sesuai petunjuk di kemasannya.

Hawar Daun Jingga

Hawar daun jingga yang menyerang tanaman padi sawah disebabkan oleh cendawan Pseudomonas sp. Penyakit hawar daun jingga (Bacterial Red Stripe/BRS) tersebar di hampir seluruh Pulau Jawa-Sumatera, terutama di dataran rendah (<100 m dpl). Saat musim kemarau, serangan terjadi pada fase generatif. Di Jalur Pantura Jawa Barat penyakit ini dijumpai merata di kabupaten Karawang, Subang, Indramayu, Cirebon. Varietas tahan hawar daun jingga sampai saat ini belum tersedia. Hasil penelitian di lapangan menunjukkan bahwa perkembangan penyakit HDJ sangat dipengaruhi oleh perlakuan selama proses budidaya seperti pemupukan, jarak tanam, serta pengairan.
Pengendalian penyakit hawar daun jingga selama budidaya dilakukan dengan pemupukan berimbang, jarak tanam lebar, serta pengeringan secara berkala. Pengendalian kimiawi bakterisida dari golongan antibiotik, bahan aktif yang bisa digunakan antara lain streptomisin sulfat, oksitetrasiklin, asam oksolinik, atau kasugamisin hidroklorida. Dosis/konsentrasi sesuai petunjuk di kemasannya.

Hawar Pelepah

Serangan ini disebabkan oleh cendawan Rhizoctonia solani kuhn. Penyakit hawar menyerang tanaman padi baik di dataran tinggi maupun dataran rendah. Gejala penyakit dimulai dari bagian pelepah dekat permukaan air, berupa bercak-bercak besar berbentuk jorong, tepi tidak teratur berwarna coklat sedangkan bagian tengah berwarna putih pucat. Hawar pelepah muncul sejak dikembangkan varietas padi beranakan banyak, didukung oleh pemberian pupuk kandungan nitrogen tinggi secara berlebihan, serta cara tanam berjarak rapat. Kehilangan hasil produksi akibat serangan penyakit hawar pelepah dapat mencapai 30%.
Cara pengendalian penyakit ini adalah dengan pengaturan jarak tanam, pemupukan berimbang, serta aplikasi trichoderma. Pengendalian kimiawi menggunakan fungisida berbahan aktif simoksanil, propamokarb hidroklorida, asam fosfit, kasugamisin, atau dimetomorf dengan dosis/konsentrasi sesuai petunjuk yang tertera di kemasan.

Penyakit Busuk Batang

Penyakit busuk batang yang menyerang tanaman padi sawah adalah candawan Helminthosporium sigmoideum. Penyakit busuk batang merupakan salah satu penyakit utama tanaman padi di Indonesia. Penyakit ini selalu ditemukan di setiap musim tanam mulai dari kategori infeksi ringan sampai sedang. Saat musim hujan, lebih dari 60% tanaman padi di jalur pantura Jawa Barat mengalami kerebahan akibat terinveksi cendawan H. Sigmoideum. Kerebahan menyebabkan prosentase gabah hampa meningkat. Kehilangan hasil produksi akibat serangan penyakit ini mencapai 25-30%. Busuk batang ditemukan lebih parah pada varietas padi beranakan banyak, terutama ditanam di lokasi kahat kalium serta berdrainase jelek.
Cara pengendaliannya adalah dengan pengaturan jarak tanam, pemupukan berimbang, pengapuran lahan untuk mencapai pH ideal, serta pengeringan sawah secara berkala. Pengendalian kimiawi menggunakan fungisida berbahan aktif propamokarb hidroklorida, simoksanil, difenokonazol, tebukonazol, atau dimetomorf dengan dosis/konsentrasi sesuai petunjuk yang tertera di kemasan.

Penyakit Blas

Penyakit blas yang menyerang tanaman padi disebabkan oleh cendawan Pyricularia grisea. Blas merupakan penyakit penting terutama padi gogo. Daerah endemik penyakit blas di Indonesia diantaranya Lampung, Sumatera Selatan, Jambi, Sumatera Barat, Sulawesi Tangah, Sulawesi Tenggara, serta Jawa Barat bagian selatan (Sukabumi dan Garut). Akhir-akhir ini penyakit blas khususnya blas leher menjadi tantangan serius karena banyak ditemukan di beberapa varietas di Jalur Pantura Jawa Barat. Penyakit blas menginfeksi tanaman di semua stadium, disamping itu juga menyebabkan tanaman puso. Saat tanaman memasuki fase vegetatif serangan biasanya menginfeksi bagian daun, disebut blas daun (leaf blast). Sedangkan saat memasuki fase generatif selain menginfeksi daun juga menginfeksi leher malai, disebut blas leher (neck blast). Pemupukan tidak berimbang, terutama kandungan nitrogen tinggi disertai kondisi kekurangan air sangat disenangi oleh penyakit ini. Artinya makin tinggi pupuk nitrogen keparahan penyakit akan semakin tinggi.
Pengendalian penyakit blas selama budidaya antara lain dengan pengaturan jarak tanam, penggunaan benih bebas infeksi patogen, pemupukan berimbang, pengapuran lahan untuk mencapai pH ideal, serta pengeringan sawah secara berkala. Pengendalian kimiawi dengan aplikasi fungisida berbahan aktif karbendazim, metil tiofanat, difenokonazol, mankozeb, atau klorotalonil. Dosis/konsentrasi sesuai petunjuk pada kemasannya.

Bercak Daun Cercospora

Bercak daun cercospora selama budidaya disebabkan oleh cendawan Cercospora leaf spot. Penyakit ini sering disebut bercak coklat sempit (narrow brown leaf spot), disebabkan oleh jamur Cercospora oryzae Miyake. Bercak daun cercospora merupakan salah satu jenis penyakit merugikan terutama budidaya untuk padi sawah tadah hujan yang kahat (kekurangan) kalium. Penurunan hasil akibat serangan penyakit ini disebabkan oleh keringnya daun sebelum waktunya serta keringnya pelepah daun (menyebabkan tanaman rebah). Gejala serangan ditandai adanya bercak-bercak sempit memanjang pada daun, berwarna coklat kemerahan, sejajar dengan ibu tulang daun, berukuran panjang kurang lebih 5 mm, lebar 1-1,5 mm. Saat tanaman padi membentuk anakan, bercak ini semakin meningkat. Infeksi batang dan pelepah meyebabkan batang maupun pelepah daun busuk sehingga tanaman menjadi rebah.
Cara pengendaliannya dengan pemberian pupuk NPK berimbang, pengaturan jarak tanam, serta melakukan pengapuran lahan untuk meningkatkan pH tanah. Pengendalian kimiawi menggunakan fungisida berbahan aktif karbendazim, metil tiofanat, difenokonazol, mankozeb, atau klorotalonil. Dosis/konsentrasi sesuai petunjuk pada kemasannya.

Bercak Daun Coklat

Penyakit daun coklat yang menyerang tanaman padi adalah cendawan Helminthosporium oryzae. Gajala serangan ditandai bercak coklat pada daun berbentuk oval merata di permukaan daun dengan titik tengah berwarna abu-abu atau putih. Titik abu-abu di tengah bercak merupakan gejala khas penyakit bercak daun coklat di lapangan. Bercak masih muda berwarna coklat gelap atau keunguan berbentuk bulat. Serangan berat menyebabkan jamur menginfeksi gabah, gejalanya bercak berwarna hitam atau coklat gelap).
Cara mengendaliak penyakit bercak daun coklat selama budidaya diantaranya dengan pemberian pupuk NPK berimbang, pengaturan jarak tanam, serta pengapuran lahan untuk meningkatkan pH tanah. Pengendalian kimiawi menggunakan fungisida berbahan aktif azoxistrobin, belerang, difenokonazol, tebukonazol, karbendazim, metil tiofanat, atau klorotalonil. Dosis/konsentrasi sesuai petunjuk pada kemasannya.

Penyakit Tungro

Penyakit tungro pada tanaman padi adalah virus batang tungro padi (rice tungro bacilliform virus, RTBV) maupun virus bulat tungro padi (rice tungro spherical virus, RTSV). Penyakit tungro merupakan penyakit padi yang kompleks, kedua virus ditularkan secara semipersisten oleh beberapa spesies hama wereng hijau maupun hama wereng daun lainnya. Infeksi virus tungro menyebabkan tanaman kerdil, daun muda berwarna kuning dari ujung daun, daun kuning nampak sedikit melintir serta jumlah anakan lebih sedikit dari tanaman sehat. Secara umum hamparan tanaman padi terlihat berwarna kuning disertai tinggi tanaman tidak merata, serta terlihat spot-spot tanaman kerdil.
Virus tugro dapat dikendalikan dengan cara mengendalikan serangga vektor penular virus, terutama pengendalian hama wereng hijau. Aplikasi insektisida untuk mematikan secara cepat hama wereng hijau agar efisien dengan memperhatikan dampak pestisida terhadap lingkungan, sebaiknya dilakukan berdasarkan hasil pengamatan tentang kondisi ancaman tungro.

Strategi Pengendalian Hama dan Penyakit

Lakukan penyemprotan pestisida secara berseling atau ganti bahan aktif (bahan aktif seperti yang telah disebutkan di atas) setiap kali melakukan penyemprotan, hindari penggunaan bahan aktif yang sama secara berturut-turut agar tidak hama dan penyakit tidak resisten (kebal).

PANEN

Buah padi dapat dipanen saat 95% malai menguning. Ketepatan waktu panen sangat mempengaruhi kualitas bulir padi maupun kualitas beras. Panen terlalu cepat menyebabkan prosentase butir hijau tinggi, berakibat sebagian biji tidak terisi atau rusak saat digiling. Sedangkan pemanenan terlambat menyebabkan hasil berkurang karena butir mudah lepas dari malai serta beras pecah saat digiling.
Perontokan padi dilakukan segera setelah tanaman padi dipotong menggunakan sabit, agar kualitas gabah maupun beras giling tinggi. Perontokan lebih dari 2 hari menyebabkan kerusakan beras. Selain itu beras menjadi kurang bersih.

91 comments:

  1. super lengkap tips budidaya padinya. sampe ngelotok bacanya, dua jempol dehh.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Terima kasih apresiasinya, semoga artikel kami Budidaya Tanaman Padi Sawah bisa dijadikan referensi Budidaya< yang cukup representatif. Salam.

      Delete
    2. wah...lengkap ia semua tentang padi...
      T.0.P Deh..

      Delete
    3. Terima kasih, mudah-mudahan artikel Budidaya Tanaman Padi Sawah bermanfaat

      Delete
  2. oke banget artkelnya, sukses buat semua petani di indonesia

    ReplyDelete
  3. kalau ada penyuluhan di tiap desa mungkin petani bisa tambah ilmu?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Tentu saja, pembinaan Budidaya Padi harus dilakukan semua pihak

      Delete
  4. waduh! lengkap banget ! cocok buat di presentasikan pada para petani Didaerah seluruh Indo! sukses blognya gan! ditunggu follow dan kunjungannya ^.^

    http://suryakunta.blogspot.com

    ReplyDelete
    Replies
    1. Selamat Bergabung di PETUNJUK PRAKTIS BUDIDAYA PERTANIAN | BUDIDAYA TANAMAN PADI SAWAH

      Delete
  5. Terima kasih atas postingannya yang bermanfaat. Kebetulan ibu saya seorang petani. Tp hanya menyuruh orang untuk mengerjakan sawah. Alangkah baiknya jika setiap step di beri gambar agar lebih jelas :-)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Terima kasih masukannya, memang rencanya demikian, tapi setelah menyelesaikan beberapa artikel.

      Semoga Budidaya Tanaman Padi Sawah bermanfaat.

      Delete
  6. Replies
    1. Silahkan, artikel Budidaya Tanaman Padi Sawah memang untuk dibagikan

      Delete
  7. Sangat bermanfaat artikelnya pak ?? ijin print ya dan untuk di pelajari bapak saya

    ReplyDelete
    Replies
    1. Silahkan, BUDIDAYA TANAMAN PADI SAWAH bisa digunakan sebagai referensi BUDIDAYA

      Delete
  8. Replies
    1. Terima kasih, selamat bergabung di artikel kami, BUDIDAYA TANAMAN PADI SAWAH

      Delete
  9. INFO BAGUS BU SILAHKAN DILANJUTKAN....MENGENAI BUDIDAYA BECOCOK TANAM...

    ReplyDelete
    Replies
    1. terima kasih apresiasinya, semoga blog kami Petunjuk Praktis Budidaya Pertanian bisa memberi manfaat dalam sejarah.

      Delete
  10. mantab,,,
    sangat lengkap sekali..
    jos (y)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Terima kasih, selamat datang di artikel kami Budidaya Tanaman Padi Sawah

      Delete
  11. tentang budidaya tanaman pala dong bu....

    ReplyDelete
    Replies
    1. Mudah-mudahan segera kami dapatkan referensinya. Sementara ini memang posting lebih banyak pada Budidaya Tanaman Hortikultura dan Tanaman Pangan, Sesuai dengan pengalaman lapangan saya.

      Delete
  12. saya mau nanya Varietas padi apa/namanya apa yang mempunyai biji lebih besar dari rata2 biji padi yg di tanam oleh orag indonesia, serta tahan terhadap serangan penyakit, dan mempunyai tandan ulir padi yang juga lebih panjang dari padi lainnya......tolong jawabannya.....karena saya selama ini merasa kecil sekali penghasilan dari bercocok tanam padi alias tidak sesuai dengan waktu yang kita tunggu......

    ReplyDelete
    Replies
    1. Untuk nama varietas dan merk dagang benih Padi sebaiknya mencari referensi ke Dinas Pertanian terdekat. Kalau saya secara prinsip, tanamlah benih Padi unggul yang bersertifikat. Untuk mengoptimalkan hasil produksi, saya sudah aplikasi semua komponen teknologi dalam artikel Budidaya Tanaman Padi Sawah di atas dalam program SLPTT Padi non hybrid. Hasilnya luar biasa. Kita mampu mencapai produksi optimal 10 ton/ha.

      Delete
  13. Artikelnya Bagus bu dan sangat bermanfaat bagi pejuang pertanian indonesia. Mohon artikel tentang bawang merah, timun dan kacang panjang ya... semoga karya ibu mendapatkan pahala dari Tuhan YME

    ReplyDelete
    Replies
    1. Terima kasih apresiasinya. Mudah-mudahan segera saya dapatkan referensinya. Beberapa permintaan artikel juga belum sempat saya selesaikan. Selamat datang di Budidaya Tanaman Padi Sawah

      Delete
  14. tolong donk step demi step dkasih gmbarnya..
    thanks bgt infonya bu

    ReplyDelete
    Replies
    1. Terima kasih masukkannya, blog ini tergolong masih baru, jadi saya masih memperhitungkan kecepatan akses kalau posting gambar dalam jumlah besar. Tapi kedepannya pasti saya perbaiki, setelah semua artikel kami siap.

      Delete
  15. wawawaw mantap ulasan cra menanam padi sawah, kalo bisa ulasan penanaman padi di gunung tanpa pengairan dan sdkit curah hujan bisa dikatakan tanpa ujan dan ditanam di tebing lereng.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Bisa saja, tapi sementara ini teknologi Budidaya Padi seperti itu belum dikenal di Indonesia

      Delete
  16. Mantap blognya...bermanfaat buat masyarakat petani Indonesia.... izin share ya...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Silahkan, supaya artikel Budidaya Padi lebih bermanfaat

      Delete
  17. Infonya berpaat bagi penyuluh pertanian, thanks ya

    ReplyDelete
    Replies
    1. terima kasih juga atas kunjungannya di artikel budidaya tanaman padi sawah

      Delete
  18. Mantap,,saya mau cr bibit padi sawah yg unnggul,,

    ReplyDelete
    Replies
    1. Mudah-mudahan bisa melakukan budidaya padi dengan sukses

      Delete
  19. artikelnya akan sangat membantu tugas saya sbg ketua gapoktan, terimakasih

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kebetulan suami saya juga ketua gapoktan. Mudah-mudahan artikel budidaya tanaman padi sawah bisa cukup membantu

      Delete
  20. artikelnya sangat bermanfaat..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Terima kasih atas apresiasi dan kunjungannya pada artikel kami, budidaya padi sawah

      Delete
  21. terima kasih infonya,, bisa dibagi gak budidaya Padi SRI

    ReplyDelete
    Replies
    1. Mungkin lain waktu saya post artikel tentang BUDIDAYA PADI SRI

      Delete
  22. budidaya padi lebih berorientasi kepada sistem budidaya padi anorganik sebaiknya dikombinasikan dengan sistem budidayapadi organik agar pengendalian hama dan penyakit dapat diminimalisir

    ReplyDelete
    Replies
    1. Secara bertahap harus berangsur-angsur menerapkan budidaya padi organik sebagai bagian dari kepedulian terhadap lingkungan dan kesehatan.

      Delete
  23. artikelnya bagus,tapi untuk padi yg tersrang penyakit mohon di kasih gambar agar petani macam saya ini bisa mengerti dan tanggap,terimakasih

    ReplyDelete
    Replies
    1. Betul sekali, nanti secara bertahap akan kami buatkan ulasan khusus hama penyakit tanaman padi beserta gambarnya

      Delete
  24. sangat bermanfaat sebagai acuan cara bercocok tanam padi yang benar.....suwun

    ReplyDelete
    Replies
    1. Terima kasih atas apresiasinya, mudah-mudahan bisa digunakan sebagai referensi budidaya bagi para petani padi

      Delete
  25. Ibu mohon bantuan mengenai penyakit pada tanaman padi. Adapun gejala serangannya:
    1. Daun kering mulai dari ujung daun, kemudian agak rebah;
    2. Gejala biasa muncul pada waktu tanaman padi mau keluar malai;
    3. Di lokasi-lokasi yang terserang pada awalnya ada serangan tungro.
    (link gambarnya: http://www.facebook.com/groups/180884561931413/)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Penyakit tersebut merupakan hawar daun bakteri (BLB) yang disebabkan oleh bakteri Xanthomonas oryzae pv. oryzae. Penanganan penyakit tersebut bisa Anda lihat di artikel ini pada pokok bahasan Pengendalian Penyakit Tanaman Padi Sawah.

      Delete
  26. Bagus-bagus, tapi kalau kena hama burung, yang bisa dipanen cuma jerami

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hama burung untuk budidaya saat ini belum begitu mengkhawatirkan. kalaupun ada bisa dikendalikan dengan pengusiran.

      Delete
  27. artikel nya lengkap banget .. puas banget bacanya makasih banyak ilmu nyaa ;)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Semoga Anda bisa mendapatkan manfaat dari artikel budidaya tanaman padi sawah.

      Delete
  28. Ibu novik,gimana cara mencegah dan juga mengatasi 'teyeng' pada tanaman padi? Mohon penjelasan. Trima kasih.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Maaf saya kurang paham apa yang Anda maksud. Mohon diperjelas mengenai teyeng. bisa digambarkan gejalanya?

      Delete
    2. Daun berwarna coklat semua,akar pendek warna kekuningan,pertumbuhan terlambat,disaat tanaman yang sehat sudah pada menguning padinya,yang 'teyeng' lagi pada bunting. Apa mungkin keracunan 'fe' ya bu?

      Delete
    3. Kalau warna cokelatnya tidak dalam bentuk bercak dan seberti jerami kering yang dimulai dari ujung daun, kemungkinan terserang penyakit hawar daun bakteri. Cara penanganannya bisa Anda lihat pada artikel ini pokok bahasan pengendalian hama penyakit tanaman padi sawah

      Delete
    4. Atau mungkin tanahnya bersifat masam ya bu,misalkan bersifat masam,gimana memperbaiki hal tersebut agar tanah jadi normal kembali? Maaf banyak tanya soalnya baru belajar tani. Mohon penjelasan,trima kasih sebelumnya.

      Delete
    5. Untuk menentukan tingkat keasaman tanah harus dilakukan pengukuran terlebih dahulu. Pengukuran bisa menggunakan pH meter atau kertas lakmus. Kalau mau menggunakan pH meter, alat tersebut bisa Anda pinjam di instansi pertanian terdekat (BPP di tiap kecamatan). Jika tingkat keasaman tanah tinggi, lahan harus di kapur terlebih dahulu sebelum memulai budidaya padi. Pengapuran dilakukan bersamaan dengan pemupukan organik, sebelum pembajakan. Pada saat pembajakan, usahakan air diatur agar tidak keluar dari petak yang dibajak, sehingga kandungan unsur hara pada pupuk yang sudah diberikan tidak hanyut terbawa air. Untuk mengembalikan kesuburan tanah dalam waktu yang singkat bisa dibantu menggunakan pupuk organik dengan kandungan humat dan fulvat tinggi disertai aplikasi mikroba katalisator.

      Delete
    6. sangat bemanfaatdalam dunia pendidikan....

      Delete
    7. Terima kasih atas apresiasinya, semoga kunjungan Anda bisa menambah manfaat.

      Delete
    8. Untuk mosa gold atau bio spf,apakah bisa dicampur insektisida buk? Kalau disimpan lama misal 3 bulan kemudian baru dipake,kasiatnya hilang apa tidak buk?

      Delete
    9. Untuk aplikasi agensia hayati sebaiknya dilakukan terpisah dengan bahan kimia. Memang secara fungsional insektisida tidak membunuh jenis fungi atau bakteri. Tetapi untuk mengoptimalkan agensia hayati, sebaiknya aplikasi dilakukan secara terpisah.

      Delete
  29. drh.h.taufiq junaidiApril 17, 2013 at 7:19 PM

    artikelnya bagus tenaan he2 sukses mulia

    ReplyDelete
  30. maaf bertanya.. jenis padi apa ya bu yg hasil panen nya bagus dan tahan terhadap penyakit? trima kasih

    ReplyDelete
    Replies
    1. Saya terbiasa memberikan perlakuan yang sama pada setiap tanaman. Ketahanan terhadap serangan hama penyakit sangat dipengaruhi oleh kondisi cuaca dan teknik budidaya yang diterapkan. Bisa jadi satu varietas yang tahan terhadap OPT tertentu akan rentan terhadap serangan OPT lain. Atau jika suatu varietas tahan terhadap serangan OPT tertentu pada kondisi cuaca tertentu bisa jadi rentan terhada OPT tersebut jika ditanam pada kondisi cuaca lain. Untuk menentukan varietas yang paling sesuai dengan kondisi makro dan mikro klimat suatu daerah, bisa menanyakan pada instansi pertanian terdekat (BPP di masing-masing kecamatan).

      Delete
  31. trima kasih... saya yinggal di garut jawa barat, kbanyakan skitar kami menanam jenis ciherang yg dl diperoleh dr bantuan pemerintah mlalui pertanian,,,

    ReplyDelete
    Replies
    1. Di daerah kami, Wonosobo Jawa Tengah, Ciherang merupakan salah satu varietas yang agak tahan terhadap serangan hama dan penyakit. Disamping itu, produktivitas varietas ini juga cukup tinggi.

      Delete
  32. kami mesti orientasikan pada tanaman kami... Hidup organik,,,, terima kasih artikelnya!

    ReplyDelete
    Replies
    1. Semoga bisa mendapatkan manfaat dari artikel kami, selamat mencoba teknis budidaya secara organik. Semoga berhasil dan bisa membantu mensosialisasikan kepada yang lain.

      Delete
  33. mnurut ibu jenis padi yg tahan serangan hama dan produksinya yg bagus untuk daerah jawa barat, apa ya bu?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ciherang tergolong varietas yang cukup tahan dibanding varietas lain.

      Delete
  34. Bagaimana dengan pasca panennya...karena meskipun tanamannya bagus dan bernas, tapi penanganan saat panen....saya melihat langsung di sawah, masih banyak bulir padi yang tertinggal... tak adakah cara atau teknologi yang meminimalkan kerugian saat pasca panen?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Benar sekali, saat ini sudah banyak menggunakan teknologi perontok padi, baik menggunakan mesin dengan kapasitas kecil maupun besar, tergantung pada daerah masing-masing. untuk daerah penanaman padi hamparan, biasanya menggunakan mesin perontok besar, sedangkan untuk daerah terasering menggunakan mesin perontok yang kecil. terima kasih telah berkunjung di blog kami.

      Delete
  35. Terima kasih untuk artikel yang sangat bagus sekaligus mohon infromasi mengenai 1) Berapa kedalaman tanah minimal agar padi tumbuh bagus 2) apakah air dapat tergenang atau harus mengalir 3) apakah pupuk dapat dicairkan dulu atau harus ditebarkan? Terima kasih atas bantuanya

    ReplyDelete
    Replies
    1. 35 cm sudah cukup optimal untuk menopang pertumbuhan tanaman padi. Tergenang atau mengalir tidak begitu mempengaruhi produktifitas, yang terpenting adalah menjaga ketinggian air agar tetap dalam kondisi macak-macak. Pemupukan pada budidaya padi cukup dilakukan dalam bentuk padat agar mempermudah aplikasinya, karena kondisi tanah selalu dalam keadaan basah sehingga pupuk yang diberikan mudah larut.

      Delete
  36. Saya lagi nyari buku tentang budidaya tanaman padi disawah berair/basah secara lengkap step by step dari mulai pembenihan, pemupukan, pengairan, pengendalian hama dan penanggulangnnya, lengkap dengan gambar-gambarnya, misal contoh hama dan obatnya. apakah blog ini menjual buku/ebook yang saya maksud?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Tidak. Mungkin bisa Anda cari di gramedia atau toko buku lainnya

      Delete
  37. dapakah bahan aktif asam fosfit dicampur dengan bahan aktif lainnya,jika boleh apa alasannya dan jika tidak boleh apa alasannya,mohon pencerahan.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Mengenai kompatibilitas pencampuran pestisida Anda bisa menanyakan langsung kepada formulator produk terkait. Masalahnya hampir semua merk dagang pestisida tidak mencantumkan kompatibilitasnya. Saya sendiri selalu menanyakan kompatibilitas kepada formulator untuk setiap jenis merk dagang.

      Delete
  38. mau tanya klo yg d maksud kapur pertanian itu sama gak dngan kapur gamping

    ReplyDelete
    Replies
    1. Beda mas, kapur pertanian bisa Anda dapatkan di kios pertanian terdekat, harganya juga tidak mahal.

      Delete
  39. mksih bu artikelx sangat membantu bagi saya yg msih pemula dibidang pertanian khususx tanaman padi , dan ingin saya tanyakan penyakit tungro disertai karak daun yg tepat untuk penyemprotanx / penangulangan penyakit ini bu .... sebelumx mksih jawaban bu

    ReplyDelete
    Replies
    1. Pengendalian hama penyakit tanaman pada artikel ini sudah kami sesuaikan dengan pengalaman di lapangan, jadi Anda tinggal mengikuti petunjuk dan strategi pengendaliannya seperti pada artikel di atas.

      Delete
  40. Mau tanya mbak Novik, kalau budidaya padi dilakukan di daerah yang kekurangan air bisa nggak? saya punya tanah tapi tegalan. Mohon sarannya, bagaimana supaya budidaya padi bisa berhasil di daerah kering. Terima kasih.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Daerah minim air biasanya menanam padi gogo, dengan sistem tadah hujan. Jadi penanaman hanya dilakukan pada saat musim hujan. Waktu yang tepat untuk memulai usaha sawah tadah hujan adalah pada saat awal musim hujan, sehingga kebutuhan tanaman akan air bisa tercukupi.

      Delete

Tanijogonegoro.com: Menyajikan Informasi Terbaik
Tanijogonegoro.com: Menyajikan Informasi Terbaik

LOGO TANIJOGONEGORO
TERIMA KASIH ATAS KUNJUNGANNYA
Tanijogonegoro On Google Plus