BUDIDAYA BUAH NAGA ORGANIK

Budidaya Buah Naga Organik merupakan salah satu budidaya tanaman buah dengan menerapkan cara-cara alamiah (organik) serta memanfaatkan bahan maupun tanaman organik selama proses budidayanya. Buah Naga memiliki kandungan maupun khasiat luar biasa bagi kesehatan manusia sehingga selain sebagai tanaman buah juga bermanfaat sebagai tanaman herbal. Banyak keunggulan buah naga sehingga komoditas buah-buahan ini diburu oleh konsumen untuk berbagai macam keperluan. Tingginya permintaan konsumen terhadap buah ini memberikan angin segar bagi petani, serta peluang besar bagi pengembangan agribisnis buah naga.

PELUANG USAHA BUAH NAGA

Buah naga akhir-akhir ini banyak dibudidayakan oleh masyarakat, karena tingginya permintaan terhadap buah berasal dari gurun tersebut. Penanaman buah naga tersebar di pulau Jawa hingga ke Kalimantan. Kebun-kebun buah ini juga banyak ditemui. Memang, budidaya buah ini tergolong mudah bahkan minim perawatan. Budidaya buah naga bisa diusahakan di lahan luas dalam skala usaha besar maupun di lahan-lahan sempit seperti di kebun maupun halaman rumah (menggunakan pot). Oleh karena itu, para petani mampu meraup keuntungan besar, disamping produksinya tinggi, juga harga jualnya sangat bagus.

CARA BUDIDAYA BUAH NAGA

Penanaman buah naga kini banyak diarahkan pada sistem menanam buah naga organik. Produk dari hasil budidaya organik memiliki kualitas buah lebih baik dibandingkan produk dari hasil budidaya secara kimiawi. Selain itu, keuntungan dari teknik bercocok tanam buah naga secara organik lainnya adalah buah hasil produksi lebih sehat tanpa adanya residu bahan kimia, dimana residu kimia sangat berbahaya baik bagi kesehatan tubuh manusia maupun lingkungan sekitar. Pencemaran lingkungan baik air, udara, maupun tanah oleh paparan pestisida juga bisa dikurangi. Di samping itu, penggunaan bahan organik juga dapat mengembalikan kesuburan tanah, baik sifat fisik, biologi, maupun kimia tanah, sehingga tanah bisa digunakan untuk proses budidaya pertanian berkelanjutan.
Sejauh ini, di Indonesia sistem penanaman buah naga masih menggunakan bahan kimia dalam pemeliharaannya, baik itu pemupukan maupun penggunaan pestisidanya. Penggunaan pupuk kimia dalam jumlah berlebihan tetapi tidak diimbangi pemberian pupuk organik justru dapat menurunkan tingkat kesuburan tanah selama kurun waktu tertentu. Tekstur tanah pertanian menjadi kurang subur, keras bahkan tandus akibat aplikasi pupuk kimia berlebihan serta berlangsung secara terus menerus. Selain itu, penggunaan pestisida dosis tinggi dapat menimbulkan residu bahan kimia pada hasil produksi buah. Jika buah dengan paparan residu pestisida tinggi dikonsumsi oleh manusia secara terus menurus, maka residu pestisida tersebut akan terakumulasi, selanjutnya menjadi racun dalam tubuh. Lihat selengkapnya tentang bahaya pestisida bagi kesehatan.

SYARAT TUMBUH TANAMAN BUAH NAGA




Syarat tumbuh tanaman buah naga tidak berbeda jauh dari tanaman kaktus atau tanaman gurun pasir lainnya. Karena berasal dari daerah gurun pasir berkondisi panas kering maka buah ini umumnya tumbuh baik di dataran rendah hingga menengah. Buah spesies Hylocereus undatus, merupakan buah naga berdaging putih, buah ini akan tumbuh baik di ketinggian kurang dari 300 mdpl, sedangkan spesies Hylocereus costaricensis, merupakan buah naga berdaging super merah (super red), buah ini tumbuh baik di ketinggian 0-100mdpl. Sementara itu spesies Selenicereus megalanthus, merupakan buah naga berkulit kuning, daging putih tanpa sisik, buah ini akan tumbuh baik di daerah dingin (ketinggian lebih dari 800 mdpl).
Tanaman buah naga lebih cocok ditanam di daerah kering, dibandingkan daerah beriklim basah, curah hujan ideal untuk pertumbuhannya adalah 720 mm/tahun. Namun, tanaman buah naga masih dapat berproduksi serta tumbuh baik pada curah hujan tinggi, berkisar antara 1.000-1.300 mm/tahun, meskipun selama pertumbuhannya tersebut rentan terserang penyakit, terutama penyakit busuk akar maupun penyakit busuk batang. Hal ini disebabkan tanaman buah naga tidak tahan terhadap genangan air, sehingga jika kondisi tanahnya tergenang, maka akar tanaman kesulitan mendapatkan suplai oksigen. Karena perakaran tidak mendapatkan suplai oksigen normal, mengakibatkan tanaman buah asli gurun ini sangat mudah terserang penyakit.
Tanaman buah naga merupakan jenis tanaman buah dengan kebutuhan terhadap intensitas penyinaran cahaya matahari penuh. Oleh karena itu, lokasi penanaman buah naga sebaiknya dilakukan di lahan terbuka tanpa naungan. Lahan terbuka juga lebih memberi peluang memberikan sirkulasi udara cukup bagi pertumbuhan tanaman, sehingga kelembaban areal pertanaman lebih terjaga. Suhu udara ideal untuk pertumbuhan tanaman buah ini adalah antara 26-36°C.
Kondisi tanah ideal untuk menanam buah naga adalah tanah gembur dan porous, serta banyak mengandung bahan organik maupun unsur hara. Hindari menanam buah naga pada tanah berkandungan logam berat dan garam cukup tinggi. pH tanah optimal untuk pertumbuhan tanaman buah ini antara 6-7. Penanaman buah naga pada tanah masam, yaitu memiliki nilai pH tanah di bawah 6, akan menyebabkan pertumbuhan akar tanaman menjadi pendek tidak sempurna. Akibatnya, akar tanaman tidak mampu menyerap unsur hara sehingga tanaman mengalami kekurangan unsur hara serta menyebabkan keterlambatan pertumbuhan.
Meskipun tahan terhadap kekeringan, bukan berarti tanaman buah ini tidak memerlukan air. Air merupakan kebutuhan vital bagi semua tanaman. Oleh karena itu, air harus tersedia terus baik. Namun, pemberian air secara berlebihan juga dapat mengganggu pertumbuhan tanaman. Oleh karena itu, hindari lokasi penanaman di daerah-daerah beresiko tergenang air saat musim hujan, karena tanaman buah naga merupakan jenis tanaman sensitif terhadap kelebihan air. Genangan air akan menyebabkan kelembaban tanah menjadi tinggi sehingga berpotensi menjadi tempat potensial untuk pertumbuhan penyakit.

PERSIAPAN TEKNIS BUDIDAYA BUAH NAGA ORGANIK

Pemilihan lokasi penanaman buah naga perlu diperhatikan, hal ini bertujuan untuk memenuhi syarat tumbuh optimal bagi pertumbuhan tanaman buah ini. Pemilihan lokasi budidaya ideal, akan menjadi faktor pertama penentu keberhasilan bercocok tanam buah naga.
Setelah menentukan lokasi penanaman buah naga, maka langkah selanjutnya adalah melakukan pengukuran pH tanah untuk menentukan jumlah pemberian kapur pertanian pada tanah masam atau pH rendah (di bawah 6,5). Pengukuran bisa dilakukan menggunakan kertas lakmus, PH meter, atau cairan PH tester. Pengambilan titik sampel bisa dilakukan secara zigzag.

PELAKSANAAN BUDIDAYA BUAH NAGA

Persiapan Lahan

Setelah lokasi penanaman ditentukan serta melakukan pengukuran terhadap derajat keasaman tanah (pH tanah) maka dilanjutkan persiapan lahan untuk budidaya. Persiapan tersebut mencakup pemasangan tiang panjatan, pembersihan lahan, serta pengolahan lahan.
Buah naga merupakan tanaman merambat sehingga selama penanamannya dibutuhkan tiang panjatan untuk menopang pertumbuhan batang maupun cabangnya. Bentuk serta model tiang panjatan ada dua macam, yaitu bentuk tunggal dan bentuk kelompok atau pagar. Tiang panjatan harus dipastikan kuat sehingga mampu bertahan selama beberapa tahun karena tanaman buah naga tergolong tanaman berumur panjang.
1. Tiang Panjatan Buah Naga Bentuk Tunggal
Tiang panjatan bentuk tunggal bisa menggunakan tiang buatan dari beton atau tiang panjatan hidup dengan memanfaatkan batang tanaman hidup. Tiang panjatan tunggal dapat digunakan untuk menopang empat tanaman yang berproduksi dengan produktifitas rata-rata 3 kg per-tanaman. Para petani biasanya menggunakan tiang panjatan terbuat dari beton atau pipa PVC. Bentuk tiang panjatan bisa persegi, bulat, segitiga atau bentuk lain sesuai selera petani. Untuk tiang panjatan berbentuk persegi dibuat berukuran 10 cm x 10 cm, bentuk bulat dibuat berdiameter 10 cm, sedangkan bentuk segitiga dibuat dengan panjang sisi 15 cm. Tinggi tiang panjatan antara 1,5-2 meter. Jika jarak tanam 2,5 m x 2 m, setiap tiang panjatan ditanami 4 tanaman, maka untuk lahan seluas 1 ha dibutuhkan sekitar 2.000 tiang panjatan dan 8.000 bibit tanaman.
Alternatif lain selain menggunakan tiang beton, petani bisa menggunakan tiang panjatan hidup, yaitu memanfaatkan batang pohon hidup, misal tanaman angsana, jati, jaranan, atau Clerecedae. Artinya tiang panjatan berupa tanaman hidup yang memiliki perakaran cukup dalam, tanaman tersebut juga harus tahan pemangkasan berat karena tanaman buah ini harus terkena sinar matahari langsung agar bisa berproduksi secara optimal. Oleh karena itu, tiang panjatan hidup harus sering dipangkas apabila sudah menutupi batang maupun cabang tanaman. Tiang panjatan hidup harus memiliki tinggi minimal 2 m, berdiameter minimal 10 cm karena jika diameter kurang dari 10 cm dikhawatirkan tidak kuat menopang pertumbuhan tanaman buah ini. Penggunaan tiang jenis ini lebih menghemat biaya daripada tiang beton meskipun tidak sekuat dan tahan lama seperti tiang beton. Namun demikian, adanya tiang panjatan hidup juga membutuhkan tambahan pupuk sehingga juga akan menambah biaya pemeliharaan.
Tiang panjatan ditancapkan ke dalam tanah, kedalaman sekitar 50 cm agar tiang berdiri kokoh serta kuat selama menyangga tanaman. Ujung tiang bagian atas diberi besi melingkar berdiameter 30-60 cm berbentuk seperti stir mobil. Tujuan pemasangan besi melingkar ini adalah menyediakan tempat sebagai penopang cabang maupun anak cabang tanaman buah naga. Apabila besi beton dirasa cukup mahal bisa menggunakan ban sepeda motor, ban mobil, atau bisa juga para-para dari kayu berbentuk menyilang. Jika menggunakan ban, agar kuat perlu dimasukkan ke dalam besi penyangga. Bila menggunakan belahan ban luar mobil, maka ban tersebut perlu diikat pada besi penyangga agar lebih kuat.
2. Tiang Panjatan Buah Naga Bentuk Kelompok (Double Rowing)
Berbeda dengan tiang panjatan tunggal, model tiang panjatan double rowing pada budidaya buah naga mirip tiang penjemur pakaian. Dalam hal ini, tiang panjatan tersebut bisa digunakan sebagai tempat rambatan lebih dari satu tanaman. Kelebihan dari tiang panjatan kelompok adalah biaya pembuatannya lebih murah serta teknik pembuatannya juga lebih efisien jika dibanding tiang panjatan tunggal, karena bisa digunakan sebagai tempat rambatan untuk banyak tanaman. Namun, tiang panjatan kelompok ini juga memiliki kelemahan yaitu perawatannya sulit karena cabang tanaman buah ini bisa saling terkait satu sama lain serta kurang tahan terhadap berat beban tanaman lebat.
Cara pembuatan tiang panjatan ini adalah dengan menghubungkan dua buah tiang menggunakan kawat tebal sebagai penyangga batang tanaman, jarak antartiang dibuat sepanjang 4 meter, tinggi tiang 2-2,5 meter, kemudian dipendam sedalam kurang lebih 50 cm. Tebal tiang kurang lebih 15 x 15 cm, tiang terbuat dari beton (cor). Agar tidak mudah roboh saat menopang beban sulur atau cabang tanaman, maka perlu dibuatkan penguat dari besi. Ujung tiang diberi palang, dipasang melintang serta menyatu dengan tiang beton tersebut. Palang terbuat dari besi, panjang kurang lebih 50-60 cm, sehingga antara tiang beton-palang besi membentuk huruf T. Ujung palang tersebut dihubungkan dengan ujung palang pada tiang lainnya menggunakan kawat yang kuat serta tahan karat, sehingga bentuk hubungan kedua tiang tersebut menyerupai tempat jemuran. Dari kedua kawat penghubung tiang panjatan ini dipasang kawat vertikal menuju ke arah masing-masing titik tanam. Kawat vertikal inilah yang akan digunakan sebagai penopang batang utama.
Sistem panjatan double rowing dengan panjang 4 meter dapat digunakan untuk menampung buah sebanyak 20-26 buah tanaman. Jarak tanam antarbaris 30 cm, antartanaman 1 m (model penanaman zigzag). Tujuan penataan tata letak penanaman buah naga tersebut untuk mengoptimalkan intensitas sinar matahari sehingga cahaya tersebar lebih merata.
3. Pembersihan Lahan
Pembersihan lahan perlu dilakukan agar proses penanaman maupun persiapan tidak mengalami kesulitan. Rimbunan semak maupun pohon kecil di lahan dipotong sampai pangkal batang atau dapat dicabut sampai ke akarnya agar tidak tumbuh kembali. Sementara bagian cabang maupun ranting pohon besar dipotong sampai pangkal cabang atau ranting. Gulma di lahan juga harus dibersihkan dengan cara dicangkul tipis-tipis.
4. Pengolahan Lahan dan Pemupukan Dasar
Setelah bersih, lahan kemudian dicangkul di sekitar daerah penanaman buah naga. Pencangkulan bertujuan memecah tanah menjadi agregat-agregat kecil serta membalik tanah agar aerasi tanah menjadi lebih baik. Selain itu pecangkulan juga bertujuan agar lapisan tanah bawah bisa tercampur dengan lapisan tanah atas sehingga penyebaran humus atau bahan organik bisa merata ke seluruh lapisan tanah. Tanah menjadi gembur, subur, sehingga akar tanaman dapat menyerap unsur hara secara sempurna.
Lahan bernilai pH tanah di bawah 6 harus dilakukan pengapuran (dosis 1,2 ton/ha ditabur merata ke seluruh lahan). Selanjutnya pembuatan lubang tanam sesuai model tiang panjatan yang digunakan.
Untuk penanaman buah naga sistem panjatan tunggal, pengolahan tanah hanya dilakukan di sekitar tiang panjatan saja. Buat lubang tanam di sekitar tiang panjatan berukuran 40 cm x 40 cm, kedalaman lubang kurang lebih 30 cm. Masukkan media tanam ke dalam lubang tanam, terdiri dari campuran tanah, pupuk kandang, pasir/sekam bakar dengan perbandingan 1:1:1. Setelah itu lakukan penyiraman media tanam hingga basah, lalu biarkan terkena sinar matahari selama satu minggu. Agar pertumbuhan maupun produksi tanaman buah naga optimal, berikan asam humat dan asam fulvat. Tambahkan juga agensia hayati, seperti fungisida/bakterisida organik untuk mencegah serangan penyakit setelah penanaman. Langkah selanjutnya adalah membuat drainase berupa parit diantara baris tanaman. Pembuatan drainase bertujuan menampung kelebihan air saat musim hujan.
Berbeda dengan pengolahan tanah sistem panjatan tunggal. Pada sistem panjatan kelompok (double rowing) pengolahan tanah dilakukan dengan membuat alur penanaman diantara dua tiang beton yang sudah dipersiapkan. Alur ini berfungsi sebagai lokasi atau tempat penanaman buah naga, alur dibuat kurang lebih sepanjang 4 m, lebar galian 40-60 cm. Arah alur sesuai arah kawat pengikat batang, yaitu diantara dua tiang betong. Kemudian media tanam ditebar merata ke dalam alur yang telah dibuat. Komposisi media tanam dalam satu alur terdiri dari 20 kg tanah top soil, 20 kg pupuk kandang, 20 kg sekam bakar. Aduk bahan tersebut hingga merata kemudian dimasukkan ke dalam lubang alur. Setelah semua media dimasukkan ke dalam alur kemudian dilakukan penyiraman media hingga basah. Biarkan media tanam terkena sinar matahari selama satu minggu. Pengeringan bertujuan agar media tanam terbebas dari patogen atau penguapan akibat proses dekomposisi. Agar pertumbuhan maupun produksi tanaman buah naga optimal, berikan asam humat dan asam fulvat. Tambahkan juga agensia hayati, seperti fungisida/bakterisida organik untuk mencegah serangan penyakit setelah penanaman.

Persiapan Pembibitan

Keberhasilan budidaya buah naga tidak terlepas dari usaha penyiapan bibit berkualitas. Bibit vigor, sehat, serta bebas hama penyakit merupakan beberapa ciri bibit berkualitas bahkan memenuhi syarat. Bibit yang telah dipersiapkan dengan baik akan menghasilkan tanaman sehat serta mampu berproduksi optimal.
Selain itu kualitas bibit juga bisa ditentukan dari kualitas induk. Jika induk tanaman memiliki tingkat pertumbuhan cepat berkualitas buah bagus, maka besar kemungkinan hasil bibit juga memiliki sifat tidak jauh berbeda dari induknya. Jumlah kebutuhan bibit untuk menanam buah naga tergantung sistem budidaya yang diterapkan. Jika menggunakan sistem tiang panjatan tunggal maka dibutuhkan bibit sebanyak 1.000 batang/ha. Tetapi jika menggunakan sistem panjatan kelompok maka kebutuhan bibit akan lebih banyak lagi, yaitu sekitar 10.400 batang/ha. Oleh karena itu, pengadaan maupun penyiapan bibit harus dilakukan secara intensif agar tidak terjadi kekurangan bibit setelah penanaman.
Ada dua cara perbanyakan bibit, yaitu perbanyakan generatif dan perbanyakan vegetatif. Perbanyakan generatif adalah perbanyakan menggunakan biji buah naga. Keuntungan menggunakan teknik perbanyakan generatif yaitu dapat diperoleh bibit dalam jumlah banyak serta biaya murah. Setiap butir buah minimal berisi 1.000 biji. Namun cara ini kurang populer serta jarang dilakukan oleh petani karena membutuhkan waktu sangat lama bahkan sedikit lebih sulit jika dibandingkan dengan teknik perbanyakan vegetatif. Disamping itu untuk mendapatkan biji bernas serta berkualitas juga agak susah, karena harus dibutuhkan buah yang benar-benar tua serta sehat. Seleksi biji berkualitas juga sulit dilakukan karena ukuran bijinya sangat kecil bahkan memiliki penampakan sama. Oleh karena itu, artikel ini hanya akan membahas tentang teknik dan cara perbanyakan vegetatif.
Perbanyakan vegetatif adalah perbanyakan tanaman menggunakan bagian dari tanaman itu sendiri. Teknik perbanyakan ini membutuhkan biaya mahal, tetapi tingkat keberhasilannya lebih tinggi, disamping itu selama fase pemeliharaan dibutuhkan waktu lebih singkat. Keuntungan lain dari perbanyakan vegetatif yaitu kemungkinan tanaman mengalami penyimpangan genetik sangat kecil sehingga hasil bibit tanaman tidak jauh menyimpang dari induknya.
Metode perbanyakan vegetatif paling mudah dilakukan untuk memenuhi kebutuhan bibit adalah teknik stek batang. Perbanyakan tanaman menggunakan stek memiliki tingkat keberhasilan bibit bertahan hidup lebih tinggi, pertumbuhannya lebih cepat, serta hasil bibit berkualitas tinggi, memiliki genetik serupa dengan induknya. Selain itu teknik stek batang juga mudah dilakukan.
Sebelum melakukan penyetekan harus dipilih batang atau cabang tanaman sehat, tua, berwarna hijau gelam, serta sudah pernah berbuah paling tidak 3-4 kali (memiliki panjang minimal 30 cm). Keberhasilan stek ditentukan oleh calon batang. Batang tanaman buah naga yang pernah berbuah pertumbuhannya akan cepat, kokoh, serta mudah membentuk tunas. Sedangkan batang atau cabang muda mengandung banyak air sehingga lebih rentan terserang penyakit tanaman. Batang atau cabang tanaman buah naga sesuai kriteria tersebut akan lebih cepat keluar akar sehingga pertumbuhan tanaman juga lebih cepat, ditandai keluarnya tunas-tunas baru.
Setelah menentukan batang atau cabang tanaman buah naga, maka langkah selanjutnya adalah melakukan pemotongan terhadap calon batang atau cabang tanaman buah naga. Untuk membedakan bagian bawah maupun atas batang yang telah dipotong, maka potongan dibuat meruncing di bagian bawah (bekas potongan di bagian atas batang akan membentuk huruf V). Kemudian angin-anginkan batang stek hingga getahnya mengering (kurang lebih selama 2-3 hari).
Stek ditanam di polibag berisi media, komposisi media terdiri dari 1 tanah, 1 pupuk kandang, 1 sekam bakar. Polybag diletakkan di atas bedengan, jarak antarpolybag 20 cm x 20 cm. Bedengan dibuat selebar 100 cm. Langkah selanjutnya tempat persemaian ditutup menggunakan plastik sungkup transparan dengan ditopang menggunakan bambu (bambu dipasang melengkung). Selama pembibitan kondisi media harus dijaga agar tidak kekeringan. Tunas baru akan muncul setelah bibit berumur kurang lebih 2 minggu.
Umumnya batang atau cabang stek sehat akan mengeluarkan lebih dari satu tunas secara bersamaan. Sisakan satu tunas paling besar serta sehat (memiliki pertumbuhan kokoh). Perempelan tunas harus dilakukan secara rutin agar suplai nutrisi bisa dioptimalkan untuk pertumbuhan tunas peliharaan. Setelah 3 minggu, stek mulai mengeluarkan akar, tanaman juga sudah tampak vigor. Kemudian plastik sungkup sudah bisa dibuka di pagi hari serta ditutup lagi saat menjelang petang agar bibit memperoleh sinar matahari langsung. Penyinaran bertujuan agar tanaman menjadi kuat. Namun jika kondisi hujan, plastik sungkup tetap dibiarkan menutupi bibit agar media penanaman tidak terlalu basah. Bibit siap ditanam saat berumur 3-5 bulan.
Cara pengendalian hama dan penyakit diantaranya menjaga sanitasi lingkungan, baik di bedengan maupun polybag. Kelembaban di sekitar areal penanaman harus selalu dijaga agar bibit stek tidak mengalami kekeringan. Namun perlu diperhatikan bahwa saat melakukan penyiraman, harus dihindari pemberian air secara berlebihan agar tidak terjadi genangan air, karena genangan berpotensi menimbulkan serangan penyakit, terutama penyakit akar. Atau penyiraman bibit bisa dilakukan setiap pagi saja sampai benar-benar lembab agar keesokan harinya kondisi tanahnya masih cukup untuk pertumbuhan bibit tanaman. Namun, jika siang hari matahari sangat terik, penyiraman bisa dilakukan lagi sore harinya secukupnya saja agar saat malam hari kelembaban tanahnya tidak terlalu tinggi. Gulma di sekitar arel pembibitan juga harus dibersihkan agar tidak terjadi persaingan dalam memperoleh intensitas sinar matahari maupun penyerapan unsur hara. Selain itu, gulma di sekitar areal pembibitan juga berpotensi menjadi inang hama dan penyakit. Jika bibit terserang hama penyakit lakukan pengendalian secara terpadu. Jika serangan ringan, pengendalian hama penyakit cukup dilakukan secara manual. Sebagai pencegahan, lakukan penyemprotan rutin menggunakan pestisida organik maupun agensia hayati 1 minggu sekali.

Penanaman

Setelah lahan penanaman buah naga selesai dipersiapkan, pemindahan bibit stek yang telah siap, kurang lebih berumur tiga bulan, bisa segera dilakukan. Penanaman harus dilakukan secara hati-hati untuk menghindari kerusakan akibat teknik penanaman yang tidak benar, sehingga dapat mengakibatkan bibit stress serta pertumbuhannya terhambat. Perhatikan saat penanaman media dalam polybag jangan sampai pecah karena akan membuat bibit kesulitan beradaptasi akibat mengalami kerusakan akar. Penanaman jangan terlalu dalam karena dapat mengakibatkan bibit mudah terserang penyakit busuk batang. Penanaman ideal kurang lebih 20% dari panjang bibit.
Teknik penanaman sistem tiang panjat tunggal berbeda dengan penanaman sistem tiang panjat berkelompok. Pada penanaman sistem tiang panjatan tunggal penanaman dilakukan berjarak tanam 10 cm dari tiang panjatan. Keempat bibit ditanam mengelilingi tiang panjatan. Ikat keempat bibit tersebut pada tiang panjatan menggunakan tali lunak agar bibit tidak mudah jatuh. Lakukan pengikatan secara hati-hati, jangan terlalu kuat agar tidak mengakibatkan batang tanaman terluka. Batang tanaman terluka akan mudah terserang penyakit, terutama busuk batang. Lakukan penyiraman setelah penanaman selesai agar bibit bisa cepat beradaptasi di lingkungan barunya.
Sedangkan teknik penanaman sistem double rowing dilakukan dengan cara mengikuti lajur di antara dua tiang panjatan. Bibit buah ini ditanam tidak jauh dari kawat yang dipasang secara vertikal dengan titik tanam berpola zigzag.

Pemeliharaan Tanaman Buah Naga

Pemeliharaan harus tetap dilakukan secara teratur selama proses budidaya. Pemeliharaan tanaman merupakan faktor penting dalam mendukung keberhasilan usahatani. Upaya pemeliharaan secara intensif meliputi pengairan, penyulaman, pengikatan batang atau cabang, pemupukan susulan, pemangkasan, seleksi buah, sanitasi kebun, serta pengendalian hama penyakit tanaman.
1. Pengairan
Sebetulnya tanaman buah naga tidak membutuhkan irigasi khusus. Umumnya pengairan dilakukan menggunakan sistem pengairan tadah hujan. Oleh karena akarnya sangat lebat, sehingga tanaman buah ini tahan terhadap kekeringan. Namun, hal ini tidak berarti bahwa tanaman buah naga tidak memerlukan air. Pengairan harus diberikan secara terukur untuk menopang pertumbuhan maupun perkembangannya. Kekurangan air selama fase vegetatif dapat membuat tanaman layu bahkan sulit bertunas. Oleh karena itu penyiraman tetap dilakukan seminggu sekali hingga tanaman buah naga berumur 6 bulan. Bila kondisi tanah terlalu kering, maka penyiraman dilakukan 2-4 hari sekali, tergantung kondisi di lahan. Pada fase generatif, ditandai munculnya bunga dan buah, maka penyiraman dilakukan setiap 10-14 hari sekali atau menyesuaikan kondisi bila tanah terlalu kering. Kekurangan air di fase ini bisa mengakibatkan bunga rontok serta buah akan terbentuk tidak sempurna. Waktu penyiraman sebaiknya dilakukan pagi atau sore hari. Hindari penyiraman tanaman saat siang hari ketika matahari terik.
Selain penyiraman, pengairan juga bisa dilakukan dengan cara penggenangan. Caranya yaitu dengan perendaman air di parit sedalam kurang lebih 20 cm. Pengeleban dilakukan selama 1-1,5 jam, setelah itu air di parit harus segera dibuang atau dialirkan keluar. Pada sistem agribisnis pertanian berteknologi modern, kegiatan pengairan biasanya dilakukan menggunakan sprinkler dengan bantuan instalasi pompa air menggunakan motor.
2. Penyulaman Tanaman
Penyulaman merupakan kegiatan pemeliharaan yang menitikberatkan pada penggantian tanaman mati disebabkan karena serangan hama, penyakit, maupun sebab lain. Tujuan dari penyulaman yaitu melakukan efisiensi lahan agar tidak terjadi kekosongan akibat adanya kematian bibit di lahan. Selain itu, penyulaman juga bertujuan mengoptimalkan hasil produksi. Penyulaman dilakukan saat tanaman berumur 7 hari setelah tanam hingga tanaman berumur 2 bulan setelah tanam.
3. Pengikatan Batang atau Cabang
Letak dan posisi pertumbuhan batang atau cabang tanaman buah naga perlu diatur agar pertumbuhannya normal, tertata, serta tidak salah bentuk. Disamping itu, pengaturan letak maupun posisi batang atau cabang juga bertujuan mempermudah pemeliharaan, sehingga biaya pemeliharaan lebih efisien. Pengaturan letak turut berpengaruh terhadap kecepatan pertumbuhan tanaman. Dengan pengaturan pertumbuhan batang atau cabang, maka peluang tanaman buah ini untuk memperoleh intensitas sinar matahari lebih optimal. Pengaturan dilakukan dengan pengikatan batang atau cabang ke tiang panjatan. Pengikatan harus dilakukan tepat waktu, yaitu saat batang atau cabang masih dalam kondisi lemas, sehingga mudah diarahkan. Jika pengikatan terlambat dilakukan, akan membuat pertumbuhan batang atau cabang melengkung tidak teratur. Akibatnya cabang produktif tidak tumbuh ke atas.
Pengikatan dilakukan setiap 20-25 cm ke tiang panjatan. Tali pengikat bisa menggunakan tali rafia atau tali lunak lainnya membentuk angaka 8. Pengikatan jangan terlalu kencang agar batang atau cabang tidak terjepit karena dapat mengakibatkan luka atau bahkan patah. Selain itu tujuan pengikatan juga mempermudah akar udara menempel pada tiang panjatan sehingga memperkokoh posisi tanaman.
4. Pemupukan Susulan
Meskipun tanah telah menyediakan hara, akan tetapi ketersediaan haranya tidak mencukupi untuk menunjang pertumbuhan maupun perkembangan tanaman selanjutnya. Oleh karena itu, perlu diberi pupuk susulan (pupuk tambahan). Pemberian pupuk tambahan dilakukan menggunakan pupuk kandang atau bahan organik lain (sudah matang/sudah difermentasi). Dosis pemberian pupuk organik sebanyak 2-5 kilogram/tanaman (fase vegetatif) dan 5-10 kilogram/tanaman (fase generatif). Frekuensi pemberian pupuk dilakukan dua bulan sekali. Pupuk diberikan dengan cara menggali lubang di sekitar tanaman, tetapi jangan terlalu dekat batang karena bisa melukai akar tanaman, kemudian taburkan pupuk lalu segera ditutup tanah. Setelah semua pupuk tertutup tanah, lakukan penyiraman agar pupuk mudah bereaksi serta mudah terserap oleh akar tanaman. Untuk mengoptimalkan pertumbuhan maupun hasil produksi berikan nutrisi tanaman organik, asam humat dan asam fulvat, maupun hormon organik 7 hari sekali. Untuk penggunaan hormon tumbuhan (ZPT) sintesis, sebaiknya memahami fungsi dari hormon (ZPT) sintesis tersebut. Pemberian hormon tumbuhan secara berlebihan dapat mengganggu pertumbuhan tanaman (kerugian lebih lanjut dapat menurunkan produksi karena terjadi kerontokan bunga maupun buah secara besar-besaran), penyerapan unsur hara terjadi secara berlebihan, sehingga jika tidak diimbangi kecukupan hara menyebabkan tanaman menggugurkan bunga beserta buahnya karena makanan tidak cukup tersedia untuk melakukan pertumbuhan, pembuahan, maupun pembesaran buah.
5. Pemangkasan Tanaman Buah Naga
Pemangkasan tanaman bertujuan memperoleh bentuk yang baik sehingga menunjang pertumbuhan tanaman. Selain itu, pemangkasan juga bertujuan membuang bagian tanaman tidak produktif seperti cabang kerdil, kurus. Batang atau cabang tanaman tidak produktif akan menghambat pertumbuhan maupun perkembangan tanaman, terutama dalam pembentukan tunas baru dan buah, karena batang atau cabang tidak produktif tersebut akan berkompetisi dengan batang produktif dalam hal suplai nutrisi atau serapan unsur hara oleh tanaman.
- Pemangkasan Vegetatif Cabang Tanaman
Pemangkasan vegetatif untuk membentuk batang pokok dilakukan setelah bibit ditanam. Tunas dari hasil pembibitan dipertahankan hanya 1-2 tunas saja. Pilih tunas atau cabang sehat, kokoh serta berwarna hijau gelap. Tunas berbentuk tidak sempurna, ujungnya membulat, juga harus dipangkas. Tunas peliharaan akan menjadi batang utama untuk dipertahankan hingga berukuran 130-150 cm. Jika tinggi tanaman sudah sesuai keinginan maka segera dipangkas sekitar 5-10 cm dari ujung batang. Bekas pangkasan dioles menggunakan larutan fungisida/bakterisida organik untuk menghindari infeksi cendawan maupun bakteri. Pemangkasan batang akan merangsang tumbuhnya cabang produktif seragam. Tunas baru (muncul di bagian bawah) juga harus dipangkas.
- Pemangkasan Generatif Cabang Tanaman
Setelah pemangkasan vegetatif di bagian pangkal batang utama, maka akan muncul cabang produktif secara alami pada ujung batang tersebut. Umumnya akan muncul 4-5 cabang produktif. Lakukan seleksi cabang produktif tersebut, pilih 3-4 cabang paling besar, sehat, kekar, serta berwarna hijau gelap. Pemangkasan tetap dilakukan pada setiap tunas baru yang muncul di cabang produktif hingga cabang produktif mencapai ukuran 70-100 cm. Saat cabang produktif telah mencapai ukuran tersebut, segera pangkas 5-10 cm dari ujung cabang. Setelah dilakukan pemotongan pada ujung cabang produktif, maka pemangkasan dilakukan terhadap semua tunas baru yang muncul pada tanaman buah naga. Pemotongan tunas tersebut bertujuan agar serapan nutrisi tanaman digunakan secara optimal untuk pembentukan bunga maupun buah. Perlu diperhatikan bahwa setiap kali melakukan pemangkasan harus segera diikuti pengolesan larutan pestisida organik di bekas pangkasan tersebut.
6. Seleksi Bunga dan Buah
Tanaman mulai berbunga ditandai munculnya bunga pada cabang produktif. Biasanya akan muncul lebih dari satu bunga. Oleh karena itu, seleksi bunga dilakukan saat bunga masih kecil, sehingga nutrisi tidak digunakan untuk perkembangan bunga yang akan dibuang. Pilih 2-3 bunga terbesar, sehat, berwarna cerah, serta segar pada setiap cabang produktif (jarak antarbunga kurang lebih 30 cm).
7. Sanitasi Kebun
Sanitasi kebun merupakan kegiatan membersihkan kebun dari gulma (tumbuhan pengganggu), batang atau cabang bekas pangkasan, serta perawatan saluran irigasi agar tidak menimbulkan genangan air saat musim hujan. Tujuan dari kegiatan tersebut adalah untuk mencegah penyebaran hama dan penyakit, menjaga kelembaban areal pertanaman, serta pengurangi perebutan unsur hara antara tanaman buah naga dengan gulma.
Batang atau cabang bekas pangkasan segera dikumpulkan lalu dimusnahkan saat melakukan pemangkasan. Caranya sediakan wadah, saat melakukan pemangkasan, hasil pangkasan langsung dimasukkan ke dalam wadah agar tidak tercecer. Tujuan pengumpulan bekas pangkasan adalah untuk menghindari terjadinya infeksi penyakit pada bekas tanaman tersebut karena berpotensi menulari tanaman sehat. Pengendalian gulma dilakukan dengan melakukan penyiangan secara rutin. Pengendalian gulma dianjurkan tidak menggunakan herbisida, karena bagaimanapun herbisida mengandung bahan aktif yang berpotensi mencemari lingkungan. Penyiangan dilakukan secara kultur teknis menggunakan cangkul atau mencabut langsung terhadap gulma di sekitar titik tanam. Pencangkulan di sekitar titik tanam dilakukan secara hati-hati agar tidak merusak perakaran tanaman buah naga.

PENGENDALIAN HAMA DAN PENYAKIT BUDIDAYA BUAH NAGA ORGANIK

Tanaman buah ini tergolong jenis tanaman tahan terhadap serangan hama dan penyakit, seperti halnya tanaman kaktus lain yang memiliki ketahanan cukup tinggi terhadap serangan hama dan penyakit. Namun, hal ini tidak berarti bahwa tanaman buah naga yang kita budidaya selamanya terhindar dari hama penyakit. Oleh karena itu, upaya pengendalian hama penyakit tersebut tetap harus diterapkan sebagai sebuah kesatuan dalam proses bercocok tanam buah naga. Kerusakan akibat serangan hama dan penyakit tidak hanya menurunkan kualitas maupun kuantitas produksi, tetapi bila tidak dikendalikan bahkan serangan semakin parah juga dapat mematikan tanaman. Oleh karena itu, sejak dini harus dilakukan pengontrolan tanaman serta identifikasi terhadap serangan organisme pengganggu tanaman.

HAMA TANAMAN BUAH NAGA

Hama Tungau (Tetranycus sp.)

Hama Tungau berukuran sangat kecil, berbentuk menyerupai laba-laba serta bersifat polyfag, yaitu menyerang hampir segala jenis tanaman. Serangga dewasa berukuran kurang lebih 1 mm. Hama tungau aktif di siang hari. Siklus hidup tungau diselesaikan antara 14-15 hari. Hama tungau menyerang tanaman buah naga dengan cara menghisap cairan batang maupun cabang. Akibatnya di permukaan kulit batang atau cabang tanaman terserang akan muncul bintik-bintik kuning atau cokelat. Serangan berat akan menyebabkan tanaman buah naga tumbuh tidak normal.
Pengendalian hama tungau pada budidaya organik bisa dilakukan penyemprotan menggunakan pestisida nabati 3-4 hari sekali, seperti nimba, tagetes, eceng gondok, atau rumput laut. Untuk memulihkan tanaman terserang hama tungau diberikan nutrisi tanaman organik, baik melalui akar (melalui pengocoran), maupun melalui tubuh tanaman (melalui penyemprotan).

Hama Kutu Kebul (Bemisia tabaci)

Salah satu hama utama buah naga adalah kutu kebul. Imago serangga dewasa berukuran 1-1,5 mm, berwarna putih, serta sayapnya ditutupi lapisan lilin bertepung. Serangga dewasa biasanya berkelompok di permukaan bagian bawah cabang. Jika tanaman disentuh biasanya serangga akan beterbangan seperti kabut (kebul putih). Gejala serangan kutu kebul pada tanaman buah naga ditandai adanya bercak nekrotik akibat rusaknya sel-sel serta jaringan tanaman pada batang atau cabang terserang. Ekskresi kutu kebul berupa madu yang merupakan media tempat tumbuhnya embun jelaga yang berwarna hitam. Hal ini menyebabkan proses fotosintesis berlangsung tidak normal. Selain kerusakan langsung pada tanaman, hama kutu kebul merupakan serangga sangat berbahaya karena berperan sebagai vektor penular virus tanaman. Kerugian akibat serangan kutu kebul dapat mencapai 20-100%. Hingga saat ini, tercatat sebanyak 60 jenis virus yang berpotensi ditularkan oleh kutu kebul.
Pengendalian hama kutu kebul pada budidaya organik dapat dilakukan secara kultur teknis, yaitu menerapkan metode strip-planting (penerapan tanaman perangkap). Tanaman perangkap bisa ditanam mengelilingi areal budidaya sehingga membentuk pagar yang rapat. Beberapa tanaman yang efektif digunakan sebagai perangkap hama kutu kebul antara lain, jagung, bunga matahari, kacang panjang, maupun buncis. Selain penerapan strip planting, pengendalian gulma juga harus dilakukan secara rutin. Gulma sangat berpotensi sebagai inang kutu kebul.
Untuk mengurangi populasi serangga bisa melakukan pemasangan alat perangkap yellow trap sebanyak 40 buah/ha. Pengendalian hayati dapat dilakukan dengan memanfaatkan musuh alami hama kutu kebul, antara lain sebagai berikut :
  • Kumbang predator Menochilus sexmaculatus (Coccinelidae) yang memiliki siklus hidup 18-24 hari memiliki kemampuan memangsa nimfa kutu kebul sebanyak 200-400 ekor. Satu ekor kumbang betina mampu menghasilkan telur sebanyak 3.000 butir.
  • Parasitoid Encarcia formosa, satu ekor serangga betinanya mampu menghasilkan telur sebanyak 100-200 butir.
Penyemprotan pestisida nabati seperti nimba, tagetes, eceng gondok, atau rumput laut harus dilakukan secara rutin (interval penyemprotan 3-4 hari sekali).
Untuk memperkuat kondisi tanaman agar mampu bertahan dari infeksi virus yang ditularkan oleh hama kutu kebul maka diperlukan penyemprotan mengunakan nutrisi organik secara rutin, interval penyemprotan setiap 7 hari sekali. Pemberian nutrisi organik bertujuan memberikan asupan yang cukup pada tanaman, sehingga tanaman tetap sehat. Tanaman sehat memiliki daya tahan baik dari serangan hama dan penyakit.

Hama Kutu Sisik (Pseudococcus sp.)

Hama ini lebih menyukai bagian batang atau cabang tanaman buah naga yang tidak terkena sinar matahari. Batang atau cabang tanaman terserang akan telihat kusam.
Pengendalian hama Peudococcus sp. pada buah naga bisa dilakukan penyemprotan menggunakan pestisida nabati 3-4 hari sekali, seperti nimba, tagetes, eceng gondok, atau rumput laut. Untuk memulihkan tanaman terserang, berikan nutrisi tanaman organik, baik melalui akar (melalui pengocoran), maupun melalui tubuh tanaman (melalui penyemprotan).

Hama Kutu Batok (Aspidiotus sp.)

Hama kutu batok menyerang tanaman buah naga dengan cara mengisap cairan batang atau cabang, sehingga bagian tanaman terserang menjadi berwarna kuning.
Pengendalian hama (Aspidiotus sp.) pada budidaya organik bisa dilakukan penyemprotan menggunakan pestisida nabati 3-4 hari sekali, seperti nimba, tagetes, eceng gondok, atau rumput laut. Untuk memulihkan tanaman terserang, berikan nutrisi tanaman organik, baik melalui akar (melalui pengocoran), maupun melalui tubuh tanaman (melalui penyemprotan).

Bekicot

Hama bekicot menyerang tanaman buah naga terutama ketika musim hujan. Bekicot menyerang tanaman buah ini di malam hari dengan cara menggerogoti batang atau cabang tanaman sehingga bagian tanaman terluka berpotensi terinfeksi oleh penyakit sekunder. Penyakit sekunder bisa disebabkan oleh fungi maupun bakteri.
Pengendalian hama bekicot bisa dilakukan secara fisik yaitu melakukan pengontrolan lahan, mengambil berkicot yang menempel di tanaman (cara ini lebih efektif dilakukan saat malam hari, karena bekicot memiliki aktifitas tinggi di malam hari).

Semut

Umumnya, semut akan muncul saat tanaman buah naga mulai berbunga. Bunga memiliki aroma khas serta mengeluarkan cairan berasa manis. Hama semut menyerang dengan mengerubungi bunga yang baru kuncup, selanjutnya mengakibatkan kulit buah akan berbintik-bintik cokelat. Hal tersebut tentunya mengakibatkan kualitas buah turun serta harganya pun menjadi rendah. Pengendalian hama semut pada buah naga organik dilakukan dengan menaburkan kapur di sekitar batang utama.

Burung

Gangguan burung umumnya jarang terjadi sehingga tidak perlu dikhawatirkan. Biasanya hama burung menyerang buah masak. Pengendalian hama ini cukup melakukan pemanenan tepat waktu agar dapat mengurangi resiko serangan burung tersebut.

PENYAKIT TANAMAN BUAH NAGA

Tanaman buah ini tergolong tanaman agak tahan terhadap serangan penyakit. Namun, bukan berarti tanaman buah naga tidak berpotensi terserang penyakit, apalagi jika lingkungan budidaya tidak sesuai syarat pertumbuhannya. Umumnya penyakit mulai menyerang tanaman akibat sanitasi kebun tidak dijaga baik. Jika tanaman terserang penyakit maka harus segera dilakukan penanganan agar tidak menyebar ke tanaman lain. Berikut beberapa penyakit yang biasa ditemui pada tanaman buah naga berikut cara pengendaliannya :

Penyakit Busuk Pangkal Batang

Penyakit busung pangkal batang umumnya menyerang saat awal penanaman. Gejala serangan ditandai adanya pembusukan di pangkal batang sehingga menyebabkan batang berair serta berwarna kecokelatan. Di daerah terserang terdapat bulu-bulu putih halus yang merupakan miselium cendawan. Penyakit ini disebabkan oleh serangan cendawan Sclerotium rolfsii Sacc. (lebih sering menyerang tanaman saat cuaca lembab).
Upaya pengendalian Penyakit busuk pangkal batang pada buah naga dapat dilakukan dengan pengaturan drainase maupun kelembaban saat musim hujan. Penyemprotan tanaman menggunakan pestisida nabati, seperti daun serai, bawang putih, kunyit, serta bawang merah. Bahan-bahan tersebut direbus lalu disemprotkan pada seluruh bagian tanaman. Upaya lainnya adalah memanfaatkan agensia hayati, seperti Trichoderma sp. atau Gliocldium sp.

Penyakit Busuk Bakteri

Serangan penyakit ini disebabkan oleh infeksi bakteri Pseudomonas sp. Gejala tanaman terserang penyakit busuk bakteri ditandai adanya pembusukan pangkal batang, terdapat lendir putih kekuningan di daerah serangan, serta tanaman tampak kusam hingga layu.
Pengendalian terhadap serangan penyakit busuk bakteri ini dilakukan dengan melakukan sanitasi kebun secara rutin, perbaikan drainase untuk mencegah adanya genangan air, pencabutan tanaman terserang, serta membuang tanah disekitar titik tanam dari areal budidaya. Usahakan pembuangan tanah tersebut jangan sampai tercecer. Lubang bekas titik tanam ditaburi kapur agar pH tanah lokal meningkat. Penyemprotan tanaman menggunakan pestisida nabati, seperti daun serai, bawang putih, kunyit, serta bawang merah. Bahan-bahan tersebut direbus lalu disemprotkan ke seluruh bagian tanaman. Upaya lainnya adalah memanfaatkan agensia hayati, seperti Trichoderma sp. maupun Gliocldium sp.

Penyakit Layu Fusarium

Penyakit ini disebabkan oleh cendawan Fusarium oxysporium. Gejala serangan antara lain cabang tanaman berkerut, layu, lalu membusuk berwarna cokelat. Secara umum gejala yang tampak hampir sama dengan serangan penyakit busuk bakteri.
Pengendalian terhadap serangan penyakit Fusarium oxysporium pada budidaya organik dilakukan dengan melakukan sanitasi kebun secara rutin, perbaikan drainase untuk mencegah adanya genangan air, pencabutan tanaman terserang, serta membuang tanah disekitar titik tanam dari areal budidaya. Usahakan pembuangan tanah tersebut jangan sampai tercecer. Lubang bekas titik tanam ditaburi kapur agar pH tanah lokal meningkat. Penyemprotan tanaman menggunakan pestisida nabati, seperti daun serai, bawang putih, kunyit, serta bawang merah. Bahan-bahan tersebut direbus lalu disemprotkan ke seluruh bagian tanaman. Upaya lainnya adalah memanfaatkan agensia hayati, seperti Trichoderma sp. maupun Gliocldium sp.

PANEN BUAH NAGA

Panen merupakan kegiatan memetik buah yang telah siap panen atau mencapai kematangan optimal sesuai standar permintaan pasar. Tujuan dari kegiatan panen ini adalah memperoleh hasil dari kegiatan budidaya, yaitu memetik buah sesuai tingkat kematangan yang dikehendaki. Umumnya produk hortikultura merupakan produk yang cepat sekali rusak. Meskipun mutunya bagus, tetapi jika pemanenan dilakukan tidak benar maka akan menurunkan kualitas buahnya. Bagian ini akan membahas tentang panen buah naga Super Red (Hylocereus costaricensis).
Setelah tanaman buah ini berumur 1,5-2 tahun, tanaman mulai berbunga. Jenis Super Red siap panen memerlukan waktu antara 50-55 hari sejak muncul bunga. Setelah bunga muncul pada bagian cabang atau tangkai buah diberi tanda tanggal munculnya bunga tersebut menggunakan kertas dan ditulis menggunakan spidol, lalu kertas dibungkus plastik bening agar tidak rusak. Biasanya pada 2 tahun pertama, setiap tiang mampu menghasilkan 8-10 buah dengan bobot 400-600 gram/buah. Umur produktif tanaman buah naga berkisar 15-20 tahun.

Ciri-Ciri Buah Siap Panen Antara Lain:

  • Umur buah sejak telah mencapai 50-55 hari setelah muncul bunga;
  • Warna kulit buah mengkilat, sisik berubah dari hijau menjadi kemerahan;
  • Mahkota buah telah mengecil;
  • Kedua pangkal buah keriput dan kering;
  • Bentuk buah bulat sempurna serta besar dengan bobot diperkirakan 400-600g.
Waktu panen sebaiknya dilakukan pagi hari antara pukul 06.00-09.00 atau sore hari antara pukul 15.00-17.00. Pemanenan dilakukan saat cuaca cerah tidak sedang hujan. Hindari pemanenan kondisi lembab karena dapat memicu serangan patogen saat penyimpanan.
Pemanenan buah harus dilakukan secara benar untuk menjaga kualitas buah. Cara maupun tahap pemanenan adalah sebagai berikut :
  • Kenakan sarung tangan agar tidak melukai kulit buah.
  • Gunakan gunting atau alat potong lain yang tajam untuk memotong tangkai buah.
  • Potong buah tepat pada tangkainya, lakukan secara hati-hati, jangan sampai melukai kulit buah maupun percabangan tempat buah tersebut.
  • Bungkus buah hasil panenan menggunakan kertas koran lalu letakkan ke dalam keranjang dengan posisi tangkai buah menghadap ke bawah. Bagian bawah (dasar keranjang) diberi alas menggunakan daun kering atau kertas koran.
  • Bagian atas buah juga diberi alas untuk meletakkan buah pada lapisan di atasnya, bisa menggunakan daun kering/kertas koran, sehingga dapat mengurangi tekanan buah pada lapisan di atasnya.
  • Tinggi lapisan buah di keranjang tidak lebih dari tiga lapis agar buah bagian bawah tidak menerima beban terlalu berat.


LOGO TANIJOGONEGORO
TERIMA KASIH ATAS KUNJUNGANNYA
Tanijogonegoro On Google Plus