HAMA DAN PENYAKIT TANAMAN KENTANG

Hama dan Penyakit Tanaman Kentang - Tanaman kentang tergolong tanaman sangat rentan terhadap serangan hama dan penyakit baik saat musim hujan maupun musim kemarau. Penanaman kentang di musim hujan sangat rentan terhadap serangan busuk phytophthora maupun layu fusarium. Sebaliknya, jika penanaman dilakukan di musim kemarau, tanaman kentang rentan terhadap serangan hama thrips, ulat, maupun lalat penggorok daun. Pola tanam tanpa sistem rotasi tanaman serta berlangsung terus-menerus dalam waktu lama menyebabkan hama dan penyakit tersebut kini berpotensi menggagalkan panen di segala musim. Berikut kami uraikan tentang berbagai jenis hama dan penyakit pengganggu tanaman kentang beserta cara pengendaliannya:

HAMA TANAMAN KENTANG

Hama Uret Phyllophaga (Holotricia) javana

Hama uret dikenal juga dengan nama white grub. Bentuk binatang ini menyerupai kumbang berwarna cokelat gelap dengan panjang 2-2,5 cm. Hama ini biasanya banyak terdapat di tumpukan bahan organik mentah (belum difermentasi). Sehingga aplikasi pupuk kandang mentah (belum difermentasi) juga berpotensi menjadi penyebab serangan uret. Phyllophaga (Holotricia) javana menyerang tanaman kentang dengan cara melubangi umbi kentang, umbi terseerang berpotensi terserang penyakit sekunder akibat gigitan hama uret. Selain itu uret juga menyerang akar tanaman, sehingga jika serangan parah dapat mengakibatkan tanaman kentang mati.

Pemanfaatan agensia hayati bisa dilakukan untuk mengendalikan hama uret, seperti Metarrhizium anisoplae, bisa didapatkan di kios pertanian terdekat.

Hama Anjing Tanah Gryllotalpa sp.

Hama anjing tanah (dalam bahasa jawa dikenal orong-orong) memiliki kaki sangat kuat. Hama ini selain menyerang umbi kentang juga sering ditemukan pada tanaman padi muda. Selain itu, Gryllotalpa sp. juga banyak ditemukan menyerang tanaman sayuran lain saat masih muda. Hama ini tinggal di dalam tanah, penyerangannya dilakukan saat malam hari.

Untuk saat ini anjing tanah belum menjadi hama serius pada budidaya kentang. Tetapi jika ditemukan serangan hama tersebut, maka segera taburkan insektisida berbahan aktif karbofuran. Dosis/konsentrasi 0,5 gram/tanaman.

Hama Thrips Tabaci

Hama thrips berukuran sangat kecil, kurang lebih 1 mm sehingga sulit dilihat mata telanjang. Hama ini bergerak lincah dengan radius serangan hingga 1 km. Hama thrips menyerang tanaman dengan cara menghisap cairan daun, sehingga daun tanaman terserang tampak mengeriput lalu keriting. Bagian bawah daun berwarna keperakan karena bagian dalam daun berongga setelah cairannya terhisap. Daun tua terserang tampak menggulung ke bagian bawah. Hama ini akan berkembang biak dengan baik serta menyerang ganas terutama ketika kelembaban udara berkisar 70%. Thrips memiliki daur hidup antara 7-12 hari. Serangga muda berwarna putih, kekuningan, hingga kemerahan. Serangga dewasa memiliki dua pasang sayap kecil (terdapat rambut di bagian tepi tubuhnya). Bagian mulutnya berfungsi menusuk maupun menghisap bagian tanaman kentang, seperti daun, bunga, buah, maupun kuncup tunas.

Upaya pengendalian serangan hama kutu daun antara lain sebagai berikut :
  1. Menerapkan strip planting (tanaman perangkap) di sekeliling areal pertanaman sebagai tanaman pagar. Tanaman yang bisa digunakan sebagai tanaman perangkap adalah tanaman yang pertumbuhannya lebih tinggi dibanding tanaman utama antara lain jagung, kacang panjang, atau buncis. Tanaman perangkap ditanam dua minggu sebelum penanaman kentang. Saat daun tanaman perangkap terserang, harus segera diambil lalu dimusnahkan.
  2. Penggiliran tanaman dengan tanaman bukan sefamili maupun tanaman inang.
  3. Sanitasi lahan, yaitu pengendalian gulma serta pemusnahan bagian tanaman kentang terserang.
  4. Pengendalian secara organik lebih diutamakan, yaitu melalui penyemprotan insektisida nabati maupun agensia hayati. Insektisida nabati dapat dibuat dari beberapa bahan nabati berdaya bunuh tinggi terhadap serangga, misalnya daun nimbau, umbi gadung, cabai, atau pohon jenu.
  5. Upaya pengendalian secara kimiawi dapat dilakukan penyemprotan menggunakan insektisida berbahan aktif abamektin, profenofos, dimehipo, asetamiprid, atau imidakloprid. Dosis/konsentrasi penyemprotan sesuai petunjuk di kemasannya.

Hama Kutu Daun

Hama kutu daun pengganggu tanaman kentang adalah Aphis gossypii (berwarna hijau kehitaman sampai kuning kecokelatan) dan Myzus persicae (sayapnya berwarna kehitaman sedangkan tubuhnya berwana hijau, kuning, sampai merah kecokelatan). Kedua serangga ini bersifat polyfag, yaitu menyerang segala jenis tanaman, serta bersifat partenogenesis, yaitu berkembang biak secara aseksual (tanpa kawin). Kutu ini akan melahirkan nimfa, daur hidupnya diselesaikan dalam jangka waktu 7-10 hari. Populasi hama kutu daun sangat tinggi saat kelembaban udara relatif rendah, terutama terjadi di musim kemarau.

Kedua hama tersebut menyerang tanaman kentang dengan cara menghisap cairan daun atau bagian daun muda. Daun tampak keriput, berkerut, terpelintir, serta berwana kekuningan. Tanaman terserang akan tumbuh kerdil, bahkan pertumbuhannya menjadi terhambat. Hal paling ditakutkan oleh petani kentang adalah kutu daun Aphis gossypii dan Myzus persicae, kedua hama ini merupakan serangga sangat aktif berperan sebagai penular virus. Serangan hama kutu daun berpotensi menggagalkan budidaya hingga puso.

Upaya pengendalian serangan hama kutu daun adalah sebagai berikut:
  1. Menerapkan strip planting (tanaman perangkap) di sekeliling areal pertanaman sebagai tanaman pagar. Tanaman yang bisa digunakan sebagai tanaman perangkap adalah tanaman yang pertumbuhannya lebih tinggi dibanding tanaman utama antara lain jagung, kacang panjang, buncis, atau tanaman yang bunganya berwarna kuning karena kutu ini menyukai warna kuning. Tanaman perangkap ditanam dua minggu sebelum penanaman kentang. Saat daun tanaman perangkap terserang, harus segera diambil lalu dimusnahkan.
  2. Sanitasi lahan, yaitu pengendalian gulma serta pemusnahan bagian tanaman terserang.
  3. Pengendalian secara organik lebih diutamakan, yaitu dengan penyemprotan insektisida nabati maupun agensia hayati. Insektisida nabati dapat dibuat dari beberapa bahan nabati berdaya bunuh tinggi terhadap serangga, misalnya daun nimbau, umbi gadung, atau pohon jenu. Serta memanfaatkan agensia hayati seperti Enthomopthora sp.
  4. Upaya pengendalian secara kimiawi dapat dilakukan penyemprotan menggunakan insektisida berbahan aktif abamektin, profenofos, dimehipo, asetamiprid, atau imidakloprid. Dosis/konsentrasi penyemprotan sesuai petunjuk di kemasan.

Hama Lalat Daun

Hama lalat daun sering disebut juga leafminer. Hama ini merupakan hama jenis penggorok. Lalat daun bersifat polyfag (menyerang beberapa tanaman) serta termasuk jenis hama ganas karena berpotensi menyerang semua jenis tanaman di segala musim. Hama lalat daun lebih dikenal sebagai lalat penggorok daun (Lyriomyza huidobrensis). Hama Lyriomyza huidobrensis pernah merusak areal budidaya kentang di Pengalengan dan Garut.

Gejala serangan tampak adanya lubang-lubang kecil di permukaan daun akibat lalat dewasa menusukkan ovipositornya untuk meletakkan telur. Dari luka tusukan tersebut akan keluar cairan, cairan ini akan dihisap oleh lalat sebagai makanan. Setelah telur menetas, larva (imago) akan menggorok ke dalam daun dengan cara menghisap cairan serta memakan bagian dalam daun. Permukaan daun kentang terserang akan terlihat bercak-bercak cokelat, lubang gorokan akan menyatu satu sama lain, akhirnya daun mengering. Serangan hama lalat penggorok daun umumnya terjadi saat tanaman kentang berumur 20-35 hari atau menjelang pembentukan umbi, kemudian berlanjut hingga fase panen. Kerusakan tanaman kentang akibat serangan lalat Lyriomyza hudobrensis dapat mencapi 60%. Hama ini sangat berbahaya karena berperan sebagai serangga vektor penular virus. Virus berpotensi menginfeksi tanaman saat lalat menusukkan ovipositornya.

Upaya pengendalian serangan hama lalat penggorok daun adalah sebagai berikut :
  1. Menanam bibit sehat.
  2. Menerapkan strip planting (tanaman perangkap) di sekitar areal pertanaman. Tanaman yang bisa digunakan sebagai tanaman perangkap antara lain kacang merah, atau tanaman yang bunganya berwarna kuning karena lalat ini menyukai warna kuning. Tanaman perangkap ditanam dua minggu sebelum penanaman kentang. Saat daun tanaman perangkap terserang, harus segera diambil lalu dimusnahkan. Selain cara tersebut, dapat juga dengan membuat perangkap berwarna kuning yang beri perekat. Perangkap tersebut dipasang sebanyak 100 perangkap/ha.
  3. Sanitasi lahan, yaitu pengendalian gulma maupun pemusnahan bagian tanaman terserang.
  4. Pengendalian secara organik lebih diutamakan, yaitu penyemprotan menggunakan insektisida nabati maupun agensia hayati. Insektisida nabati dapat dibuat dari beberapa bahan nabati berdaya bunuh tinggi terhadap serangga, misalnya daun nimbau, umbi gadung, atau pohon jenu. Pemanfaatan agensia hayati seperti Ascecode sp., Hemiptarsenus varicornis., Gronotoma sp., atau Opius sp. juga dapat dilakukan.
  5. Upaya pengendalian secara kimiawi dapat dilakukan penyemprotan menggunakan insektisida berbahan aktif abamektin, profenofos, dimehipo, asetamiprid, atau imidakloprid. Dosis/konsentrasi penyemprotan sesuai petunjuk di kemasan.

Hama Ulat Penggulung

Hama ulat penggulung pengganggu tanaman kentang adalah Phthorimaea operculella. Serangan ulat jenis ini banyak terjadi saat musim kemarau. Selain menyerang tanaman kentang, Phthorimaea operculella juga menyerang tanaman tembakau. Hama ulat ini dikenal juga dengan nama Potato Tumbermoth (PTM). Hama PTM diduga sebagai hama pengundang datangnya serangan jamur fusarium. Pada ketinggian 1.200 mdpl daur hidup ulat dapat mencapai 40 hari sehingga sangat berbahaya bagi tanaman kentang. Selain menyerang tanaman kentang, Phthorimaea operculella juga berpotensi menyerang umbi kentang di dalam gudang. Serangga dewasa berupa kupu-kupu aktif di malam hari. Kupu-kupu ini meletakkan telur yang sangat kecil di bawah daun atau di atas umbi terbuka (tidak tertutup tanah).

Gejala serangan dimulai adanya perubahan warna daun dari hijau menjadi merah tua. Selain itu, akan mucul jalinan menyerupai benang, didalamnya terdapat ulat kecil berwarna abu-abu. Daun menggulung karena permukaan daun sebelah atas rusak. Serangan tidak hanya terjadi di lapangan, tetapi juga di gudang tempat penyimpanan umbi, ditandai adanya kotoran di sekitar mata tunas.

Upaya pengendalian hama ulat Phthorimaea operculella adalah sebagai berikut :
  1. Usahakan tidak ada retakan tanah, karena larva ulat Phthorimaea operculella ini akan masuk melalui retakan tanah serta merusak umbi.
  2. Pembubunan harus dilakukan secara rutin untuk mencegah serangan larva ke dalam umbi.
  3. Sanitasi kebun dengan mengendalikan gulma secara rutin.
  4. Upaya pengendalian secara organik lebih diutamakan, yaitu menggunakan pestisida nabati. Selain itu bisa juga menggunakan pestisida biologi (memanfaatkan Bacillus thuringiensis atau Baculovirus).
  5. Pengendalian kimiawi menggunakan insektisida berbahan aktif sipermetrin, deltametrin, profenofos, klorpirifos, metomil, kartophidroklorida, atau dimehipo. Dosis/konsentrasi sesuai petunjuk di kemasan.

Hama Ulat Spodoptera exigua

Hama Spodoptera exigua berwarna hijau, berubah menjadi cokelat dengan strip kekuningan. Pupa ulat bawang terbentuk di dalam tanah akhirnya berubah menjadi kupu-kupu dengan sayap depan berwarna abu-abu gelap sedangkan sayap belakang berwarna agak putih. Ulat ini sangat rakus bahkan menyerang hampir semua jenis tanaman hortikultura, sehingga penyebarannya sangat cepat. Hama Spodoptera exigua menyerang tanaman kentang dengan cara memakan daun tanaman dimulai dari bagian tepi daun menuju bagian tengah. Serangan hebat menyebabkan daun habis, bahkan tanaman tampak gundul.

Upaya pengendalian hama ulat Spodoptera exigua adalah sebagai berikut :
  1. Sanitasi kebun dengan mengendalikan gulma secara rutin.
  2. Pengendalian secara organik lebih diutamakan, yaitu menggunakan pestisida nabati. Selain itu bisa juga menggunakan pestisida biologi (memanfaatkan Bacillus thuringiensis atau Baculovirus).
  3. Pengendalian kimiawi menggunakan insektisida berbahan aktif sipermetrin, deltametrin, profenofos, klorpirifos, metomil, kartophidroklorida, atau dimehipo. Dosis/konsentrasi sesuai petunjuk di kemasan.

Hama Ulat Tanah (Agrotis ipsilon)

Hama ulat ini disebut juga ulat pemotong (black cut worm). Hama Agrotis epsilon menyerang tanaman saat masih muda dengan cara memotong pangkal batang tanaman. Hama ini tergolong hama aktif di malam hari, saat siang harinya bersembunyi di dalam tanah. Larva yang baru menetas biasanya merusak jaringan daun, setelah dewasa ulat pindah ke dalam tanah kemudian memotong tanaman muda di lahan. Serangga dewasa berupa kupu-kupu berwarna gelap. Daur hidup dalam satu generasi berlangsung selama 28-42 hari.

Upaya pengendalian hama ulat Agrotis ipsilon adalah sebagai berikut :
  1. Sanitasi kebun dengan mengendalikan gulma secara rutin.
  2. Pengendalian secara organik lebih diutamakan, yaitu menggunakan pestisida nabati. Selain itu bisa juga menggunakan pestisida biologi (memanfaatkan Bacillus thuringiensis atau Baculovirus.
  3. Pengendalian kimiawi menggunakan insektisida berbahan aktif sipermetrin, deltametrin, profenofos, klorpirifos, metomil, kartophidroklorida, atau dimehipo. Dosis/konsentrasi sesuai petunjuk di kemasan.

Hama Ulat Heliothis armigera

Hama ulat Heliothis armigera dikenal juga dengan nama corn earworm. Hama dapat menyerang bagian umbi maupun daun kentang. Ulat ini juga sering ditemukan pada tanaman cabai, tomat, tembakau, maupun jagung. Stadium dewasa berupa kupu-kupu berwarna kekuningan berbintik serta bergaris hitam. Hama ini dapat hidup di dataran rendah hingga dataran tinggi, yaitu di ketinggian 2.000 mdpl. Serangan ditandai adanya daun maupun umbi berlubang.

Upaya pengendalian hama ulat Heliothis armigera adalah sebagai berikut :
  1. Sanitasi kebun dengan mengendalikan gulma secara rutin.
  2. Pengendalian secara organik lebih diutamakan, yaitu menggunakan pestisida nabati. Selain bisa juga menggunakan pestisida biologi (memanfaatkan Bacillus thuringiensis atau Baculovirus).
  3. Pengendalian kimiawi menggunakan insektisida berbahan aktif sipermetrin, deltametrin, profenofos, klorpirifos, metomil, kartophidroklorida, atau dimehipo. Dosis/konsentrasi sesuai petunjuk di kemasan.

Hama Ulat Spodoptera litura

Tubuh ulat Spodoptera litura terdapat bintik-bintik segitiga berwana hitam. Bagian sisi tubuhnya berwana hitam, bergaris kekuningan. Pupa terdapat di bawah permukaan tanah. Ulat ini dikenal juga dengan nama ulat grayak (ulat tentara), karena menyerang secara bergerombol. Ulat menyerang daun tanaman kentang hingga tinggal epidermis saja sehingga daun tampak seperti meranggas. Hama ulat grayak bersifat polyfag serta tergolong hama sangat ganas. Pada tanaman cabai, Hama Spodoptera litura tidak hanya menyerang daun tanaman saja, tetapi buah cabai pun ikut diserang.

Upaya pengendalian serangan hama ulat grayak Spodoptera litura adalah sebagai berikut :
  1. Sanitasi kebun dengan mengendalikan gulma secara rutin.
  2. Pengendalian secara organik lebih diutamakan, yaitu dengan menggunakan pestisida nabati. Selain itu bisa juga menggunakan pestisida biologi (memanfaatkan Bacillus thuringiensis atau Baculovirus.
  3. Pengendalian kimiawi menggunakan insektisida berbahan aktif sipermetrin, deltametrin, profenofos, klorpirifos, metomil, kartophidroklorida, atau dimehipo. Dosis/konsentrasi sesuai petunjuk di kemasan.

Hama Kumbang Kentang (Epilachna sp.)

Hama Epilachna sp. dikenal juga dengan nama potato beetle. Hama menyerang tanaman dari famili Solanaceae seperti tomat, terong, tembakau, cabai, maupun Physalis angulata (sejenis ciplukan). Sosok serangga ini menyerupai kepik berwarna kecokelatan serta berbintik hitam. Jumlah bintik di tubuhnya sangat bervariasi, yaitu antara 12-16 totol.

Serangan dimulai dengan memakan bagian tengah daun, sehingga daun tanaman kentang terserang akan nampak berlubang menyerupai jendela. Ketika terjadi serangan berat, hanya akan tersisa tulang daunnya saja.

Upaya pengendalian serangan hama ulat Epilachna sp. antara lain sebagai berikut :
  1. Sanitasi kebun dengan mengendalikan gulma secara rutin.
  2. Pengendalian secara organik lebih diutamakan, yaitu dengan menggunakan pestisida nabati.
  3. Pengendalian kimiawi menggunakan insektisida berbahan aktif sipermetrin, deltametrin, profenofos, klorpirifos, metomil, kartophidroklorida, atau dimehipo. Dosis/konsentrasi sesuai petunjuk di kemasan.

Hama Nematoda (Meloidogyne incognita)

Hama nematoda sering juga disebut dengan nama bintil akar (Root Knot Nematode), karena serangan hama ini ditandai adanya bintil-bintil kecil di bagian akar atau umbi yang menyerupai jerawat. Tanaman kentang terserang nematoda menunjukkan gejala pertumbuhan kerdil, daun menguning saat udara panas, selanjutnya daun akan berguguran. Apabila tanaman dicabut akan terlihat bintil-bintil pada akar atau umbi kentang.

Upaya pengendalian serangan hama nematoda antara lain sebagai berikut :
Tidak menanam tanaman kentang di daerah endemik.
Pemberian insektisida nematisida berbahan aktif karbofuran sebanyak 1 gr/tanaman.

PENYAKIT TANAMAN KENTANG

Penyakit Busuk Daun (Phytophthora infestans)

Penyakit busuk daun disebabkan oleh infeksi patogen Phytophthora infestans. Cendawan tersebut dapat menyerang seluruh bagian tanaman, baik daun, batang, pangkal batang, umbi, maupun perakaran tanaman kentang. Hingga saat ini, Phytophthora insfestans masih merupakan penyakit utama penyebab kegagalan panen kentang, terutama terjadi saat musim hujan dengan suhu optimal untuk perkembangannya adalah 21°C.

Daun kentang terserang menunjukkan gejala ditandai adanya bercak kecil kebasah-basahan berwarna hijau kelabu, lama kelamaan berubah menjadi cokelat kehitaman. Bercak meluas ke seluruh daun sehingga daun kentang akan membusuk dan kering. Bagian daun membusuk tetap meggantung pada tanaman. Selanjutnya serangan akan meluas sampai ke batang atau cabang. Di bagian bawah daun terserang terdapat konidia spora berwana putih.

Serangan pada umbi ditandai adanya bercak berwarna cokelat sampai ungu kehitaman. Ketika seranga semakin berat, umbi akan membusuk sehingga tidak dapat dipanen. Penyakit ini juga menyerang umbi kentang saat disimpan di gudang penyimpanan.

Upaya pengendalian serangan penyakit Phytophthora infestans antara lain sebagai berikut :
  1. Sanitasi lingkungan, yaitu memusnahkan tanaman kentang terserang serta pengendalian gulma secara rutin.
  2. Pengaturan drainase sehingga tidak terjadi genangan air saat musim hujan.
  3. Pengendalian secara organik lebih diutamakan, yaitu dengan menggunakan pestisida nabati. Selain itu bisa juga menggunakan agensia hayati yaitu Trichoderma sp. maupun Gliocladium sp.
  4. Pengendalian kimiawi menggunakan fungisida berbahan aktif simoksanil, famoksadon, dimetomorf, propamokarb hidroklorida, mankozeb, klorotalonil atau thiram. Dosis/konsentrasi sesuai petunjuk di kemasan.

Penyakit Layu Bakteri

Penyebab layu bakteri adalah bakteri Pseudomonas (Ralstonia) solanacearum. Gajala serangan ditandai adanya beberapa daun muda pada pucuk tanaman mati serta menguningnya daun bagian bawah. Bila pangkal batang dipotong akan terlihat bercak berwarna cokelat pada kambiumnya berbentuk menyerupai cincin.

Serangan penyakit layu bakteri pada umbi ditandai adanya tanah basah berlendir yang menempel di ujung stolon atau bagian mata umbi atau bagian ujung umbi. Bila umbi dibelah akan nampak warna cokelat tua melingkar di bagian dagingnya. Tanda ini merupakan ciri khas serangan bakteri Pseudomonas (Ralstonia) solanacearum. Suhu uptimum untuk perkembangan bakteri adalah 27-37°C, sedangkan suhu yang menghambat pertumbuhannya berkisar antara 8-10°C.

Upaya pengendalian serangan layu bakteri antara lain meningkatkan pH tanah, memusnahkan tanaman kentang terserang, melakukan penggiliran tanaman, pengaturan drainase agar tidak terjadi genangan air saat musim hujan, serta penyemprotan kimiawi menggunakan bakterisida dari golongan antibiotik berbahan aktif kasugamisin, streptomisin sulfat, asam oksolinik, validamisin, atau oksitetrasiklin. Dosis/konsentrasi sesuai petunjuk di kemasan. Sebagai pencegahan, dapat diaplikasikan agensia Trichoderma sp. maupun Gliocladium sp. saat persiapan lahan, lalu dilanjutkan pengocoran menggunakan pestisida organik di tanah ketika tanaman kentang memasuki umur 20hst dan 35 hst, contoh pestisida organiknya seperti super glio, wonderfat, dll. Dosis/konentrasi sesuai anjuran di kemasan.

Penyakit Layu Fusarium

Penyakit ini disebabkan oleh cendawan Fusarium oxisporium. Gejala tanaman kentang terserang penyakit ini sepintas mirip serangan layu bakteri. Perbedaannya hanya terletak pada bagian tanaman terserang, yaitu pada serangan penyakit layu bakteri, jika bagian terserang dimasukkan ke dalam air maka akan keluar cairan putih susu meyerupai asap. Sedangkan serangan layu fusarium tidak mengeluarkan cairan tersebut.

Upaya pengendalian serangan penyakit layu fusarium antara lain meningkatkan pH tanah, memusnahkan tanaman kentang terserang, melakukan penggiliran tanaman, pengaturan drainase agar tidak terjadi genangan air saat musim hujan, serta penyemprotan secara kimiawi menggunakan fungisida berbahan aktif benomil, metalaksil atau propamokarb hidroklorida. Dosis/konsentrasi sesuai petunjuk di kemasan. Sebagai pencegahan, dapat diaplikasikan agensia Trichoderma sp. maupun Gliocladium sp. saat persiapan lahan, lalu dilanjutkan pengocoran menggunakan pestisida organik di tanah ketika tanaman kentang memasuki umur 20hst dan 35 hst, contoh pestisida organiknya seperti super glio, wonderfat, dll. Dosis/konentrasi sesuai anjuran di kemasan.

Penyakit Bercak Daun Alternaria

Penyakit ini disebut juga cacar daun atau bercak kering. Penyakit bercak daun alternaria disebabkan oleh serangan cendawan Alternaria solani. Daun tanaman kentang terserang terdapat bercak-bercak cokelat sampai hitam (terdapat warna kuning di sekitar bercak tersebut). Serangan parah akan mengakibatkan daun mengering lalu berguguran. Selain menyerang daun tanaman kentang, cendawan Alternaria pori juga menyerang umbi kentang. Umbi terserang ditandai adanya bercak-bercak gelap berbentuk bulat tidak teratur pada kulit umbi.

Upaya pengendalian penyakit bercak daun alternalia antara lain sebagai berikut :
  1. Sanitasi lingkungan, yaitu memusnahkan tanaman terserang maupun pengendalian gulma secara rutin.
  2. Pengaturan drainase sehingga tidak terjadi genangan air saat musim hujan.
  3. Pengendalian secara organik lebih diutamakan, yaitu dengan menggunakan pestisida nabati. Selain itu bisa juga menggunakan agensia hayati yaitu Trichoderma sp. maupun Gliocladium sp.
  4. Pengendalian kimiawi menggunakan fungisida berbahan aktif benomil, difenokonazol, metil tiofanat, karbendazim, mankozeb, klorotalonil atau thiram. Dosis/konsentrasi sesuai petunjuk di kemasan.

Penyakit Kudis Lak

Penyakit kudis lak disebut juga dengan nama stem-cancer atau black scurf. Penyakit ini disebabkan oleh infeksi cendawan Rhizoctonia solani. Cendawan dapat terbawa oleh umbi, tanah, maupun pupuk kandang. Daun tanman terserang akan menggulung ke arah dalam, tepi berwarna ungu, batang lebih pendek, terdapat nekrotis di pangkal akar, jika menyerang umbi akan mengakibatkan stolon busuk (berwarna cokelat tua sampai hitam) serta akan muncul umbi-umbi kecil pada batang di atas tanah. Bagian permukaan umbi terdapat koloni cendawan berbentuk noda berwarna cokelat sampai hitam.

Upaya pengendalian penyakit kudis antara lain sebagai berikut :
  1. Sanitasi lingkungan, yaitu memusnahkan tanaman terserang serta pengendalian gulma secara rutin.
  2. Pengaturan drainase sehingga tidak terjadi genangan air saat musim hujan.
  3. Pengendalian secara organik lebih diutamakan, yaitu dengan menggunakan pestisida nabati. Selain itu bisa juga menggunakan agensia hayati yaitu Trichoderma sp. maupun Gliocladium sp.
  4. Pengendalian kimiawi menggunakan fungisida berbahan aktif simoksanil, famoksadon, dimetomorf, propamokarb hidroklorida, mankozeb, klorotalonil atau thiram. Dosis/konsentrasi sesuai petunjuk di kemasan.

Penyakit Kudis

Penyakit kudis disebut juga dengan nama common scab. Penyakit ini disebabkan oleh serangan bakteri Streptomyces scabies. Secara umum gejala serangan penyakit kudis tidak berbeda jauh dengan gejala serangan penyakit layu bakteri meupun layu fusarium. Bagian permukaan umbi kentang terserang terdapat bercak-bercak berwana kemerahan hingga kecokelatan. Pada bagian terserang akan mengering, berkerut, mengeras, serta bagian dalamnya bertepung.

Upaya pengendalian serangan penyakit kudis antara lain sebagai berikut :
  1. Sanitasi lingkungan, yaitu memusnahkan tanaman kentang terserang serta pengendalian gulma secara rutin.
  2. Pengaturan drainase sehingga tidak terjadi genangan air saat musim hujan.
  3. Pengendalian secara organik lebih diutamakan, yaitu dengan menggunakan pestisida nabati. Selain itu bisa juga menggunakan agensia hayati yaitu Trichoderma sp. maupun Gliocladium sp.
  4. Pengendalian kimiawi menggunakan bakterisida berbahan aktif oksitetrasiklin, strptomicyn sulfat, kasugamisin, atau tembaga. Dosis/konsentrasi sesuai petunjuk di kemasan.

Penyakit Virus

Penyakit virus yang sering menyerang tanaman kentang diantaranya PLRV, PVX, PVY, maupun CMV. Virus merupakan penyakit yang sangat berpotensi menimbulkan kegagalan budidaya kentang terutama musim kemarau. Gejala serangan umumnya ditandai pertumbuhan tanaman kentang mengerdil, daun mengeriting serta terdapat bercak kuning kebasah-basahan. Penyakit virus sampai saat ini belum ditemukan penangkalnya. Penyakit virus ditularkan dari satu tanaman ke tanaman lain melalui vektor(penular virus). Beberapa hama yang sangat berpotensi menjadi penular virus diantaranya hama thrips, kutu daun, kutu kebul, maupun hama tungau. Manusia dapat juga berperan sebagai vektor (penular virus), baik melalui alat-alat pertanian maupun tangan terutama saat melakukan perempelan.

Beberapa upaya penanganan virus antara lain : membersihkan gulma karena gulma berpotensi menjadi inang virus, mengendalikan hama/serangga penular virus, memusnahkan tanaman kentang terserang virus, menjaga kebersihan alat serta memberi pemahaman kepada tenaga kerja agar tidak ceroboh saat melakukan penanganan terhadap tanaman selama proses budidaya kentang.


LOGO TANIJOGONEGORO
TERIMA KASIH ATAS KUNJUNGANNYA
Tanijogonegoro On Google Plus