BUDIDAYA KUTU AIR (Daphnia sp.)

Budidaya kutu air yang akan dibahas pada artikel ini khususnya kutu air dari jenis Daphnia sp. Budidaya Daphnia sp. ini bertujuan untuk memenuhi kebutuhan pakan alami pada budidaya ikan lele pembibitan maupun pendederan. Dengan dibudidayakan kutu air, diharapkan posokan pakan alami tidak mengalami kekurangan, sehingga benih atau larva ikan lele yang dipelihara bisa tumbuh sesuai dengan target yang ditetapkan oleh pembudidaya. Berikut ini kami uraikan secara singkat mengenai kutu air (Daphnia sp.).

Kutu Air (Daphnia sp.)

Kutu air (Daphnia sp.) merupakan krustasea kecil bagian dari zooplankton yang habitatnya di air. Kutu air (Daphnia sp.) bukan merupakan jenis serangga dan tidak hidup sebagai parasit.

Kutu air (Daphnia sp.) berukuran panjang kurang dari setengah milimeter. Pakan utamanya kutu air ini adalah berbagai fitoplankton dan juga sisa-sisa makanan hewan lainnya (detritus).

Budidaya Kutu Air

Kutu air (Daphnia sp.) banyak terdapat di alam, terutama di daerah comberan dan daerah persawahan. Biasanya kutu air (Daphnia sp.) akan tumbuh subur pada perairan yang banyak mengandung bahan organik. Di samping bisa diperoleh langsung dengan melakukan penangkapan dari alam, kutu air atau Daphnia sp. juga bisa dibudidayakan. Selain cara mendapatkan kutu air (Daphnia sp.) yang cukup repot, untuk daerah-daerah yang tidak banyak comberan dan persawahan juga akan kesulitan mendapatkan kutu air (Daphnia sp.) dari alam. Oleh karena itu, untuk mencukupi kebutuhan pakan ikan, terutama pada fase pembenihan, maka kutu air (Daphnia sp.) ini haru dibudidayakan atau dikulturkan sendiri. Cara membudidaya kutu air (Daphnia sp.) cukup mudah.

Wadah atau tempat yang dapat digunakan untuk budidaya kutu Daphnia sp. bisa menggunakan bak tembok maupun fibre glass. Bak atau wadah yang sudah disiapkan harus dibersihkan terlebih dahulu, kemudian diisi dengan air bersih yang tidak mengandung kaporit. Untuk mendapatkan air bersih tersebut, bisa menggunakan air sumur. Pemupukan dilakukan dengan menggunakan pupuk kandang, akan lebih baik menggunakan kotoran ayam kampung, yang tidak tercemar bahan kimia, dengan dosis 4-5 g/liter air.

Pemupukan tersebut dilakukan dengan cara memasukkan kotoran atau pupuk kandang ke dalam karung atau bahan lain yang bisa digunakan sebagai wadah dan bisa menyerap air. Hal ini dimaksudkan agar kotoran atau material kasar tidak masuk ke dalam bak, sehingga bak tempat budidaya akan tetap bersih. Pemupukan yang sudah berhasil ditandai dengan warna air di dalam wadah yang berubah menjadi kecokelatan seperti teh, sesaat setelah pupuk dimasukkan ke dalam wadah. Pupuk tersebut dibiarkan selama 7 hari agar terjadi proses dekomposisi, dengan tujuan untuk mengurangai gas-gas beracun yang timbul akibat proses dekomposisi pupuk tersebut. Setelah itu, pada hari kedelapan inokulasi atau penebaran bibit-bibit kutu air (Daphnia sp.) sudah bisa dilakukan. Bibit kutu air (Daphnia sp.) bisa didapat dengan melakukan penangkapan dari alam, yaitu ditempat comberan atau di daerah persawahan. Bibit kutu air (Daphnia sp.) yang sudah diinokulasi akan tumbuh dengan cepat dan bisa dipanen menggunakan scopnet halus bermata jaring 1,5-2mm. Bibit-bibit kutu air (Daphnia sp.) tersebut sudah bisa diberikan pada benih atau larva ikan lele.

Untuk menjaga agar stok kutu air (Daphnia sp.) selalu tersedia, maka harus dilakukan pemupukan ulang sebanyak ½ dosis pemupukan pertama dengan interval pemberian pupuk selama 7-8 hari sekali. Jika bak atau tempat budidaya Daphnia sp. sudah penuh dengan pupuk, maka sebelum melakukan pemupukan ulan harus dikeluarkan terlebih dahulu pupuk yang sudah diberikan sebelumnya. Dengan demikian, pasokan kutu air (Daphnia sp.) akan tetap tersedia untuk mendukung budidaya perikanan.

No comments:

Post a Comment

Tanijogonegoro.com: Menyajikan Informasi Terbaik

LOGO TANIJOGONEGORO
TERIMA KASIH ATAS KUNJUNGANNYA
Tanijogonegoro On Google Plus