MEMILIH AYAM BANGKOK SEBAGAI AYAM ADUAN

Memilih Ayam Bangkok Sebagai Ayam Aduan - Keberadaan ayam bangkok sudah sangat memasyarakat di Indonesia. Ayam ini dikenal karena kehebatannya dalam bertarung. Ayam bangkok sangat digemari khususnya oleh kalangan penggemar ayam aduan. Kehebatannya dalam bertarung menjadikannya sering digunakan untuk taruhan dalam arena adu ayam.

Postur Tubuh Ayam Bangkok

Ayam bangkok memiliki postur tubuh besar dan kekar. Naluri bertarung cukup besar disertai daya tahan fisik sangat hebat, membuat ayam ini banyak diburu oleh para hobies ayam aduan. Namun, tidak semua jenis ayam bangkok, terutama yang tidak memenuhi kriteria maupun persyaratan tertentu, dapat dijadikan sebagai ayam aduan.

Kelemahan Ayam Bangkok untuk Ayam Aduan

Disamping kelebihan di atas, ayam bangkok juga memiliki beberapa kelemahan bila dijadikan sebagai ayam aduan, yaitu gerak-geriknya tampak lamban serta pola bertarungnya relatif monoton. Karena gerak-gerik yang relatif lamban membuatnya tampak tidak begitu lincah, sementara pola bertarung yang monoton membuat pertarungan sering berakhir seri. Dengan kelemahan tersebut, maka ayam bangkok pun harus dilatih agar memiliki kelincahan, disamping juga untuk mengasah naluri bertarung, mental, serta fisik agar lebih kuat.

Fase Pertarungan Ayam Bangkok

Ayam bangkok memiliki gaya tersendiri saat sedang bertarung. Sebagai ayam aduan, pada umumnya pertarungannya terjadi dalam beberapa fase dimana setiap fase memiliki pola dan gaya bertarung yang berbeda. Fase bertarung ayam bangkok merupakan batasan waktu untuk menghadapi serta melakukan serangan terhadap lawannya. Biasanya ayam ini akan bertarung dalam empat fase, dimana pada masing-masing fase tersebut ayam bangkok akan melakukan serangan berbeda dalam menghadapi maupun melumpuhkan lawannya.

Pada fase pertama, ayam bangkok bertarung dengan cara terbang, sehingga oleh orang Jawa fase ini disebut dengan abaran. Pada fase abaran ini, ayam bangkok akan memperlihatkan pertarungan yang sangat seru, dengan mengerahkan semua tenaga dan senjata yang dimiliki, baik cakar, paruh, taji, maupun penjawat atau bagian sayap yang berada pada posisi paling luar.

Selanjutnya pertarungan memasuki fase kedua, apabila dalam fase pertama salah satunya belum ada yang bisa dilumpuhkan. Pada fase kedua ini, ayam bangkok akan lebih menghemat stamina dan tenaga. Serangan yang dilakukan akan lebih terarah, dengan naluri untuk menghemat tenaga. Keduanya berada pada posisi saling merapat, sehingga masing-masing berusaha mencari titik lemah lawannya.

Fase ketiga atau fase final biasanya terjadi jika pada fase sebelumnya belum ada salah satu pun yang bisa dilumpuhkan. Pada fase ini, keduanya akan saling menumpangkan leher satu sama lain sehingga orang Jawa menyebutnya sebagai fase tumpang gulu. Kekuatan otot leher sangat diperlukan untuk membuat lawannya bisa dipukul dengan tepat, terutama pada bagian kepala. Di fase ini, ayam bangkok sudah mulai terlihat kelelahan, namun justru seni bertarung sebagai ayam aduan mulai bisa dinikmati.

Fase berikutnya ialah fase pembantaian atau penyelesaian. Pada fase ini ayam bangkok akan terus bertarung hingga salah satunya sudah dilumpuhkan. Ayam bangkok yang sudah kehabisan tenaga tidak memiliki perlawanan yang cukup. Sebaliknya, yang unggul akan memiliki peluang lebih besar untuk menyerang dan melumpuhkan lawannya. Serangannya pun dilakukan lebih terarah dan lebih mematikan, dengan gaya dan pola bertarung yang berbeda pada masing-masing ayam bangkok. Terkadang ada jenis ayam bangkok yang terlalu lama melumpuhkan lawannya karena tidak cukup terlatih sebagai ayam aduan, sehingga tidak dapat menyelesaikan pertarungan dengan baik dan berakhir seri karena keterbatasan waktu pertarungan yang telah disepakati.

Oleh karena itu, pemilihan bakalan atau calon ayam bangkok yang akan digunakan sebagai ayam aduan harus betul-betul dilakukan dengan cermat, sehingga bisa diharapkan menjadi juara di arena pertarungan. Pelatihan ayam bangkok pun harus superintensif, dengan pelatih yang sudah memahami karakteristik ayam bangkok sebagai ayam aduan. Jika hal ini tidak dilakukan, kemungkinan justru milik kita akan menjadi pecundang dalam sebuah arena pertarungan.

Tipe Ayam Bangkok Aduan




Sebuah pertarungan dalam arena aduan ayam ditentukan oleh pola dan gaya bertarung serta karakteristik ayam petarung. Setiap ayam bangkok memiliki pola dan gaya bertarung sendiri-sendiri yang menentukan berakhirnya pertarungan. Selain itu, juga memiliki karakteristik bertarung yang berbeda- berda. Hal yang membedakan karakteristik ayam, selain pola dan gaya, adalah senjata. Biasanya ayam bangkok aduan yang memiliki senjata taji atau jalu cukup panjang, dalam bertarung lebih cepat mengakhiri sebuah pertarungan. Berdasarkan senjata yang dimilikinya, ayam bangkok aduan dibedakan menjadi dua, yaitu ayam jalu dan ayam pukul. Keduanya berpeluang untuk menjadi juara, tetapi jarang terjadi keduanya bertemu di arena. Gambaran idealnya adalah sebagai berikut:

A. Ayam Jalu

Umumnya ayam jalu siap bertarung pada umur 18 bulan dan harus belum pernah kawin. Salah satu karakter ayam jalu yang baik adalah memiliki kokok yang berwibawa, keras, dan nyaring. Selain itu, ayam jalu harus memiliki naluri bertarung yang kuat dengan gaya slugher. Fisik ayam jalu yang akan digunakan sebagai ayam aduan idealnya harus memenuhi kriteria sebagai berikut:
1. Kepala
Bentuk kepala ideal adalah ramping atau kecil dan agak panjang dengan jengger lentur dan tipis. Biji mata kecil, bundar, dan agak tersimpan ke dalam. Paruh agak panjang dan kuat.
2. Badan
Ayam jalu harus bertubuh ramping dengan leher agak panjang. Bulu tubuhnya lebat, demikian juga dengan bulu ekor. Memiliki otot kuat dan terbentuk di seluruh bagian tubuh.
3. Kaki
Memiliki pergelangan kaki kecil, bulat, dan kering. Panjang taji kira-kira 2 cm. Posisi taji dekat dengan jari kelingking dan searah jari luar. Keadaan ruas kaki dan taji teratur. Mempunyai mata taji (ruas yang sejajar dengan taji terletak di tengah garis yang membagi kedua ruas kaki).

B. Ayam Pukul

Ayam pukul siap bertarung pada umur minimum 12 bulan dan juga harus belum pernah kawin. Sebaiknya juga berkokok besar, pendek, dan berwibawa. Naluri bertarungnya harus kuat dengan gaya fighter. Fisik idealnya harus memenuhi kriteria sebagai berikut:
1. Kepala
Bentuk kepala agak besar dan tebal dengan jengger kecil dan kaku. Bentuk paruh agak pendek dengan tulang alis yang menonjol.
2. Badan
Ukuran tubuhnya besar dan kekar didukung dengan tulang yang besar dan kuat. Jumlah bulu kedua sayap minimum 36 helai. Berotot kuat pada sebagian kaki, leher, bahu, ujung leher, dan sayap. Berbulu lebat dan kaku.
3. Kaki
Keadaan ruas kaki kurang teratur, tetapi keras dan kuat. Jari-jari lebih panjang dan kering. Bentuk taji teplek, centel, kumet (Jawa), pertumbuhannya kurang subur.

Cara Memilih Ayam Bangkok Sebagai Ayam Aduan

Untuk memilih ayam aduan tidaklah semudah yang dibayangkan. Memang beberapa parameter untuk menentukan ayam yang tangguh bisa dijadikan pedoman, namun ada kalanya kita kesulitan menemukan yang sesuai dengan beberapa kriteria atau parameter dimaksud. Oleh karena itu, sebaiknya kita mengetahui sejarah keturunan ayam bangkok yang akan dibeli. Usahakan untuk memilih dari garis keturunan induk yang tangguh juga.

Selain menentukan faktor fisik dan seni bertarung, garis keturunan dan warna bulu juga bisa dijadikan kriteria dalam memilih ayam bangkok yang akan dijadikan sebagai ayam aduan. Postur tubuh ideal dan fisik yang kuat tidak menjamin akan menjadi ayam tangguh saat bertarung. Berikut ini akan kami uraikan beberapa parameter yang dapat dijadikan pedoman dalam memilih ayam aduan yang tangguh.

Mengenali Kriteria Ayam Bangkok dari Warna Bulunya

Pada umumnya, ayam bangkok memiliki warna bulu merah tua atau merah gelap. Namun, setelah terjadi beberapa persilangan dengan berbagai jenis dari keturunan yang berbeda, warna bulu ayam aduan ini menjadi lebih bervariasi. Meskipun ada banyak variasi warna bulu, namun hanya beberapa saja yang konon memiliki keistimewaan dan banyak disukai oleh para penggemar ayam aduan. Beberapa variasi warna bulu tersebut diantaranya adalah:

Wiring Kuning

Warna bulu wiring kuning memiliki dominasi dan corak warna kuning tua, baik pada bagian kepala, tubuh, kaki, bulu hias, maupun rawis atau bulu pada leher. Begitu juga dengan paruhnya, cenderung berwarna kuning tua.

Wiring Galih

Ayam aduan ini memiliki corak warna agak gelam, dengan bola mata yang tampak hitam. Sementara rawis atau bulu leher terlihat merah tua atau merah gelap. Parus berwarna hitam wulu, sedangkan kaki dan taji berwana hitam lebih gelap.

Wisanggeni

Seperti nama tokoh dalam pewayangan, dalam bahasa Jawa, wisanggeni berarti racun api. Memang, warna bulunya secara sepintas terkesan merah menyala seperti api. Warna dasar pada bulunya agak kehitaman atau kehijauan, namun dengan warna kaki yang cenderung kuning, akhirnya warna merah pada bulunya semakin terlihat menyala. Matanya pun berwarna merah menyala.

Blorok madu

Warna dasar pada bulunya didominasi dengan warna putih, sementara bulu hias berwarna merah tua, hijau, kuning dan hitam yang menyebar di sekitar punggung. Warna kaki, paruh, dan kulit badannya putih. Begitu juga dengan matanya yang juga berwarna putih.

Dragem (hitam)

Dragem berarti hitam yang menunjukkan ayam bangkok jenis ini didominasi warna hitam mulus. Tetapi warna bulu leher atau rawis sedikit kemerah-merahan. Paruh berwarna hitam wuluh, sedangkan matanya hitam tajam. Kulit kaki berwara hijau lumut.

Kelima jenis ayam aduan dengan kriteria warna bulu seperti di atas sangat digemari oleh para penggemar ayam aduan. Mereka meyakini ayam yang memiliki warna bulu tersebut lebih tangguh berada di kalangan dibanding dengan ayam-ayam lain. Terlepas dari benar tidaknya pendapat tersebut, hal ini telah menimbulkan fanatisme tersendiri bagi para penggemarnya. Terlebih lagi karena keberadaannya yang bisa dibilang langka, sehingga ayam bangkok dengan kriteria warna bulu tersebut menjadi mahal harganya.

Meskipun kurang diminati oleh para penggemarnya, ada beberapa kriteria warna lain untuk ayam bangkok yang banyak ditemui, antara lain:

Brontok

Warna bulu ayam ini menyerupai ayam blorok madu, tetapi corak warnanya lebih besar, dan tersebar lebih merata ke seluruh tubuh. Sehingga secara sepintas terlihat brontok-brontok, atau totol-totol.

Klawu gadhing

Klawu dalam bahasa Jawa berarti abu-abu, yang menunjukkan bahwa ayam ini memiliki warna dasar abu-abu. Sementar paruh, rawis, dan kulit kaki berwarna kuning gading. Meskipun kurang disukai penggemar, namun klawu gadhing ini terlihat gagah.

Klawu Kethek

Kethek dalam bahasa Jawa berarti kera, entah kenapa nama tersebut ditujukan untuk ayam bangkok yang memiliki warna dasar kelabu, dengan rawis, paruh, kulit kaki, maupun taji berwarna hitam gelap.

Klawu Geni

Seperti dua jenis warna sebelumnya, klawu geni juga memiliki warna dasar abu-abu, dengan dihiasi rawis dan mata yang berwarna merah menyala.

Wido Kemlandhingan

Kombinasi warna bulu pada ayam ini adalah warna dasar hitam gelam, dengan rawis berwarna putih kehijauan. Sementara sayap berwarna hitam kehijauan dengan bulu hias berwarna kecokelatan. Sedangkan paruh, kaki, dan mata berwarna kuning.

Kumbang atau Gula Jawa

Kumbang atau gula jawa memiliki warna dasar hitam gelap, dengan rawis berwarna merah kekuningan. Secara keseluruhan, tidak terdapat unsur warna putih pada ayam ini.

Gaya Bertarung

Seperti halnya petinju, ayam bangkok juga memiliki gaya bertarung yang bervariasi saat berada di kalangan aduan. Para penggemar ayam aduan membedakan dua tipe gaya bertarung ayam bangkok, yaitu gaya fighter dan slugher. Secara fisik, gaya bertarung ayam bangkok bisa diketahui dari beberapa ciri, yaitu dengan melihat susunan tulang dan postur tubuhnya. Gaya bertarung akan terlihat setelah pertarungan memasuki babak kedua. Para penyabung ayam aduan biasanya membagi waktu pertarungan dalam beberapa fase. Memasuki fase kedua inilah pertarungan sesungguhnya bisa dibilang baru dimulai.

Seperti halnya petinju, ayam bangkok dengan gaya bertarung fighter terlihat sangat agresif saat menghadapi musuh di kalangan aduan, dengan frekuensi pukulan yang lebih banyak dan terlihat pantang mundur. Ayam aduan ini akan bertukar pukulan satu sama lain, dan saling menyerang dari depan. Kelebihan yang dimilikinya adalah cepat menghabisi lawannya karena serangan dilakukan secara bertubi-tubi.

Berbeda dengan ayam aduan slugher, yang tampak gesit dan lincah. Jenis ini akan bertarung dengan memperlihatkan seni dalam menghabisi lawannya. Serangan yang dilakukan juga tidak melulu dari depan, tetapi lebih bervariasi dari segala arah. Dengan gerakannya yang lincah, menjadikannya sangat sulit dipukul lawan, sementara frekuensi pukulan yang lebih sedikit dibanding ayam fighter justru menjadi kelebihan ayam slugher, karena pukulan yang dilancarkan lebih terarah dan efisien. Kelincahan ayam aduan ini menjadikannya enak ditonton saat berada di kalangan.

Kedua tipe gaya bertarung ayam tersebut memiliki kelebihan dan kelemahan masing-masing. Untuk mengoptimalkan kelebihan tersebut, perlu dilakukan peningkatan mutu bertarung agar lebih handal lagi. Oleh karena itu, dalam melatih ayam bangkok kesayangannya, seseorang harus memahami terlebih dahulu terhadap sifat dan bagian-bagian tubuh ayam, kemudian dilanjutkan dengan perawatan yang baik dan benar. Selain mendapatkan pelatihan fisik, ayam aduan juga perlu mendapatkan pelatihan mental. Usahakan untuk mencetak ayam aduan semenjak masih bakalan, sehingga hasilnya lebih memuaskan.

Memahami Sifat Dan Bagian-bagian Tubuh Ayam Aduan

Ayam aduan pun memiliki sifat-sifat sendiri. Seperti halnya mahluk lain, ayam aduan juga memiliki naluri atau insting yang kuat untuk bertarung. Dengan melatih naluri atau insting inilah ayam bangkok bisa dikendalikan gerak-geriknya. Jika lapar, secara naluriah binatanga akan mencari makanan, jika disakiti akan meronta, begitu juga jika diserang, maka cara naluriah ia akan membela diri. Untuk itulah, perlu melatih insting ayam aduan agar lebih cepat dan beringas dalam membela diri ketika diserang. Semua aktivitas tersebut terjadi dengan sendirinya, secara spontan, tanpa sebuah perencanaan. Oleh karena itulah, perlu latihan agar gerakannya yang bersifat spontan lebih terarah dan mematikan lawannya.

Membentuk insting harus dilakukan perlahan dan butuh sebuah kesabaran. Selain rutinitas, juga memerlukan waktu yang cukup lama. Ayam aduan yang secara naluriah selalu dilatih sejak kecil akan memiliki gerakan tubuh dan spontanitas lebih lincah. Untuk mendukung latihan-latihan tersebut, kebutuhan fisik, dalam hal ini lebih pada nutrisinya, harus dipenuhi dengan baik, sehingga lebih jinak saat dipegang, dan memudahkan perawatan.

Perawatan harus dilakukan pada setiap bagian tubuh, karena setiap bagian tubuh ini memiliki peran dan fungsi masing-masing, yang juga akan memberikan andil besar saat berada di arena adu ayam. Berikut ini kami uraikan bagian-bagian paling vital pada tubuh ayam bangkok yang harus dilakukan perawatan :

Paruh

Selain berfungsi sebagai mulut untuk memasukkan makanan, paruh juga berfungsi sebagai senjata yang baik saat menghadapi musuh. Paruh akan menjadi senjata pembuka sebelum dilanjutkan dengan serangan-serangan lain. Oleh karena itu, jika ayam aduan memiliki paruh kuat, maka akan memiliki senjata pembuka yang kuat pula, sehingga serangan-serangan yang dilancarkan akan lebih mematikan. Cara merawat paruh tidaklah sulit, cukup hindarkan ayam bangkok dari air panas, dan berikan kalsium laktat secara teratur, sebagai unsur pembentuk tulang termasuk juga paruh.

Ekor

Ekor memiliki fungsi vital untuk menjaga keseimbangan tubuh, baik saat menyerang maupun diserang. Saat menerima dorongan dari lawannya atau terjatuh setelah menyerang, ia akan mengandalkan ekor untuk menyangga tubuhnya. Ekor yang panjang dan terawat, selain memperkuat keseimbangan, juga akan memperindah penampilan dan performanya. Agar ekor tetap terawat dengan baik, sebaiknya ayam bangkok tidak ditempatkan pada kandang yang terlalu sempit.

Taji

Bagi ayam, taji merupakan senjata utama paling mematikan. Tidak semua ayam dapat menggunakan taji sebagai senjata efektif. Hal ini dipengaruhi oleh beberapa faktor, agar taji dapat berfungsi optimal sebagai senjata. Salah satu faktor yang sangat menentukan efektifitas penggunaan taji adalah posisi. Sebaiknya taji ayam aduan tidak menghadap ke belakang, sehingga saat melakukan pukulan akan lebih mudah mengenai sasaran. Usahakan untuk tidak meraut taji, terutama saat dalam masa istirahat. Hindari pula membungkus taji saat sedang bertarung, hal ini akan melemahkan nalurinya untuk menggunakannya sebagai senjata. Jika naluri sudah berkurang, maka latihan yang dilakukan pun akan sia-sia.

Kaki

Hindarkan kaki dari gesekan-gesekan dengan benda keras atau kasar, hal ini akan membuat kaki mengeras, kemudian terjadi infeksi didalamnya. Jika kondisi ini terjadi, ayam bangkok kesayangan Anda akan menderita penyakit bubul, dan biasanya akan berjalan pincang. Selain bubul, ayam bangkok juga sering terserang penyakit tedun, yang disebabkan membekunya darah di sekitar kaki. Gejala ini bisa dilihat dengan timbulnya bercak merah di sekitar kaki, kemudian kaki akan membengkak. Pembekuan darah tersebut bisa diakibatkan benturan keras pada telapak kaki, terutama saat melompat dari ketinggian, atau waktu istirahat yang terlalu lama setelah ayam aduan bertarung. Oleh karena itu, saat masa istirahat, sebaiknya ayam bangkok ditempatkan pada kandang yang agak luas agar bisa lebih bebas bergerak.

Otot

Bagian lain yang perlu mendapat perawatan dan latihan adalah otot. Otot yang kuat akan memberikan serangan mematikan, juga membantu pertahanan lebih kuat saat menerima serangan. Saat bertarung, ayam bangkok akan mengandalkan sebagian otot-otot tertentu, sehingga otot-otot ini harus dilatih agar lebih kuat. Beberapa otot penting yang perlu mendapatkan latihan dan perawatan baik adalah otot di sekitar bahu, leher, lutut, pangkal paha, dan otot perut bagian belakang.

Sayap

Bagian lain yang sangat vital saat ayam bangkok bertarung adalah sayap. Usahakan Ayam Anda tidak mengalami kerusakan pada sayapnya. Selain berfungsi untuk terbang, sayap juga bisa dijadikan sebagai senjata pemukul. Latihan sayap bisa dilakukan dengan menerbangkannya, tetapi harus diperhatikan, jangan terlalu tinggi karena bisa menyebabkan pembekuan darah pada kaki saat mendarat. Selain itu, dapat juga dengan memasukkannya ke dalam kolam yang tidak begitu luas, sehingga Anda mudah mengambilnya lagi.

Memilih Bibit

Selain beberapa kriteria di atas, untuk memilih bibit ayam bangkok yang akan dijadikan sebagai ayam aduan harus diperoleh dari keturunan induk yang memiliki naluri dan kemampuan bertarung cukup bagus. Bibit yang diperoleh dari induk juara kemungkinan akan memiliki kualitas genetis yang tidak jauh dari induknya. Bakalan ayam aduan yang bagus bisa dilihat setelah berumur paling tidak lima bulan. Ayam bangkok yang telah berumur lima bulan atau lebih sudah bisa dilihat ciri-ciri fisiknya, misalnya kriteria warna bulu, bentuk kepala, taji, postur tubuhnya, bahkan naluri dan gaya bertarungnya juga sudah kelihatan.

Beberapa kriteria yang harus dipenuhi untuk memilih bakalan ayam aduan yang bagus :
  1. Pastikan bibit berasal dari keturunan induk yang memiliki kemampuan dan naluri bertarung yang baik.
  2. Fisik sehat, tidak menunjukkan cacat, dan belum pernah sakit. Ayam bangkok yang akan dijadikan sebagai ayam aduan juga harus memiliki pertumbuhan yang baik. Jika pernah mengalami sakit, kemungkinan akan mengalami hambatan dalam pertumbuhannya.
  3. Bagian-bagian tubuhnya ideal, sesuai dengan kriteria yang disebutkan di atas.
  4. Bakalan harus mewarisi pola dan gaya bertarung pemacek atau induk jantannya. Jika induk jantan yang digunakan adalah ayam juara dan tidak pernah terkalahkan, kemungkinan bibit tersebut juga akan memiliki naluri yang tidak jauh berbeda.
Selain kriteria tersebut di atas, ada beberapa ciri-ciri khusus yang harus diperhatikan saat memilih bakalan ayam aduan yang berkualitas, antara lain :

Kepala

Kepala berbentuk menyerupai burung jalak atau dalam bahasa Jawa disebut njalak, berbentuk agak tebal dan panjang, serta kulit tipis dan halus. Kepala yang memenuhi kriteria tersebut biasanya memiliki daya tahan yang baik terhadap pululan lawannya, mudah sembuh dari luka setelah bertarung, dan memiliki penampilan yang berwibawa.

Paruh

Paruh bagian atas terdapat garis tengah dengan bentuk menyerupai paruh burung rajawali. Warna paruh sesuai dengan warna ruas kaki. Kriteria tersebut menunjukkan ayam aduan memiliki paruh yang kuat dan ganas untuk mematuk lawannya.

Mata

Mata agak masuk ke dalam dengan tulang alis yang menonjol, berbentuk bulat dan tampak jernih. Mata yang demikian menunjukkan bahwa ayam aduan memiliki tingkat kewaspadaan tinggi, sehingga sulit untuk diserang lawannya.

Kaki

Kaki tersusun dengan perpaduan yang seimbang antara paha atau kaki bagian atas dengan kaki bagian bawah. Lutut agak menjorok ke belakang, dengan jari-jari normal, terbuka lebar, agak kering, dan panjang. Ruas jari tersusun rapi dengan posisi taji searah jari bagian luar. Ayam dengan kriteria kaki tersebut memiliki kuda-kuda yang kuat dan pukulan yang terarah. Selain itu, serangan taji biasanya cukup efektif mengenai sasaran.

Tulang

Secara umum, tulang terbagi menjadi tiga bagian penting, yaitu tulang leher, tulang penyusun tubuh, dan tulang kaki. Tulang leher sebaiknya agak panjang dan besar dengan ruas-ruas yang tersusun rapat. Tulang tubuh bagian bawah atau tulang dada harus besar dan tebal, panjang hingga ke bagian tulang belakang (supit). Antara tubuh dan tulang ekor harus rapat, kuat, dan terasa kaku saat diraba. Bagian ini biasanya menjadi prioritas utama saat memilih ayam aduan, karena menunjukkan memiliki kekuatan pukulan yang dahsyat. Untuk tulang kaki justru dipilih yang tidak terlalu besar dengan bentuk membulat dan keras.

Kokok

Biasanya kokok tidak begitu diperhatikan oleh para penggemar ayam aduan. Namun demikian, beberapa orang menyukai ayam bangkok yang berkokok pendek dan keras dengan nada tinggi. Menurut keyakinan beberapa penggemar, ayam demikian mampu mempengaruhi mental bertarung lawannya. Untuk membentuk kokok yang keras, bisa diberikan jamu, seperti jape, kayu cina (widoro) dan rimpang kunci secara teratur.


TERIMA KASIH ATAS KUNJUNGANNYA
Tanijogonegoro On Google Plus