CARA MEMBUAT KOLAM IKAN

Selain nutrisi pakan dan bibit ikan, keberhasilan budidaya ikan juga sangat dipengaruhi oleh konstruksi kolam ikan tempat ikan dibudidayakan. Pembuatan kolam ikan menurut kaidah yang benar mampu menciptakan iklim kondusif bagi kelangsungan hidup ikan budidaya. Bahkan di negara dengan sektor perikanan maju seperti di Thailand, konstuksi kolam yang benar menjadi faktor penting keberhasilan budidaya ikan.

TEKNIK PEMBUATAN KOLAM IKAN

Cara membuat kolam ikan dapat dilakukan dengan tiga cara, yaitu pembuatan kolam ikan permanen, semipermanen, serta nonpermanen.
Pembuatan kolam ikan secara permanen merupakan salah satu cara membuat kolam ikan bermodal besar, proses pembuatannya dilakukan dengan menggali tanah seluas yang diperlukan, kemudian dasar dan tepi kolam dibuat dinding permanen (terbuat dari tembok). Pada proses ini membutuhkan bahan-bahan bangunan seperti kapur atau gamping, pasir, batu, serta semen atau PC (portland cement). Cara membuat kolam ikan seperti ini tentunya membutuhkan biaya lebih besar daripada pembuatan nonpermanen, akan tetapi dilihat dari segi manfaat jangka panjang, pembuatan kolam ikan permanen justru lebih efisien karena biaya perawatannya menjadi lebih sedikit untuk budidaya ikan berkelanjutan.
Langkah awal cara membuat kolam ikan semipermanen hampir sama pada cara permanen, hanya saja dinding kolam ditutup menggunakan mulsa PHP (mulsa plastik hitam perak) atau bisa juga menggunakan terpal.
Sedangkan pembuatan kolam ikan nonpermanen merupakan cara membuat kolam ikan beralaskan tanah, pada proses pembuatannya cukup menggali tanah seluas yang diperlukan secara benar.

BAHAN PEMBUATAN KOLAM IKAN

  1. Anyaman terbuat dari kawat atau anyaman bambu untuk saringan air, baik di pintu masuk maupun pintu pembuangan.
  2. Kolam permanen membutuhkan batu, semen (PC), pasir, kapur. Penggunaan kapur sebenarnya mengurangi kekuatan dinding kolam ikan, akan tetapi juga diperlukan untuk mempercepat pertumbuhan lumut sehingga membantu menambah nutrisi kebutuhan ikan.
  3. Papan kayu untuk pintu air model monik.
  4. Peralon atau pipa PVC untuk membuat pintu masuk maupun pintu keluarnya air. Dapat juga menggunakan bambu dilubangi bagian dalamnya tepat di pertemuan dua ruas sehingga air dapat mengalir.
  5. Bilah bambu untuk tiang pancang (patok) benang pemandu, pembatas bentuk, dan ukuran setiap bagian kolam.
  6. Benang sebagai pemandu ukuran dan bentuk bagian-bagian kolam.
  7. Pensil maupun alat tulis lain untuk membuat gambar sket, mencatat ukuran-ukuran serta ketentuan lain yang diperlukan.

ALAT PEMBUATAN KOLAM IKAN

Secara umum peralatan membuat kolam ikan permanen adalah peralatan tukang bangunan seperti cangkul, cetok, penggosok dinding (lepan), dll. Pada pembuatan kolam ikan semipermanen, membutuhkan paku pasak terbuat dari bambu untuk memasak mulsa PHP pada dinding tanah.
  1. Cangkul. Cangkul digunakan untuk menggali tanah, melumatkan serta mencampur tanah atau material (pembuatan kolam ikan permanen).
  2. Linggis. Linggis diperlukan untuk menggali tanah keras (wadas).
  3. Lempak. Lempak diperlukan untuk merapikan dinding kolam.
  4. Selang plastik, digunakan untuk mengukur kemiringan maupun bagian-bagian lain.
  5. Martel (palu). Martel digunakan untuk menancapkan patok, memasang pasak bambu pada pembuatan kolam semipermanen.
  6. Saringan pasir dari kawat. Saringan kawat digunakan untuk menyaring pasir.
  7. Cetok. Cetok digunakan untuk menembok dan memoles adonan material pada pembuatan kolam permanen.
  8. Penggosok (lepan). Penggosok (lepan) digunakan untuk memoles lapisan semen dan kapur.
  9. Meteran atau teodolith. Meteran atau teodolith digunakan untuk mengukur baik panjang, lebar maupun tinggi kolam.

CARA MEMBUAT KOLAM IKAN

Sebelum membuat kolam ikan, langkah pertama tentukan lokasi pembuatan kolam ikan, kemudian ukur luas lahan, kemiringan lahan, serta batas-batas pembuatan kolam ikan. Buatlah skesta gambar dan skema atau gambar konstruksi kolam ikan yang akan dibuat. Kemudian lakukan penggalian tanah dan pembuatan tanggul (pematang). Setelah selesai melakukan penggalian, langkah selanjutnya adalah pembuatan caren serta melakukan pemasangan perlengkapan seperti saringan air, pemasangan pintu air baik pintu masuk maupun pintu keluar.

1. Menentukan Lokasi Kolam Ikan

Sebelum melakukan pembuatan kolam ikan, perlu diperhatikan lokasi yang akan dibuat kolam. Hal ini penting untuk mengetahui jenis tanah, menentukan pusat pengambilan air pintu masuk, serta pembuangan air. Tanah yang baik untuk pembuatan kolam ikan adalah tanah berstruktur liat berpasir. Cara mengetahui jenis tanah pasir, liat, atau gembur secara sederhana dapat dilakukan dengan mengambil lapisan tanah atas (top soil) dan lapisan bawah, kemudian masing-masing ditambahkan air sampai kondisi tanah menjadi jenuh (lembek). Setelah tanah lembek, kemudian ambil dan kepal, tekan kuat-kuat. Jika di telapak tangan meninggalkan sedikit pasir berarti tanah tersebut merupakan tanah jenis liat atau gembur. Sedangkan jika di telapak tangan meninggalkan banyak pasir berarti tanah tersebut merupakan jenis tanah pasir.

2. Pengukuran Lokasi Kolam Ikan

Pengukuran luas lahan untuk budidaya ikan dapat dilakukan menggunakan meteran biasa atau menggunakan teodolith. Kemiringan tanah diukur menggunakan selang plastik (water pass) dengan cara menarik salah satu ujung selang ke bagian tepi batas kemudian direntangkan sampai ke sisi lain yang akan diukur kemiringan tanahnya. Cara pengukuran ini dilakukan oleh dua orang untuk mempermudah pekerjaan. Permukaan air di kedua ujung selang menjadi batas tingkat kerataan tanah. Ukur permukaan air dari permukaan tanah pada kedua ujung selang. Selisih jarak permukaan tanah dengan permukaan air pada satu sisi dengan jarak permukaan tanah dengan permukaan air pada sisi lain merupakan tingkat kemiringan lahan. Lakukan sampai berapa kali di tempat lain untuk diambil rata-ratanya, kemudian dijumlahkan lalu dibagi jumlah titik pengukuran.

3. Pengamatan Lokasi Kolam Ikan

Pengamatan lokasi pembuatan kolam ikan diperlukan untuk mempermudah pembuatan sketsa konstruksi kolam ikan serta mempermudah pekerjaan pembuatan. Hal-hal yang perlu dilakukan disini adalah pengamatan terhadap jenis tanaman sekitar, bebatuan, serta saluran irigasi. Tanaman di sekitar lokasi lahan perlu diamati untuk menentukan apakah mau dipertahankan atau ditebang dengan melihat aspek nilai manfaatnya terhadap kolam ikan di kemudian hari. Saluran irigasi sangat penting pada pembuatan kolam ikan, karena menentukan pembuatan pintu masuk air sekaligus pintu keluarnya.

4. Pembuatan Sketsa Lokasi Kolam Ikan

Setelah melakukan beberapa langkah seperti di atas, langkah selanjutnya adalah membuat sketsa gambar sebelum melakukan pembuatan gambar skema konstruksi kolam ikan. Hal ini dilakukan untuk memudahkan pekerjaan pembuatan konstruksi. Hal-hal yang dijumpai di lapangan ketika melakukan pengamatan dituangkan dalam gambar sketsa.

5. Pembuatan Gambar Skema Konstruksi Kolam Ikan

Langkah selanjutnya adalah pembuatan gambar skema konstruksi kolam ikan disesuaikan ukuran dan luas lahan tersedia. Pembuatan gambar skema konstruksi harus lengkap dan detail, setiap bagian dalam gambar juga dibuatkan gambar tersendiri untuk memperjelas saat proses pembuatan kolam ikan. Contoh gambar skema konstruksi pembuatan kolam ikan dapat dilihat di bawah ini:

kolam ikan

Pembuatan gambar konstruksi pintu air kolam ikan, meliputi:
  1. Pembuatan gambar pintu masuk air.
  2. Pembuatan gambar pintu pembuangan air.

    kolam ikan
  3. Pintu pembuangan air model monik.

    kolam ikan
  4. Pintu pembuangan air dari bambu atau pipa PVC siku atau model “L”.

    kolam ikan

6. Penggalian Tanah dan Pembuatan Pematang atau Tanggul Kolam Ikan

Langkah cara membuat kolam ikan selanjutnya adalah melakukan penggalian terhadap tanah menggunakan peralatan seperti cangkul, linggis maupun lempak untuk memudahkan serta mempercepat pekerjaan. Penggalian tanah dengan memperhatikan skema gambar konstruksi yang sudah dibuat sebelumnya. Tanggul atau pematang harus kuat agar tanah tidak mudah longsor karena tanggul atau pematang kolam ini tidak hanya menampung air tetapi juga menahan tekanan air terutama saat terjadi hujan deras.

Pada pembuatan kolam tradisional (nonpermanen), pembuatan pematang atau tanggul kolam dengan cara memadatkan tanah galian. Agar tanggul lebih kuat, pembuatan tanggul jangan sekali jadi, harus dilakukan secara bertahap. Dalam pembuatan tanggul kolam ini, faktor tanah mempengaruhi tingkat kepadatan. Kekuatan tanggul atau pematang selain dipengaruhi oleh jenis tanah juga oleh lebar sempitnya ukuran tanggul. Semakin lebar ukuran tanggul akan semakin kuat meskipun dari sudut efisiensi penggunaan lahan kurang efisien.

Tanggul pembuatan kolam ikan semipermanen sama seperti pada cara membuat kolam ikan nonpermanen hanya saja permukaan dan bagian dinding kolam ditutup menggunakan mulsa PHP (mulsa palstik hitam perak). Penutupan mulsa PHP dilakukan sampai di dasar dinding kolam kemudian permukaan dasarnya ditutup lagi menggunakan tanah. Hal ini bertujuan menghindari terjadinya kebocoran akibat lubang tikus, kepiting maupun hama pengganggu lainnya. Sedangkan pada tanggul kolam secara permanen selain lebih kuat juga aman dari kebocoran atau rembesan akibat hama sawah karena kolam permanen terbuat dari dinding semen. Pembuatan tanggul atau pematang secara permanen sebetulnya lebih kuat, tetapi memerlukan biaya lebih banyak.

Beberapa contoh pembuatan tanggul kolam ikan :
a. Pembuatan Tanggul Kolam Ikan Pada Lahan Datar
Pada contoh ini, tanggul dibuat dengan cara membuat timbunan tanah yang diambil dari masing-masing sisi dasar kolam. Tanah dasar kolam dicangkul secara merata, dan cangkulan tanah tersebut digunakan sebagai timbunan tanggul pada masing-masing sisi dengan pembagian secara merata.

b. Pembuatan Tanggul Kolam Ikan Pada Lahan Agak Miring
Pada contoh ini, tanggul dibangun menggunakan lapisan tanah permukaan dengan cara penimbunan dari setiap sisi lahan. Sisi lahan yang lebih rendah memperoleh timbunan tanah lebih banyak dibanding sisi lahan lebih tinggi. Misalnya, dua bagian dari tanah yang akan dijadikan kolam diangkat lalu diletakkan pada sisi lahan lebih rendah, sedangkan satu bagiannya diangkat lalu diletakkan pada sisi lahan lebih tinggi.

c. Pembuatan Tanggul Kolam Ikan Pada Lahan Miring
Pada contoh ini, tanggul dibuat dengan cara mencangkul salah satu sisi bagian dasar kolam ikan yang permukaannya lebih rendah. Kemudian tanah galian tersebut digunakan sebagai timbunan tanah yang berfungsi sebagai tanggul pada sisi kolam tersebut. Sedangkan sisi kolam yang memiliki permukaan lebih tinggi dengan sendirinya akan membentuk dinding, setelah dasar kolam digali.

Membuat Sumbatan
Sumbatan berfungsi memperkuat tanggul agar tidak mudah terjadi kebocoran. Sumbatan dibuat dari tanah liat berpasir yang dilumatkan. Waktu pembuatan sumbatan ini bersamaan dengan pembuatan tanggul kolam ikan. Beberapa peternak ikan kadang-kadang membuat sumbatan ini setelah tanggul selesai dibangun. Cara membuat sumbatan tanggul adalah dengan terlebih daahulu menggali lokasi atau tempat tanggul akan dibangun. Kedalaman galian tanah tersebut kurang lebih 0,25 m, lebar disesuaikan lebar tanggul yang akan dibangun di atasnya. Pada lubang galian tersebut, masukkan lumatan tanah liat berpasir (jawa=jledrogan) setinggi 50 cm. Setelah timbunan jledrogan tersebut agak keras, kemudian di atasnya pada bagian tengah, dengan ketebalan kurang lebih sepertiga bagian dari rencana lebar tanggul, ditambahkan lagi lumatan atau jledrogan tersebut setinggi kira-kira sebatas permukaan air kolam yang telah direncanakan.

Teknis pembuatan taggul ini dibuat secara bertahap. Yaitu dengan terlebih dahulu membuat sumbatan bagian bawah setinggi 50 cm hingga selesai. Setelah sumbatan agak mengering dan keras maka tambahan sumbatan tersebut (berupa lumatan tanah berpasir seperti pada lumatan di bawahnya), bisa ditambahkan. Jika rencana lebar tanggul adalah 90 cm, maka ketebalan sumbatan bagian bawah juga 90 cm, dengan ketebalan sumbatan bagian atas 30 cm. Jika rencana ketinggian air dari dasar kolam 60 cm, maka ketinggian sumbatan bagian atas adalah 35 cm.

Setelah pembuatan sumbatan mengering, maka langkah selanjutnya adalah melakukan penimbunan pada kedua sisi sumbatan bagian atas hingga membentuk tanggul setengah jadi. Demikian pembuatan sumbatan tanggul kolam telah selesai, seperti tampak pada gambar di bawah.

kolam ikan

kolam ikan

Setelah pembuatan tanggul selesai, untuk memperkuat tanggul agar tidak mudah terkikis oleh air, maka pada bagian sisi dalam tanggul bisa dipasang penguat terbuat dari pasangan batu kali atau batu bata yang pasang menggunakan campuran atau adukan semen dan pasir.

Jika merencanakan untuk membuat tanggul yang diperkuat dengan pasangan batu kali atau batu bata, maka pembuatan sumbatan pada tanggul tidak perlu dibuat. Pemasangan penguat tanggul dari pasangan batu kali atau batu bata ini sudah cukup kokoh, sehingga tanggul yang dibuat tidak perlu mengikuti aturan pembuatan tanggul seperti di atas. Bahkan begitu tanggul dipasang, tanpa menunggu tanah mengeras terlebih dahulu sudah bisa langsung dipasang penguat pada sisi bagian dalamnya.

Dengan pemasangan penguat dinding kolam menggunakan tembok ini, maka tanggul tidak perlu dibuat miring. Lebar penguat tanggul atau dinding kolam juga harus disesuaikan dengan komposisi campuran semen (PC) dan pasir. Semakin banyak komposisi PC dalam campuran, maka dinding semakin kuat, tetapi biaya untuk pembuatan penguat ini juga cukup besar. Sebagai komposisi standar

Tanggul tidak harus lebar di bagian bawah. Tebal maupun lebar tanggul penguat tergantung pada komposisi campuran semen (PC) dan komponen lain. Semakin banyak semen PC akan semakin kuat, hanya saja biayanya cukup besar. Patokan komposisi campuran material yang dapat digunakan sebagai referensi membuat dinding kolam adalah 1 semen dan 5 pasir, dengan ketebalan dinding kolam ideal 50 cm.

Dasar dinding penguat tanggul sedalam 30 cm di bawah permukaan dasar kolam. Dinding penguat yang dibuat dari pecahan bata penataannya harus dibuat sedemikian rupa sehingga permukaan yang menghadap ke kolam terlihat rata dan rapi.

Saat melakukan pemasangan pecahan batu atau batu bata, maka cara pemasangannya harus disusun sedikit sigsag saling berseberangan agar saling memperkuat posisi masing-masing pecahan batu maupun batu bata tersebut.

Bagi kolam yang potensi airnya terbatas atau minim, maka pembuatan dinding sebaiknya diperkuat oleh dinding tembok, menggunakan semen sebagai komposisi campuran dalam pembuatan dinding tembok. Selain itu, permukaan yang menghadap ke kolam juga perlu diplester agar bisa mengurangi rembesan air.

7. Pembuatan dan Pemasangan Perlengkapan Kolam Ikan

Pemasangan dan pembuatan pintu keluar maupun pintu masuk air dilakukan bersamaan saat pembuatan tanggul. Sebelum tanggul selesai dibuat, pintu masuk air dan saluran pembuangan, yang merupakan kesatuan dari dinding kolam, harus mulai dikerjakan agar proses pembuatannya lebih efisien.

Untuk mengoptimalkan fungsinya selama kegiatan pemeliharaan, kolam ikan perlu diberi pintu-pintu air. Disamping untuk memudahkan pemeliharaannya, pintu air berfungsi mengatur sirkulasi air di dalam kolam. Dilihat dari fungsinya, pintu air pada kolam ikan terdiri dari 2 macam, yitu pintu masuk dan pintu pembuangan atau saluran pembuangan. Standar teknis pembuatan kolam ikan ideal paling tidak memiliki satu pintu masuk air dan satu saluran pembuangan. Pintu masuk air berfungsi mengatur besar kecilnya debit air yang masuk ke dalam kolam. Sementara itu, pintu atau saluran pembuangan berfungsi mengatur ketinggian permukaan air kolam serta sebagai saluran menguras air saat dilakukan pengeringan maupun pemanenan.

Kolam ikan yang memiliki tanggul atau dinding kolam dari tanah serta tidak diperkuat menngunakan penguat dari pasangan batu atau batu bata, sebaiknya menggunakan pintu air terbuat dari PVC atau bambu, agar saat ingin melakukan perbaikan, saluran air tersebut tidak terlalu mahal untuk diganti. Selain itu, cara pemasangan pintu air dari PVC maupun bambu ini boleh dibilang mudah, yaitu cukup membenamkan bagian tengah PVC atau bambu ke dalam dinding atau tanggul. Kedua ujungnya dibiarkan terbuka, posisi mendatar serta sejajar permukaan saluran sumber air. Salah satu ujung PVC atau bambu tersebut dibuat mencuat di atas permukaan kolam.

Untuk pemasangan pintu pengeluaran atau saluran pembuangan pada kolam ikan tidak berbeda jauh dengan pemasangan pintu pemasukan air. Saluran pembuangan dibuat sebanyak dua buah. Saluran pembuangan pertama berfungsi sebagai saluran pengurasan air yang dipasang di bawah permukaan dasar kolam atau sejajar permukaan caren. Saluran pembuangan kedua berfungsi sebagai pintu keluar air dan pengatur ketinggian permukaan kolam. Pemasangan saluran pembuangan kedua ini ditentukan berdasarkan rencana ketinggian permukaan air kolam. Cara pembuatan kedua saluran pembuangan ini sama dengan pemasangan pada pintu masuk air, yaitu membenamkan pipa PVC atau bambu ke dalam tanggul.

Pintu pembuangan air dari pipa PVC dapat dibuat dua model. Model pertama dibuat seperti pintu air dari bambu, dan model kedua dipasang dengan posisi mendatar pada kolam. Ujung pipa yang satu mencuat di bagian dalam pematang tepat di dasar kolam dan ujung lainnya mencuat di luar tanggul. Ujung pipa PVC yang mencuat di luar tanggul disambung menggunakan pipa siku serta disambung lagi dengan potongan pipa PVC setinggi tanggul kolam. Bila dilihat secara utuh, model pintu pengeluaran ini tampak seperti huruf L. Keuntungan pintu air model ini adalah dapat diputar ke kiri atau ke kanan sehingga ujung luar pipa posisinya dapat diatur tegak atau miring. Dengan mengatur kemiringan pipa pengeluaran air ini, kedalaman air kolam dapat diatur sesuai kehendak.

Jumlah dan ukuran pintu keluar air disesuaikan dengan kapasitas air masuk. Minimal jumlah maupun ukuran pintu sama dengan jumlah pintu masuk air. Biasanya kolam yang cukup luas mempunyai dua buah atau lebih pintu masuk maupun pintu keluar air. Letak pintu air ini disesuaikan pula dengan bentuk kolam maupun letak sumber air ataupun saluran pembuangan. Letak pintu masuk dan pembuangan air ideal adalah bersilangan. Bila pintu masuk terletak di bagian depan sisi kanan, maka pintu pembuangannya berada di bagian belakang sisi kiri.

Pada kolam ikan dengan tanggul atau dinding permanen, pintu pemasukan dibuat dengan cara membuat cekungan atau dalam Bahasa Jawa coakan pada dinding kolam yang berada tepat pada saluran sumber air. Pada cekungan atau coakan tersebut diberi jeruji bersi yang dipasang secara berjajar ke samping atau ke atas. Jarak antar jeruji besi disesuaikan kebutuhan. Untuk menghindari masuknya hama ikan lele, pada sisi yang menghadap arah aliran air masuk dipasang saringan dengan kerapatan sesuai kebutuhan. Pemasangan saringan maupun jeruji besi ini juga berfungsi sebagai penahan sampah atau kotoran yang masuk ke dalam kolam.

Jeruji besi dapat diganti menggunakan kawat yang dianyam serta diberi bingkai bambu sebagai saringan. Pemasangan saringan pada pintu ini harus diberi patok di sisi dalam cekungan agar cukup kuat menahan aliran air atau sampah yang terangkut. Patok ini dipasang pada sisi tegak serta masing-masing dipasang minimal 2 patok berseberangan. Pada cekungan ini dapat pula dibuat cekungan lagi dengan posisi membujur searah dengan posisi tanggul untuk menancapkan saringan air.

Model pintu air lain yang juga cukup dikenal di masyarakat adalah pintu air sistem monik. Pintu air sistem monik ini dapat diaplikasikan untuk pintu pemasukan dan pintu pembuangan. Selain dapat mempermudah kegiatan pengurasan, pintu air sistem monik ini pun memiliki fungsi sangat besar, terutama untuk menjaga kualitas air agar tetap dalam kondisi baik.

Pintu air model monik dibuat secara permanen dari pasangan batu bata, dan bangunan utamanya dibuat mirip dengan pintu masuk pada tanggul permanen. Bedanya pada pintu model monik adalah celah penyekat dibuat lebih dari satu, dimana celah penyekat berfungsi untuk menempatkan papan-papan kayu yang disusun bertumpuk. Dengan cara ini, aliran air masuk maupun keluar dapat diatur. Demikian pula ketika melakukan pengurasan kolam untuk panen tidak perlu merusak pintu air, tetapi cukup melepas papan-papan penyekatnya saja. Untuk mengeluarkan sampah pun cukup dengan membuka salah satu potongan papan penyekat paling atas, sehingga tidak perlu masuk ke dalam kolam.

Membuat pintu monik pada tanggul tanah maupun permanen tidak berbeda. Pintu air ini berdiri tegak dari dasar kolam sampai permukaan tanggul.
Saringan pada pintu air model monik dipasang di bagian bawah pelapis kayu pada sekat sisi dalam atau bagian atas pelapis kayu sisi luar. Untuk mempermudah pengambilan sampah kolam dan menyumbat aliran air, sebaiknya saringan dipasang di bagian atas dari pintu air yang berada di sisi luar. Berbeda dengan pemasangan saringan pada pintu air dari bambu atau pipa PVC, saringannya dipasang di bagian depan sesuai arah aliran air.

Perangkat lain yang harus tersedia pada kolam ikan adalah caren atau kemalir. Caren merupakan saluran atau parit yang dibuat di dasar kolam dengan cara menggali tanah di dasar kolam dengan ukuran serta bentuk yang disesuaikan dengan ukuran dan bentuk konstruksi kolam. Dalam konstruksi kolam, caren memiliki fungsi mempermudah pemanenan atau penangkapan ikan saat melakukan kegiatan panen. Selain itu, tidak kalah pentingnya bahwa keberadaan caren ini sekaligus sebagai tempat penimbunan endapan lumpur maupun sisa-sisa pakan ikan serta sebagai pengatur sirkulasi air di dasar kolam ikan. Kebanyakan peternak ikan belum memahami fungsi teknis dari keberadaan caren ini sehingga mereka membuat caren atau kemalir secara sembarangan. Bahkan para ahli perikanan pun kebanyakan beranggapan bahwa pembuatan caren ini hanya berfungsi mempermudah penangkapan ikan saat dilakukan kegiatan panen.

Dari segi teknis, dalam konstruksi kolam ikan, caren merupakan saluran yang berperan sebagai penyambung fungsi pintu masuk air dengan saluran pembuangan. Salah satu ujung parit berfungsi sebagai muara pintu masuk air sedangkan ujung lainnya bermuara ke pintu pembuangan. Agar pembuatan caren tidak mengalami kesulitan saat dikerjakan di lahan, sebelumnya perlu dibuatkan gambar konstruksi terlebih dahulu. Bagaimana stuktur pintu masuk air serta bagaimana arah dan bentuk caren yang akan dibuat.

Untuk kolam ikan yang memiliki pintu pemasukan air lebih dari satu buah, maka jumlah caren yang dibutuhkan juga sama dengan jumlah pintu air tersebut. Caren dibuat dengan arah menyesuaikan keberadaan pintu air pada kolam ikan. Sementara itu, ukuran caren menyesuaikan ukuran kolam, kurang lebih 10% dari luas kolam. Berikut ini beberapa gambaran mengenai ukuran caren pada kolam ikan.
  • Untuk luas kolam 100 m², maka luas caren ideal adalah 5 m²
  • Untuk luas kolam1.000 m², maka luas caren ideal adalah 50 m²
  • Untuk luas kolam 10.000 m², maka luas caren ideal adalah 1.000 m²

No comments:

Post a Comment

Tanijogonegoro.com: Menyajikan Informasi Terbaik

LOGO TANIJOGONEGORO
TERIMA KASIH ATAS KUNJUNGANNYA
Tanijogonegoro On Google Plus