ULAT KUBIS (Plutella xylostella)

Ulat Kubis (Plutella xylostella) – Ulat kubis dikenal juga dengan sebutan diamondback moth atau cabbage moth. Bagi petani, hama ini tergolong sangat merugikan, kerusakan yang ditimbulkan bisa sangat tinggi. Bahkan di beberapa daerah, petani kubis sangat kesulitan mengendalikan hama ulat Plutella xylostella. Selain mudah resisten terhadap suatu jenis bahan aktif insektisida, ulat ini juga bisa bersembunyi di balik daun saat petani melakukan penyemprotan, sehingga bisa tidak terkena oleh kabut semprot. Menurut beberapa penelitian, ulat Plutella xylostella berasal dari daerah Mediterania Eropa Barat.

Klasifikasi Plutella xylostella
Kingdom : Animalia
Filum : Arthropoda
Kelas : Insecta
Ordo : Lepidoptera
Family : Plutellidae
Genus : Plutella
Spesies : Plutella xylostella

Telur diletakkan di bawah permukaan daun secara berkelompok maupun tunggal, dengan bentuk bulat oval yang berukuran 0,3-0,6 mm dan berwarna kuning. Telur akan menetas menjadi larva setelah berumur 2-4 hari.

Larva atau ulat teridiri atas 4 stadium berwarna hijau dan bergerak lincah. Larva yang baru menetas akan langsung menggerek daun kubis. Memasuki stadium atau instar kedua, ulat akan keluar dari dalam jaringan daun. Larva pada stadium 4, memiliki panjang tubuh optimal mencapai 10-12 mm. Ulat ini akan menjatuhkan diri ke tanah atau bergelantungan pada benang kelamat yang dikeluarkan saat menjatuhkan diri, bila merasa ada ancaman. Ulat kubis atau dikenal juga dengan ngengat tritip, akan melakukan aktivitasnya pada malam hari. Stadium larva biasanya berlangsung selama 9-12 hari kemudian larva akan berubah menjadi kepompong. Setelah berumur 4-7 hari, kempompong akan berubah menjadi ngengat.

Ngengat ulat kubis jantan memiliki sayap selebar kurang lebih 15 mm dengan panjang tubuh sekitar 6-10 mm, sedangkan ngengat betina tidak memiliki sayap. Seekor ngengat betina mampu menghasilkan telur mencapai 180-320 butir, dan kebanyakan akan bertelur mengelompok pada satu daun. Namun ada kalanya ngengat juga meletakkan telur bepindah-pindah ke daun yang lain.

Gejala Serangan Ulat Kubis (Plutella xylostella)
Larva pada instar pertama yang baru menetas akan menggerek dan masuk ke dalam jaringan daun, akibatnya jaringan daun akan kehilangan isinya, dan hanya tersisa jaringan epidermis saja. Jaringan daun yang telah dimakan akan menunjukkan gejala bercak-bercak putih. Serangan larva pada instar berikutnya dilakukan dari bagian luar, daun tampak berlubang-lubang serta luka-luka. Jika merasa terancam, ulat akan menjatuhkan diri ke tanah dan mengeluarkan benang kelamat untuk menyelamatkan diri. Sehingga ulat ini sangat sulit terkena kabut semprot saat petani melakukan penyemprotan pestisida.

Serangan parah di areal pertanaman terjadi pada saat kondisi suhu dan kelembaban tinggi. Pada kondisi tersebut, imago akan terangsang untuk berbiak, sehingga serangan berpotensi menimbulkan serangan berat. Jika terjadi kondisi serangan berat, petani akan kesulitan untuk mengendalikannya, sehingga resiko kerugian akan semakin besar.

Pengendalian Serangan Ulat Kubis (Plutella xylostella)




Pengendalian Mekanis

Pengendalian dengan cara mekanis dilakukan dengan memusnahkan ulat, serangga dewasa, maupun telur yang menempel pada tanaman. Tanaman yang terserang parah juga harus dimusnahkan. Buat perangkap dengan memasang alat yang bisa mengeluarkan cahaya, misalnya menggunakan obor. Nengat Plutella xylostella tertarik dengan cahaya pada malam hari.

Kultur Teknis

Pengendalian dengan cara kultur teknis bertujuan untuk memutus siklus hidup ulat kubis (Plutella xylostella). Biasanya cara ini dilakukan dengan penggiliran tanaman, pembalikan tanah lokasi pertanaman, dan pengeringan lahan.

Pengendalian Organik

Untuk mengendalikan ulat secara organik, dapat digunakan beberapa pestisida organik, misalnya dengan memanfaatkan akar atau batan tanaman tuba, umbi gadung, maupun daun nimba. Misalnya, jika menggunakan akar batang tuba, caranya dengan menumbuk akar atau batang tuba tersebut, kemudian direndam dalam air selama satu malam. Air rendaman tersebut disemprotkan pada tanaman. Selain itu, pengendalian secara organik juga dapat dilakukan dengan memanfaatkan agensia hayati, misalnya dengan aplikasi bakteri Bacillus thuringiensis.

Pengendalian Kimiawi

Pengendalian secara kimiawi dapat dilakukan dengan penyemprotan insektisida berbahan aktif klorantraniliprol, emamektin benzoat, beta siflutrin, tiametoksam, maupun klorfluazuran. Dosis atau konsentrasi larutan yang digunakan sesuai dengan rekomendasi yang tertera pada kemasan.

Demikian informasi terbaik yang dapat kami sajikan, semoga artikel Ulat Kubis (Plutella xylostella), bermanfaat bagi pembaca sekalian. Terima kasih atas kunjungannya, salam Tanijogonegoro.


TERIMA KASIH ATAS KUNJUNGANNYA
Tanijogonegoro On Google Plus