Erythricium salmonicolor (Cendawan Upas)

Erythricium salmonicolor atau lebih dikenal dengan istilah cendawan upas (jamur upas) sering menyerang tanaman-tanaman keras, seperti karet, mimosa hias, albasia, dll. Tingkat kerusakan yang ditimbulkan serangan cendawan ini tergolong sedang hingga berat. Pada serangan berat, bisa mengakibatkan tanaman mati. Selain dikenal dengan istilah cendawan upas, Erythricium salmonicolor juga dikenal dengan sebutan pink fungus desease. Hampir semua jenis tanaman berkayu dapat terserang oleh cendawan ini, termasuk kopi dan kakao. Bagian tanaman yang biasa terserang adalah batang, cabang, dan ranting. Cendawan ini mampu bertahan hidup dan berkembang pada daerah tropis hingga subtropis. Biasanya Erythricium salmonicolor menyerang tanaman pada kondisi lembab, dan kurang sinar matahari.

Klasifikasi Erythricium salmonicolor

Kingdom: Fungi
Phylum: Basidiomycota
Class: Basidiomycetes
Subclass: Agaricomycetidae
Order: Corticiales
Family: Corticiaceae
Genus: Erythricium
Species: Erythricium salmonicolor
Erythricium salmonicolor (Cendawan Upas)

Gejala Serangan

Gejala serangan Cendawan upas ditandai dengan munculnya bercak putih, terutama pada bagian batang yang lembab dan tidak terkena serangan matahari. Pada serangan awal, cendawan ini mengeluarkan miselium yang menyerupai benang-benang halus berwarna putih seperti sarang laba-laba. Lama-kelamaan miselium akan menyebar dan tumbuh menjadi kerak berwarna merah muda. Pada stadium ini, cendawan juga memproduksi spora tidak sempurna, dan permukaan kayu yang tertutup akan membusuk. Pada tanaman karet, lateks akan keluar menetes pada daerah yang terinfeksi, namun pada bagian kering akan memunculkan tunas-tunas baru. Cendawan yang berwarna merah muda lama kelamaan akan memucat dan berubah menjadi keputihan. Pada stadium lanjut, batang/dahan/ranting yang terserang akan mati. Jika serangan terjadi di pangkal batang, maka seluruh tanaman akan mati.

Penyebab

Kelembaban merupakan pemicu utama serangan cendawan upas (Erythricium salmonicolor), terutama jika kelembaban melebihi 80%. Hembusan angin dan percikan air dapat berperan membawa spora cendawan, dan menular kebagian lain pada tanaman.

Mengatasi Serangan Cendawan Upas

Secara teknis dapat mengurangi resiko serangan dengan menjaga kelembaban di sekitar tanaman, terutama jika tajuk terlalu rindang, maka perlu dilakukan pemangkasan agar sinar matahari bisa masuk dan sirkulasi udara lancar. Selain itu, jarak tanam juga harus dijaga, jangan terlalu rapat. Pada tanaman perkebunan, usahakan untuk menanam varietas yang tahan terhadap cendawan upas. Bagian tanaman yang sudah terlanjur terserang dipangkas dan buang dari area pertanaman, kemudian olesi bekas pangkasan tersebut menggunakan fungisida.

Secara kimiawi dapat dilakukan dengan mengoleskan bubur bordeaux, yaitu bubur yang dibuat dari campuran tembaga sulfat dan kapur. Cara membuat bubur bordeaux cukup mudah, campurkan 1 kg tembaga sulfat dan 1,25 kg kapur, kemudian tambahkan air sebanyak 100 liter, aduk hingga rata. Oleskan bubur tersebut pada permukaan batang yang terserang. Sebaiknya batang dikerok terlebih dahulu sebelum pengolesan. Untuk tanaman karet, sebaiknya bubur bordeaux digunakan pada 6 bulan sebelum masa sadap, karena kandungan tembaga yang tinggi dapat merusak lateks. Jika sudah memasuki masa sadap, sebaiknya gunakan fungisida lain, misalnya fungisida berbahan aktif tridemorf. Lihat Petunjuk Aplikasi Pestisida dan Daftar Bahan Aktif Pestisida.


TERIMA KASIH ATAS KUNJUNGANNYA
Tanijogonegoro On Google Plus