Ulat Kubis (Plutella xylostella)

Ulat Kubis (Plutella xylostella) merupakan hama utama pada taman kubis dengan tingkat serangan mulai dari sedang hingga berat. Pada serangan berat bisa mengakibatkan kerugian yang sangat signifikan, terutama menurunnya kualitas produksi. Ilat ini dikenal juga dengan nama Ulat Tritip, dan menjadi salah satu hama yang paling ditakuti oleh petani kubis. Ulat berukuran kecil ini biasanya bersembunyi di balik daun, dan menyerang jaringan daun sehingga jaringan daun kosong, hanya tersisa epidermis saja. Daun yang terserang ditandai dengan bercak-bercak putih.

Gejala Serangan

Gejala serangan dapat diketahui melalui kelainan fisiologis pada daun, dimana terdapat bercak putih akibat jaringan daun kehilangan isinya. Serangan berat membuat daun tidak mampu melakukan proses fotosintesis, sehingga pertumbuhan tanaman bisa terhambat.

Penyebab Serangan Ulat Kubis (Plutella xylostella)

Serangan berat hama utama pada tanaman kubis ini dipicu oleh suhu dan kelembaban udara tinggi. Pada kondisi tersebut, serangga dewasa akan terangsang untuk kawin dan berkembang biak. Imago akan menghasilkan telur, yang kemudian menetas dan berubah menjadi larva. Pada instar satu, larva akan menggorok dan memakan bagian dalam jaringan daun. Pada instar berikutnya, larva akan memakan dan membuat lubang pada daun. Daun yang terluka berpotensi terserang penyakit sekunder, yang disebabkan oleh cendawan maupun bakteri.
Ulat Kubis Plutella xylostella
Di dataran rendah, kurang lebih pada ketinggian 100-80 meter di atas permukaan laut, daur hidup ulat ini lebih pendek dibanding dengan dataran tinggi, di atas 100 mdpl. Nengat betina tanpa sayap akan bertelur pada satu atau beberapa daun secara mengelompok. 2-4 hari akan menetas dan berubah menjadi larva. Setelah 9-12 hari, larva berubah menjadi kepompong atau pupa, kemudian menjadi ngengat dewasa dalam 4-7 hari. Ngengat jantan bersayap, sedangkan ngengat betina tidak bersayap, dan akan bertelur dalam waktu 7-20 hari.

Upaya Pengendalian Serangan Ulat Kubis (Plutella xylostella)

Secara teknis budidaya, serangan ulat ini dapat dikendalikan dengan memutus siklus hidupnya, yaitu dengan penggiliran atau rotasi tanaman. Selain itu, petani juga bisa mengamati tanaman secara manual dan memusnahkan telur, ulat, dan serangga dewasa. Buat perangkap bercahaya, misalnya menggunakan obor, karena ngengat tertarik dengan cahaya pada malam hari.

Pengendalian secara kimiawi dapat dilakukan dengan penyemprotan rutin menggunakan insektisida. Namun perlu diingat, bahwa ulat ini mudah sekali resisten terhadap bahan aktif pestisida, sehingga diusahakan melakukan menggantian bahan aktif setiap kali melakukan penyemprotan. Beberapa pilihan bahan aktif yang bisa digunakan antara lain deltametrin, betasiflutrin, emamektin benzoat, klorantaniliprol, tiametoksam, klorfluazuran, dan fipronil. Lihat Petunjuk Aplikasi Pestisida dan Daftar Bahan Aktif Pestisida.


TERIMA KASIH ATAS KUNJUNGANNYA
Tanijogonegoro On Google Plus